Bahan Khotbah Minggu, 10 Mei 2026
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo
9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,
10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,
12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.
Hari ini kita merayakan Minggu Rogate. Kata Rogate berasal dari bahasa Latin yang berarti “berdoalah” atau “mintalah.” Minggu ini mengingatkan gereja bahwa hidup orang percaya tidak dapat dipisahkan dari doa. Doa bukan hanya kegiatan tambahan dalam hidup Kristen. Doa adalah napas iman. Doa adalah tanda bahwa kita bergantung kepada Allah. Doa adalah cara umat Tuhan berdiri di tengah dunia yang penuh tekanan, godaan, ketakutan, dan perubahan.
Namun, ketika kita berbicara tentang doa, sering kali yang muncul dalam pikiran kita adalah permintaan: Tuhan, sembuhkan aku; Tuhan, tolong keluargaku; Tuhan, berkatilah pekerjaanku; Tuhan, lindungilah anak-anakku; Tuhan, bukalah jalan untuk masa depanku. Semua itu tidak salah. Tuhan mengundang kita untuk membawa seluruh kebutuhan kita kepada-Nya. Tetapi Kolose 1:9-14 memperlihatkan kepada kita bahwa doa orang percaya tidak berhenti pada kebutuhan jasmani atau keinginan pribadi. Doa juga harus menyentuh bagian terdalam dari hidup kita: supaya kita mengenal kehendak Allah, hidup layak di hadapan Tuhan, bertumbuh dalam pekerjaan baik, kuat menghadapi pergumulan, dan bersyukur atas keselamatan di dalam Kristus.
Rasul Paulus berkata kepada jemaat Kolose, “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu.” Paulus mendengar tentang iman dan kasih jemaat Kolose. Ia mendengar bahwa Injil sudah berbuah di tengah mereka. Tetapi justru karena itu Paulus tidak berhenti berdoa. Ini menarik. Paulus tidak berkata, “Karena kamu sudah percaya, maka saya tidak perlu lagi berdoa untuk kamu.” Tidak. Sebaliknya, karena mereka sudah percaya, Paulus semakin berdoa bagi mereka.
Di sini kita belajar bahwa doa bukan hanya untuk orang yang sedang jatuh, sakit, gagal, atau dalam bahaya. Doa juga dibutuhkan oleh orang yang sedang bertumbuh. Jemaat yang baik tetap membutuhkan doa. Keluarga yang baik tetap membutuhkan doa. Pelayan gereja yang rajin tetap membutuhkan doa. Orang muda yang setia tetap membutuhkan doa. Pendeta, majelis, guru sekolah minggu, orang tua, anak-anak, semua membutuhkan doa. Mengapa? Karena iman yang hidup harus terus dipelihara. Kasih yang sudah tumbuh harus terus dikuatkan. Pengharapan yang sudah ada harus terus dijaga.
Paulus berdoa agar jemaat Kolose “dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Allah dalam segala hikmat dan pengertian rohani.” Inilah isi pertama dari doa Paulus: agar jemaat mengenal kehendak Allah. Bukan sekadar tahu banyak hal tentang agama. Bukan sekadar pandai berbicara tentang ayat Alkitab. Bukan sekadar memiliki pengalaman rohani yang mengesankan. Paulus berdoa agar mereka sungguh-sungguh memahami apa yang Allah kehendaki.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertanya: apa yang saya mau? Apa yang menguntungkan saya? Apa yang membuat saya nyaman? Apa yang membuat saya dihargai orang? Tetapi doa Kristen mengubah arah pertanyaan itu: Tuhan, apa kehendak-Mu? Apa yang berkenan kepada-Mu? Bagaimana aku harus hidup di hadapan-Mu?
