Bahan khotbah Minggu, 03 Mei 2026
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo
1 Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN yang berbunyi: "Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.
2 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.
3 TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya.
4 Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut; para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau.
5 Samudera raya menutupi mereka; ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu.
6 Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, TUHAN, menghancurkan musuh.
7 Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menentang Engkau; Engkau melepaskan api murka-Mu, yang memakan mereka sebagai tunggul gandum.
8 Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut.
9 Kata musuh: Aku akan mengejar, akan mencapai mereka, akan membagi-bagi jarahan; nafsuku akan kulampiaskan kepada mereka, akan kuhunus pedangku; tanganku akan melenyapkan mereka!
10 Engkau meniup dengan taufan-Mu, lautpun menutupi mereka; sebagai timah mereka tenggelam dalam air yang hebat.
11 Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?
12 Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu; bumipun menelan mereka.
13 Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.
14 Bangsa-bangsa mendengarnya, merekapun menggigil; kegentaran menghinggapi penduduk tanah Filistin.
Setiap orang memiliki lagu yang melekat pada ingatannya. Ada lagu yang mengingatkan kita pada rumah, keluarga, masa kecil, perjuangan, bahkan air mata. Sebuah lagu dapat menyimpan sejarah. Ia bukan hanya rangkaian nada, tetapi wadah ingatan. Itulah yang terjadi dalam Keluaran 15. Setelah Israel keluar dari Mesir, setelah mereka dikejar oleh pasukan Firaun, setelah laut terbuka dan mereka menyeberang dengan selamat, setelah musuh yang menindas mereka tenggelam di hadapan mata mereka, Musa dan orang Israel menyanyi.
Mereka menyanyi. Mengapa? Karena keselamatan yang besar menuntut pujian yang besar. Ketika Allah bertindak, umat Allah tidak boleh diam. Maka Keluaran 15 dibuka dengan kalimat, “Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.”
Nyanyian ini lahir dari sejarah yang pahit. Mereka baru saja keluar dari rumah perbudakan. Dalam Keluaran 1, mereka hidup di bawah sistem kerja paksa Mesir. Firaun menindas mereka, mengatur hidup mereka, bahkan mengancam masa depan anak-anak mereka. Firaun menjadi gambaran dari setiap kuasa yang menindas, setiap kekuasaan yang merasa berhak mengatur hidup manusia seolah-olah dirinya allah. Namun Keluaran 15 memberitakan kabar baik: Firaun bukan akhir segalanya. Mesir bukan kuasa terakhir. Laut bukan jalan buntu terakhir. TUHAN adalah Allah yang membebaskan.
Ayat 1-3 menunjukkan respons umat tebusan. “Aku akan menyanyi bagi TUHAN.” Israel menyanyi bukan karena keadaan mereka sejak awal mudah. Mereka menyanyi karena Allah telah bertindak di tengah keadaan yang mustahil. Di depan mereka ada laut; di belakang mereka ada kereta Mesir. Namun Allah membuka jalan. Maka nyanyian ini bukan nyanyian orang yang tidak pernah takut, melainkan nyanyian orang yang pernah takut tetapi telah melihat keselamatan Allah.
Ayat 2 berkata, “TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.” Israel di sini tidak hanya berkata, “Tuhan memberi keselamatan.” Mereka berkata, “Ia telah menjadi keselamatanku.” Allah bukan sekadar pemberi berkat; Allah sendiri adalah berkat terbesar. Allah bukan hanya jalan keluar dari masalah; Allah adalah kekuatan umat-Nya.
Lalu ayat 3 berkata, “TUHAN adalah pahlawan perang.” Kita harus memahami kalimat ini dalam konteksnya. Ini bukan ajakan untuk memuliakan kekerasan manusia. Ini adalah pengakuan bahwa Allah membela umat yang tidak sanggup membela diri. Israel tidak punya kereta perang. Israel tidak punya pasukan terlatih. Israel tidak punya strategi militer untuk mengalahkan Mesir. Tetapi mereka punya TUHAN. Dan ketika TUHAN berperang bagi umat-Nya, kuasa yang paling besar sekalipun tidak dapat bertahan.
Ayat 4-5 membawa kita melihat kehancuran Mesir: “Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut.” Kereta perang adalah simbol kekuatan militer Mesir, dan itulah yang membuat Israel takut. Tetapi justru simbol kekuatan itu dilemparkan ke laut. Mereka “turun ke samudera raya seperti batu.” Yang dahulu tampak kokoh, berat, dan tak tergoyahkan, kini tenggelam oleh kuasa Allah.
Di sini kita belajar bahwa apa yang paling menakutkan bagi manusia tidak pernah terlalu besar bagi Tuhan. Ada banyak hal dalam hidup kita yang dapat dikatakan semacam “kereta Firaun”: dosa yang terus mengejar, luka masa lalu, ketidakadilan, tekanan ekonomi, ketakutan terhadap masa depan, atau kuasa-kuasa yang membuat kita merasa tidak berdaya. Firman Tuhan hari ini tidak berkata bahwa semua itu kecil. Mesir memang besar, laut memang nyata, kereta Firaun memang menakutkan. Tetapi Allah lebih besar.
Ayat 6-8 memperlihatkan kuasa Allah dengan gambaran yang agung: “Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu.” Tangan kanan melambangkan kuasa yang bekerja. Allah tidak pasif. Ia bukan penonton penderitaan umat-Nya. Ia bertindak.
Ayat 8 berkata, “Karena tiupan napas hidung-Mu air naik bertimbun-timbun.” Ini bahasa puisi, tetapi maknanya sangat dalam. Alam tunduk kepada Allah. Laut yang tampak seperti penghalang berubah menjadi jalan. Air yang tampak seperti ancaman berubah menjadi alat keselamatan. Dalam dunia kuno, laut sering dipandang sebagai lambang kekacauan dan kuasa yang menakutkan. Namun dalam nyanyian ini, laut bukan allah, bukan saingan TUHAN, bukan kuasa terakhir. Laut hanyalah ciptaan yang tunduk kepada perintah Sang Pencipta.
Mungkin hari ini ada semacam laut di depan kita. Kita tidak tahu bagaimana melangkah. Kita tidak melihat jalan. Tetapi iman tidak berkata bahwa laut itu tidak ada. Iman berkata bahwa laut pun tunduk kepada Tuhan. Kadang Tuhan tidak menyingkirkan laut dari pandangan kita; Ia membuka jalan di tengah laut itu.
Ayat 9 menampilkan suara musuh: “Aku akan mengejar, akan mencapai mereka, akan membagi-bagi jarahan.” Perhatikan berapa banyak kata “aku” di sana. Ini adalah bahasa kesombongan. Musuh merasa masa depan ada di tangannya. Ia merasa dapat mengejar, menangkap, merampas, dan membinasakan. Tetapi ayat 10 menjawab seluruh kesombongan itu dengan sangat singkat: “Engkau meniup dengan taufan-Mu, laut pun menutupi mereka.” Banyak rencana jahat manusia dijawab oleh satu tiupan Allah. Banyak kesombongan manusia dihentikan oleh satu tindakan Tuhan.
Ini peringatan bagi kita. Kesombongan tidak selalu berbentuk kekejaman seperti Firaun. Kesombongan bisa muncul dalam rencana hidup yang tidak pernah bertanya kepada Allah. Kesombongan bisa muncul dalam pelayanan yang mencari nama sendiri. Kesombongan bisa muncul ketika kita berkata, “Aku akan melakukan ini, aku akan mencapai itu,” tetapi tidak pernah berkata, “Tuhan, kehendak-Mu jadilah.”
Ayat 11 adalah puncak pengakuan iman: “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN?” Ini bukan pertanyaan biasa. Ini adalah penyembahan. Jawabannya jelas: tidak ada yang seperti TUHAN. Ia “mulia karena kekudusan,” “menakutkan karena perbuatan-Nya yang masyhur,” dan “pembuat keajaiban.”
Kekudusan Allah di sini bukan hanya berarti Allah terpisah dari dosa. Kekudusan-Nya tampak dalam tindakan-Nya yang benar. Ia membebaskan yang tertindas. Ia menghukum penindas. Ia membuktikan bahwa tidak ada kuasa yang dapat menandingi Dia. Puisi ini memang memakai bahasa yang dikenal dalam dunia kuno, tetapi semuanya diarahkan untuk menyatakan bahwa YHWH tidak sama dengan ilah-ilah bangsa-bangsa. Ia tidak perlu bantuan dewa lain. Ia sendiri menyelamatkan umat-Nya.
Maka pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah, “Seberapa besar masalahku?” Pertanyaan terbesar adalah, “Siapakah seperti Tuhan?” Jika kita hanya menatap laut dan sejenisnya, kita tenggelam dalam takut. Jika kita hanya menatap Mesir dan sejenisnya, kita kehilangan harapan. Tetapi jika kita memandang TUHAN, kita dapat menyanyi bahkan setelah malam yang paling menegangkan.
Ayat 13 mengubah nada nyanyian: “Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus.” Setelah gambaran perang, kini muncul gambaran tuntunan. Allah yang menghancurkan musuh adalah Allah yang menggembalakan umat. Allah tidak hanya mengeluarkan Israel dari Mesir; Ia menuntun mereka menuju tempat kediaman-Nya.
Banyak orang ingin diselamatkan dari Mesir, tetapi tidak mau dituntun oleh Tuhan setelah keluar dari Mesir. Banyak orang ingin bebas dari hukuman dosa, tetapi tidak mau hidup dalam ketaatan. Padahal keselamatan bukan hanya “keluar dari,” tetapi juga “berjalan menuju.” Kita ditebus dari dosa untuk berjalan bersama Allah. Kita dibebaskan dari perbudakan untuk hidup sebagai umat yang menyembah.
Ayat 14 berkata, “Bangsa-bangsa mendengarnya, mereka pun menggigil.” Keselamatan Israel memiliki pengaruh keluar. Apa yang Allah lakukan bagi umat-Nya menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa. Nyanyian ini membentuk identitas Israel, tetapi juga menyatakan kepada dunia siapa Allah Israel itu.
Hidup orang percaya juga seharusnya menjadi nyanyian yang terdengar. Keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, cara kita menghadapi penderitaan, cara kita mengampuni, cara kita berharap, semuanya dapat menjadi kesaksian bahwa Tuhan hidup dan memerintah.
Maka, apa panggilan firman Tuhan bagi kita hari ini?
Pertama, ingatlah keselamatan Tuhan. Jangan biarkan ingatan akan kasih karunia menjadi pudar. Penyembahan lahir dari ingatan yang benar.
Kedua, percayalah kepada kuasa Tuhan. Mesir boleh besar, laut boleh dalam, tetapi Tuhan lebih besar.
Ketiga, tinggalkan kesombongan “aku akan.” Gantilah dengan doa, “Tuhan, tuntunlah aku.”
Keempat, hiduplah sebagai umat tebusan. Jangan hanya bersyukur karena keluar dari Mesir; berjalanlah bersama Allah menuju tujuan-Nya.
Akhirnya, Keluaran 15 mengundang kita untuk menyanyi, bukan karena hidup selalu mudah, bukan karena tidak ada musuh, bukan karena tidak ada laut. Tetapi karena TUHAN telah menyelamatkan, sedang menuntun, dan akan menyelesaikan karya-Nya. Hari ini, bersama Musa, bersama Israel, dan bersama seluruh umat tebusan Allah, marilah kita berkata:
“TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku” (Kel. 15:2a)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar