Bahan Khotbah Minggu Pentakosta I, 24 Mei 2026
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo
4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.
11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Hari ini kita merayakan Pentakosta, hari turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid Tuhan Yesus. Pentakosta bukan sekadar peringatan sejarah gereja. Pentakosta adalah peristiwa iman yang terus berbicara kepada gereja sampai hari ini. Pada hari Pentakosta, para murid yang sebelumnya takut, tertutup, dan tidak berani bersaksi, diubah oleh kuasa Roh Kudus menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Roh Kudus turun bukan untuk membuat mereka merasa hebat, melainkan untuk memperlengkapi mereka melayani dan bersaksi tentang Yesus Kristus.
Dalam terang itulah kita membaca 1 Korintus 12:3-11. Rasul Paulus menulis bagian ini kepada jemaat di Korintus, sebuah jemaat yang kaya dengan karunia rohani, tetapi juga penuh dengan persoalan. Mereka memiliki banyak kemampuan, banyak pengalaman rohani, banyak potensi pelayanan, tetapi karunia-karunia itu justru mulai menjadi sumber kesombongan dan perpecahan. Sebagian orang merasa lebih rohani daripada yang lain. Sebagian karunia dianggap lebih tinggi, lebih penting, lebih bergengsi. Maka Paulus menegur mereka: karunia itu memang beragam, tetapi Roh yang memberikannya adalah satu.
Tema kita hari ini adalah: Ragam Karunia dalam Satu Roh. Tema ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus bekerja dengan cara yang kaya dan beragam di tengah jemaat. Namun keberagaman itu bukan untuk memisahkan, melainkan untuk mempersatukan. Bukan untuk saling meninggikan diri, melainkan untuk saling membangun.
Paulus memulai dengan satu dasar penting: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.” Ini berarti pekerjaan Roh Kudus selalu membawa orang kepada pengakuan yang benar tentang Kristus. Roh Kudus tidak pernah bekerja terpisah dari Yesus. Roh Kudus tidak pernah memuliakan manusia lebih daripada Kristus. Roh Kudus tidak menjadikan karunia sebagai pusat perhatian. Pusat pekerjaan Roh adalah Yesus Kristus.
Ini penting bagi kita, sebab kadang-kadang orang lebih tertarik pada tanda-tanda rohani daripada pada Kristus sendiri. Orang kagum kepada pengkhotbah, penyanyi, pemimpin pujian, pendoa, pelayan, atau orang-orang yang tampak memiliki karunia luar biasa. Tetapi Paulus mengingatkan: ukuran utama kehidupan rohani bukanlah seberapa hebat karunia seseorang, melainkan apakah hidupnya membawa orang kepada pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan.
Karunia tanpa Kristus akan menjadi panggung kesombongan. Pelayanan tanpa Kristus akan menjadi alat mencari pujian. Keaktifan di gereja tanpa Kristus akan menjadi rutinitas kosong. Karena itu, dalam perayaan Pentakosta ini, kita diajak untuk kembali bertanya: apakah karunia, pelayanan, dan hidup kita sungguh-sungguh memuliakan Kristus?
Selanjutnya Paulus berkata: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” Di sini Paulus menyebut tiga hal: karunia, pelayanan, dan perbuatan. Karunia adalah pemberian Allah. Pelayanan adalah cara karunia itu dipakai. Perbuatan adalah karya Allah yang bekerja melalui manusia.
Paulus ingin menegaskan bahwa perbedaan dalam jemaat bukanlah kesalahan. Perbedaan adalah rancangan Allah. Tidak semua orang harus memiliki karunia yang sama. Tidak semua orang harus melayani dengan cara yang sama. Tidak semua orang harus terlihat di depan. Ada yang melayani melalui perkataan. Ada yang melayani melalui doa. Ada yang melayani melalui hikmat. Ada yang melayani melalui tenaga. Ada yang melayani melalui kesabaran mendampingi orang lain. Ada yang melayani melalui kepemimpinan. Ada yang melayani melalui kemurahan hati. Ada yang melayani dengan setia melakukan hal-hal kecil yang sering tidak dilihat orang.
Gereja tidak dibangun oleh satu jenis karunia saja. Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup karena setiap anggota mengambil bagian. Bila semua ingin menjadi mulut, siapa yang akan mendengar? Bila semua ingin menjadi tangan, siapa yang akan berjalan? Bila semua ingin tampil di depan, siapa yang akan mengerjakan pelayanan tersembunyi yang menopang kehidupan jemaat?
Pentakosta mengingatkan kita bahwa Roh Kudus tidak turun hanya kepada satu orang, tetapi kepada komunitas murid-murid. Roh Kudus tidak bekerja untuk menciptakan bintang-bintang rohani, tetapi untuk membentuk tubuh Kristus. Dalam tubuh itu, setiap orang penting. Anak-anak muda penting. Orang tua penting. Laki-laki dan perempuan penting. Mereka yang pandai berbicara penting, tetapi mereka yang diam dan setia bekerja juga penting. Mereka yang terlihat di mimbar penting, tetapi mereka yang membersihkan ruangan, menyiapkan konsumsi, mengatur kursi, mengunjungi orang sakit, dan mendoakan jemaat dalam kesunyian juga penting.
Ayat 7 menjadi kunci: “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” Perhatikan kalimat ini: untuk kepentingan bersama. Inilah tujuan karunia Roh. Karunia tidak diberikan untuk kepentingan pribadi. Karunia tidak diberikan supaya seseorang merasa lebih tinggi. Karunia tidak diberikan supaya seseorang menguasai jemaat. Karunia diberikan supaya jemaat dibangun.