Inilah doa yang sangat penting bagi gereja masa kini. Kita hidup di tengah banyak suara. Suara media sosial, suara budaya, suara politik, suara ekonomi, suara ambisi pribadi, suara ketakutan, suara gengsi, suara iri hati. Semua suara itu bisa membentuk cara kita berpikir. Karena itu kita harus tetap berdoa: “Tuhan, penuhilah kami dengan pengetahuan akan kehendak-Mu.” Tanpa doa seperti ini, kita mudah terseret oleh kehendak dunia, lalu mengira itu sebagai kehendak Tuhan.
Paulus melanjutkan, tujuan dari mengenal kehendak Allah adalah “supaya hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal.” Pengetahuan yang benar harus menghasilkan hidup yang benar. Doa yang sejati harus melahirkan ketaatan. Orang yang sungguh-sungguh berdoa tidak hanya meminta Tuhan mengikuti kemauannya, tetapi juga membuka diri untuk mengikuti kemauan Tuhan.
Di sini kita perlu jujur. Banyak kali kita berdoa supaya Tuhan mengubah keadaan, tetapi kita tidak mau Tuhan mengubah hati kita. Kita berdoa supaya Tuhan memberkati keluarga, tetapi kita tidak mau belajar mengampuni di dalam keluarga. Kita berdoa supaya Tuhan memberkati pekerjaan, tetapi kita tidak mau bekerja dengan jujur. Kita berdoa supaya Tuhan memulihkan gereja, tetapi kita tidak mau membuang iri hati, perpecahan, dan kesombongan. Kita berdoa supaya Tuhan menolong anak-anak muda, tetapi kita tidak sungguh-sungguh mendampingi dan mengasihi mereka.
Paulus mengingatkan: doa bukan pelarian dari tanggung jawab. Doa membawa kita masuk ke dalam hidup yang berkenan kepada Tuhan. Doa membuat kita berbuah dalam segala pekerjaan baik. Artinya, orang yang berdoa harus terlihat buahnya: dalam perkataan, dalam sikap, dalam pelayanan, dalam pekerjaan, dalam keluarga, dalam cara memakai uang, dalam cara memperlakukan sesama.
Pada Minggu Rogate ini, kita diajak memeriksa diri. Apakah doa kita menghasilkan buah? Apakah setelah berdoa kita menjadi lebih sabar? Apakah setelah berdoa kita lebih rendah hati? Apakah setelah berdoa kita lebih peduli kepada orang lain? Apakah setelah berdoa kita lebih setia dalam pelayanan? Apakah setelah berdoa kita lebih berani melakukan yang benar?
Selanjutnya Paulus berdoa agar jemaat “dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.” Ini bagian yang sangat menghibur. Paulus tidak berdoa agar jemaat Kolose selalu bebas dari masalah. Ia tidak berdoa agar semua kesulitan langsung hilang. Ia berdoa agar mereka dikuatkan untuk tekun dan sabar.
Kadang-kadang kita mengira jawaban doa selalu berarti masalah selesai. Tetapi firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa jawaban doa juga bisa berarti: Tuhan memberi kekuatan untuk bertahan. Tuhan memberi kesabaran untuk menjalani proses. Tuhan memberi ketekunan untuk tetap setia meskipun keadaan belum berubah.
Ada orang yang berdoa bertahun-tahun untuk keluarganya. Ada orang tua yang terus berdoa untuk anaknya. Ada jemaat yang terus berdoa untuk kesembuhan. Ada pelayan yang terus berdoa untuk gerejanya. Ada orang muda yang terus berdoa dalam pergumulan masa depan. Kadang jawaban Tuhan tidak datang secepat yang kita mau. Tetapi firman Tuhan berkata: tetap berdoa. Sebab ketika kita berdoa, Tuhan sedang menguatkan kita. Ketika kita berdoa, Tuhan sedang membentuk ketekunan. Ketika kita berdoa, Tuhan sedang mengajar kita sabar.
