Kamis, 09 Oktober 2025

Memberitakan Injil dengan Sepenuh Hati – Fanuriagö Turia Somuso Dödö Soroi Dödö (Roma 1:8-15)

Bahan Khotbah Minggu, 12 Oktober 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

8 Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.
9 Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu:
10 Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.
11 Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu,
12 yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.
13 Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu--tetapi hingga kini selalu aku terhalang--agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.
14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.
15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

Surat Paulus kepada jemaat di Roma merupakan salah satu karya teologis yang paling dalam dan kaya dalam seluruh Perjanjian Baru. Namun di balik kedalaman teologinya, ada sesuatu yang sangat manusiawi dan hangat dalam bagian pembuka surat ini. Dalam Roma 1:8–15, kita melihat bukan hanya rasul besar yang berbicara dengan argumentasi yang kokoh, tetapi juga seorang gembala dan sahabat yang tulus, yang hatinya penuh dengan kasih, syukur, dan kerinduan yang dalam kepada umat Allah.

Paulus memulai dengan ungkapan syukur: “Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus karena kamu semua, sebab kabar tentang imanmu diberitakan di seluruh dunia.” Ungkapan ini menunjukkan hati seorang rasul yang bukan berpusat pada dirinya, tetapi pada karya Allah di antara umat-Nya. Ia bersyukur bukan karena pelayanan pribadinya diakui, melainkan karena iman jemaat Roma telah menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia. Bagi Paulus, kabar tentang iman orang lain adalah alasan untuk bersyukur, bukan untuk iri atau bersaing. Ia tidak memandang pelayanan sebagai panggung kompetisi, melainkan sebagai ladang di mana Allah menumbuhkan hasil melalui siapa pun yang dipakai-Nya.

Rasa syukur itu segera diikuti oleh pernyataan yang menyentuh: Paulus mengatakan bahwa ia “senantiasa menyebut mereka dalam doa.” Betapa indahnya melihat seorang rasul yang besar dalam teologi, namun juga lembut dalam doa. Bagi Paulus, doa bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan ekspresi kasih dan kepedulian sejati. Ia menyebut jemaat Roma dalam doanya bahkan sebelum ia bertemu langsung dengan mereka. Di sinilah kita melihat model pelayanan yang sejati, pelayanan yang dimulai dari doa, bukan dari ambisi; pelayanan yang didorong oleh kasih, bukan oleh kebutuhan akan pengakuan.

Paulus kemudian menyatakan kerinduannya yang mendalam untuk berjumpa dengan mereka. Ia ingin memberikan karunia rohani kepada mereka agar mereka diteguhkan dalam iman. Tetapi ia segera menambahkan sesuatu yang menunjukkan kerendahan hatinya: ia tidak hanya ingin memberi, tetapi juga ingin menerima, “supaya aku dikuatkan bersama-sama dengan kamu oleh iman kita, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” Ini adalah pengakuan bahwa dalam persekutuan orang percaya, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setiap orang, termasuk rasul, membutuhkan penguatan dari iman saudara-saudari seiman. Pelayanan sejati selalu bersifat timbal balik: yang satu meneguhkan yang lain, dan semuanya tumbuh bersama dalam Kristus.

Namun kerinduan Paulus bukan hanya emosional atau personal. Ia adalah kerinduan yang berakar pada panggilan misioner. Dalam ayat 13–15, Paulus menyingkapkan motivasi terdalamnya: ia ingin memberitakan Injil juga kepada mereka yang di Roma, sebagaimana ia telah melakukannya di antara bangsa-bangsa lain. Ia ingin menghasilkan buah, bukan hanya di tempat-tempat yang sudah mengenal Injil, tetapi juga di pusat dunia saat itu — Roma, ibu kota kekaisaran. Dengan kata lain, kerinduan Paulus bukanlah nostalgia atau sekadar ingin berjumpa dengan teman lama, melainkan hasrat untuk melihat Injil Kristus menjangkau semua orang, tanpa batas geografis maupun sosial.

Kerinduan ini lahir dari kesadaran mendalam akan panggilan dan utang kasih Injil. Ia berkata, “Aku berhutang kepada orang Yunani dan orang bukan Yunani, kepada orang terpelajar dan orang tidak terpelajar.” Paulus menyadari bahwa kasih karunia yang diterimanya tidak boleh berhenti padanya. Injil yang menyelamatkan dia adalah Injil yang harus dibagikan kepada semua orang. Karena itu, ia merasa wajib, bukan karena paksaan, tetapi karena kasih Kristus yang menggerakkannya dari dalam. Ia bukan berhutang karena dosa, melainkan karena kasih karunia yang diterimanya terlalu besar untuk disimpan sendiri.

Bagian ini mengajarkan kepada kita tiga hal penting tentang hakikat pelayanan dan kehidupan rohani. Pertama, pelayanan yang sejati selalu lahir dari hati yang bersyukur. Syukur kepada Allah atas karya-Nya di antara umat akan menjaga kita dari sikap iri, kecewa, dan kering rohani. Ketika kita belajar bersyukur atas iman orang lain, kita sedang ikut membangun tubuh Kristus dengan sukacita. Kedua, pelayanan yang sejati dipelihara oleh doa. Tanpa doa, pelayanan menjadi aktivitas kosong yang cepat lelah dan mudah goyah. Doa menjaga motivasi kita tetap murni, mengingatkan kita bahwa kita hanyalah alat di tangan Allah. Ketiga, pelayanan yang sejati digerakkan oleh kerinduan untuk memberitakan Injil, bukan demi prestise, melainkan demi kasih kepada sesama yang belum mengenal Kristus.

Jika kita menatap kehidupan gereja masa kini, sering kali semangat seperti Paulus ini mulai pudar. Banyak pelayan gereja lebih sibuk menjaga posisi daripada menabur Injil; lebih sibuk mempertahankan kenyamanan daripada menjangkau yang belum percaya. Kita perlu kembali diingatkan bahwa panggilan setiap orang percaya adalah untuk menjadi saksi Kristus di manapun ia ditempatkan, baik di tengah keluarga, pekerjaan, sekolah, maupun masyarakat. Kerinduan Paulus untuk pergi ke Roma seharusnya membakar semangat kita untuk pergi ke “Roma-Roma” kecil di sekitar kita: ke orang-orang yang jauh dari gereja, ke mereka yang kehilangan harapan, ke yang belum mengenal kasih Allah yang sejati.

Pada akhirnya, bagian ini meneguhkan bahwa pelayanan sejati bukanlah tentang seberapa besar kita dikenal, tetapi seberapa tulus kita mengasihi. Paulus tidak menulis kepada jemaat Roma untuk menunjukkan otoritasnya, melainkan untuk membagikan kasih dan pengharapan. Ia adalah contoh hamba Tuhan yang besar karena hatinya kecil, rendah hati, lembut, dan penuh kasih. Di dalam dirinya, kerinduan bertemu dengan panggilan; kasih bertemu dengan misi; dan iman bertemu dengan tindakan.

Kiranya firman Tuhan hari ini menyalakan kembali di dalam diri kita kerinduan yang sama: kerinduan untuk bersyukur, berdoa, dan melayani dengan kasih yang murni. Seperti Paulus, marilah kita berkata: “Aku ingin memberitakan Injil juga kepada kamu yang diam di Roma.” Sebab di manapun ada manusia yang membutuhkan kasih Allah, di situlah tempat kita diutus. Tuhanlah yang memanggil, Tuhanlah yang menuntun, dan Tuhan jugalah yang akan memberikan buah pada waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yesus Bangkit pada Hari Ketiga – Maoso Yesu ba Ngaluo Sitölu (1 Korintus 15:1-11)

Bahan Khotbah Minggu Paskah I, 05 April 2026 Disiapkan oleh: pdt. Alokasih Gulo 1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan k...