Maka pertanyaan penting bagi kita bukan hanya, “Apa karuniaku?” tetapi juga, “Untuk siapa karunia itu kupakai?” Apakah untuk membangun tubuh Kristus, atau untuk membangun nama sendiri? Apakah untuk melayani sesama, atau untuk mencari pengakuan? Apakah untuk memperkuat persekutuan, atau justru membuat perpecahan?
Jemaat Korintus memiliki masalah karena mereka membanding-bandingkan karunia. Karunia tertentu dianggap lebih hebat. Karunia yang tampak luar biasa dianggap lebih rohani. Tetapi Paulus menolak cara berpikir itu. Ia menyebut berbagai karunia: hikmat, pengetahuan, iman, penyembuhan, mujizat, nubuat, membedakan roh, bahasa roh, dan menafsirkan bahasa roh. Daftar ini menunjukkan kekayaan pekerjaan Roh Kudus. Namun Paulus tidak menyusun daftar itu untuk membuat tingkatan, seolah-olah yang satu lebih mulia daripada yang lain. Semua berasal dari Roh yang sama.
Dalam kehidupan gereja masa kini, bahaya yang sama masih ada. Kita bisa tergoda menilai pelayanan berdasarkan apa yang tampak besar. Kita memuji yang terlihat, tetapi melupakan yang tersembunyi. Kita menghargai yang bersuara keras, tetapi mengabaikan yang bekerja diam-diam. Kita menganggap pelayanan mimbar lebih penting daripada pelayanan kasih. Padahal di mata Tuhan, yang penting bukan seberapa terlihat pelayanan itu, melainkan apakah pelayanan itu dilakukan dalam kasih, kesetiaan, dan ketaatan kepada Roh Kudus.
Roh Kudus memberi karunia yang berbeda-beda karena kebutuhan jemaat juga berbeda-beda. Ada saatnya jemaat membutuhkan pengajaran yang benar. Ada saatnya jemaat membutuhkan penghiburan. Ada saatnya jemaat membutuhkan teguran. Ada saatnya jemaat membutuhkan pelayanan kasih. Ada saatnya jemaat membutuhkan orang-orang yang mampu mendamaikan. Ada saatnya jemaat membutuhkan orang-orang yang kuat berdoa. Ada saatnya jemaat membutuhkan orang-orang yang berani bersaksi. Semua itu adalah karya Roh dalam tubuh Kristus.
Karena itu, Pentakosta bukan hanya tentang api yang turun, tetapi juga tentang hati yang dibakar untuk melayani. Pentakosta bukan hanya tentang bahasa-bahasa yang diucapkan, tetapi juga tentang kesediaan untuk memahami dan merangkul sesama. Pentakosta bukan hanya tentang kuasa, tetapi tentang kasih yang mengarahkan kuasa itu kepada kebaikan bersama.
Di akhir bagian ini, Paulus berkata bahwa semuanya dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus seperti yang dikehendaki-Nya. Ini berarti Roh Kudus bebas bekerja. Kita tidak dapat memaksa Roh untuk memberi karunia tertentu kepada kita. Kita juga tidak boleh iri terhadap karunia orang lain. Tugas kita adalah menerima dengan syukur apa yang Tuhan percayakan, lalu memakainya dengan setia.
Iri hati dalam pelayanan sering muncul ketika kita lupa bahwa karunia adalah anugerah. Kalau karunia adalah anugerah, maka tidak ada alasan untuk sombong. Kalau karunia adalah anugerah, maka tidak ada alasan untuk iri. Yang memiliki banyak tidak boleh merendahkan yang sedikit. Yang memiliki karunia tertentu tidak boleh menghina yang berbeda. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk berkata: “Tuhan, apa pun yang Engkau berikan kepadaku, pakailah itu untuk membangun jemaat-Mu.”
Pada perayaan Pentakosta ini, marilah kita membuka diri bagi karya Roh Kudus. Gereja membutuhkan Roh Kudus, bukan hanya program. Gereja membutuhkan Roh Kudus, bukan hanya organisasi. Gereja membutuhkan Roh Kudus, bukan hanya kemampuan manusia. Tanpa Roh Kudus, pelayanan menjadi kering. Tanpa Roh Kudus, karunia menjadi kesombongan. Tanpa Roh Kudus, perbedaan menjadi perpecahan. Tetapi dengan Roh Kudus, yang lemah dikuatkan, yang takut diberanikan, yang berbeda dipersatukan, dan yang biasa dipakai Tuhan menjadi alat anugerah.
Marilah kita berhenti membanding-bandingkan diri. Marilah kita berhenti meremehkan karunia orang lain. Marilah kita juga berhenti mengubur karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Mungkin kita merasa kecil, tidak mampu, tidak sepandai orang lain, tidak sepandai berbicara, tidak terlihat. Tetapi Roh Kudus sanggup memakai setiap orang yang menyerahkan diri kepada-Nya.
Yang Tuhan cari bukan orang yang paling hebat, melainkan orang yang bersedia dipakai. Yang Tuhan kehendaki bukan gereja yang penuh persaingan, melainkan gereja yang saling melengkapi. Yang Tuhan bangun bukan panggung bagi manusia, melainkan tubuh Kristus yang hidup, melayani, dan bersaksi.
Kiranya Roh Kudus menolong kita melihat bahwa karunia kita berbeda-beda, tetapi sumbernya satu. Pelayanan kita bermacam-macam, tetapi Tuhannya satu. Karya kita beragam, tetapi Allah yang mengerjakannya adalah satu. Maka biarlah semua karunia, semua pelayanan, dan semua karya kita mengarah kepada satu tujuan: memuliakan Yesus Kristus dan membangun jemaat-Nya. Amin.