Jemaat Kolose hidup di tengah tekanan ajaran-ajaran lain. Ada orang-orang yang menawarkan jalan rohani tambahan: aturan-aturan, pengalaman khusus, penghormatan kepada kuasa-kuasa tertentu. Mereka mungkin membuat jemaat merasa kurang rohani, kurang lengkap, kurang aman. Tetapi Paulus mengarahkan jemaat bukan kepada ketakutan, melainkan kepada kuasa Allah. Mereka tidak perlu mencari kekuatan dari kuasa gelap, roh-roh, malaikat, atau praktik-praktik lain. Kekuatan mereka datang dari Allah sendiri.
Itulah sebabnya Paulus kemudian mengajak mereka mengucap syukur kepada Bapa. “Mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Doa Kristen tidak hanya berisi permintaan, tetapi juga syukur. Bahkan syukur adalah tanda bahwa kita mengingat karya Allah.
Kita bersyukur bukan karena hidup selalu mudah. Kita bersyukur karena Bapa telah melayakkan kita. Kita yang tidak layak telah dilayakkan oleh kasih karunia. Kita yang dahulu jauh telah dibawa dekat. Kita yang dahulu hidup dalam gelap telah diberi bagian dalam terang. Keselamatan bukan hasil usaha kita, bukan hasil kesalehan kita, bukan hasil pengetahuan kita, tetapi pemberian Allah.
Paulus berkata, Allah “telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih.” Ini berita Injil yang sangat kuat. Dalam Kristus, kita tidak lagi berada di bawah kuasa gelap. Kita sudah dipindahkan ke dalam kerajaan Anak Allah. Kita bukan lagi milik ketakutan. Kita bukan lagi milik dosa. Kita bukan lagi milik kuasa yang memperbudak. Kita adalah milik Kristus.
Karena itu, ketika kita berdoa, kita tidak berdoa sebagai orang asing. Kita berdoa sebagai warga kerajaan Anak. Kita berdoa sebagai anak-anak yang sudah ditebus. Kita datang kepada Bapa bukan dengan ketakutan, tetapi dengan iman. Kita datang bukan karena kita layak oleh diri sendiri, tetapi karena Kristus telah menebus kita.
Ayat 14 menutup bagian ini dengan indah: “di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” Inilah dasar terdalam dari doa Kristen. Kita dapat berdoa karena di dalam Kristus kita telah ditebus. Kita dapat datang kepada Allah karena dosa kita diampuni. Kita dapat memohon, menangis, bersyukur, dan berharap karena jalan kepada Bapa telah dibuka oleh Kristus.
Tema kita hari ini adalah “Tetap Berdoa.” Tetap berdoa bukan berarti mengulang kata-kata tanpa iman. Tetap berdoa berarti terus hidup dalam ketergantungan kepada Allah. Tetap berdoa berarti terus mencari kehendak-Nya. Tetap berdoa berarti membiarkan Tuhan membentuk hidup kita. Tetap berdoa berarti tetap setia ketika jawaban belum datang. Tetap berdoa berarti tetap bersyukur karena kita sudah ditebus.
Maka pada Minggu Rogate ini, marilah kita memperbarui kehidupan doa kita. Doakanlah keluarga kita, tetapi juga doakan agar keluarga kita hidup layak bagi Tuhan. Doakanlah gereja kita, tetapi juga doakan agar gereja kita berbuah dalam pekerjaan baik. Doakanlah anak-anak muda, tetapi juga doakan agar mereka mengenal kehendak Allah di tengah perubahan zaman. Doakanlah orang sakit dan susah, tetapi juga doakan agar mereka dikuatkan dengan ketekunan dan kesabaran. Doakanlah diri kita sendiri, bukan hanya agar Tuhan memberi apa yang kita inginkan, tetapi agar Tuhan membentuk kita menjadi umat yang berkenan kepada-Nya.
Tetaplah berdoa, karena Allah mendengar. Tetaplah berdoa, karena Kristus telah menebus kita. Tetaplah berdoa, karena Roh Allah menolong kita. Tetaplah berdoa, karena kita sudah dipindahkan dari kuasa gelap ke dalam kerajaan Anak-Nya yang kekasih.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar