Bahan Khotbah Minggu, 19 April 2026
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo
10 melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya dan mengangkat tangannya.
11 Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang berkilat.
12 Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa.
13 Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela.
14 Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala lasykarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi.
15 Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih.
16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.
17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).
Hari ini kita merayakan Minggu Misericordias Domini, yang berarti: “Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya.” Ini merupakan sebuah pengakuan iman, sebuah nyanyian yang lahir bukan dari hidup yang tanpa masalah, tetapi justru dari pengalaman akan kesetiaan Tuhan di tengah perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.
Apakah mudah menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya? Apakah mudah berkata bahwa Tuhan itu baik, walaupun hidup sedang berat? Apakah mudah bersukacita, walaupun keadaan tidak berpihak kepada kita?
Bayangkan, ada orang berdiri di tengah ladang yang kosong. Tidak ada panen. Tidak ada hasil. Tidak ada jaminan untuk hari esok. Dan di tengah situasi seperti itu, orang itu berkata: “Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya.”
Itulah yang kita dengar hari ini. Dan itulah yang juga kita lihat dalam kehidupan nabi Habakuk.
Habakuk hidup sekitar akhir abad ke-7 SM, pada masa yang sangat genting bagi bangsa Yehuda. Pada waktu itu, kekuatan besar dunia sedang berubah. Asyur yang dulu kuat mulai runtuh, dan Babel sedang bangkit menjadi kekuatan baru yang sangat menakutkan. Bangsa-bangsa kecil, termasuk Yehuda, hidup dalam bayang-bayang kekuatan besar ini. Di dalam negeri sendiri, keadaan juga tidak baik. Ketidakadilan merajalela. Kekerasan terjadi. Hukum tidak ditegakkan dengan benar. Orang benar tertindas, sementara yang jahat seolah-olah menang.
Habakuk melihat semua itu. Ia tidak diam. Ia berseru kepada Tuhan. Ia bertanya, bahkan bisa dikatakan ia menggugat: “Tuhan, sampai kapan semua ini terjadi?” “Tuhan, mengapa Engkau diam melihat kejahatan?” Dan yang lebih mengguncangkan, Tuhan menjawab bahwa Ia akan memakai bangsa Babel, bangsa yang bahkan lebih kejam, untuk menghukum Yehuda. Bayangkan betapa beratnya itu. Situasinya bukan hanya sulit, tetapi terasa tidak masuk akal.
Dan kalau kita bandingkan dengan hidup kita hari ini, kita bisa merasakan gema yang sama. Kita hidup di dunia yang penuh tekanan. Masih banyak orang bergumul dengan kemiskinan. Ada keluarga yang harus berjuang setiap hari untuk bertahan hidup. Kita melihat ketertinggalan, di mana tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk maju. Banyak orang menghadapi kesulitan mencari pekerjaan, dan sebagian hidup dalam bayang-bayang ancaman PHK. Di sisi lain, kita menghadapi tantangan era digital yang berubah sangat cepat. Tidak semua orang siap. Tidak semua bisa mengikuti. Dan dunia ini sendiri penuh ketegangan, konflik, krisis global, bahkan ancaman perang yang membuat masa depan terasa tidak pasti. Di tengah semua itu, sangat wajar jika hati kita gemetar.
Habakuk sendiri berkata: “Tubuhku gemetar.” Ini adalah iman yang jujur. Iman yang tidak berpura-pura kuat. Iman yang tidak menutup mata terhadap kenyataan. Tetapi yang luar biasa adalah: Habakuk tidak berhenti di situ. Ia melihat kenyataan. Ia merasakan ketakutan. Tetapi ia memilih untuk melihat lebih dalam, melihat kepada Tuhan.
Dan di sanalah ia mengucapkan satu kalimat yang menjadi inti iman: “Sekalipun...”
Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
sekalipun pohon anggur tidak berbuah,
sekalipun ladang tidak menghasilkan,
sekalipun tidak ada ternak,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.
Kalau kita terjemahkan ke dalam hidup kita hari ini:
Sekalipun pekerjaan belum ada,
sekalipun penghasilan tidak cukup,
sekalipun masa depan tidak jelas,
sekalipun dunia berubah terlalu cepat,
sekalipun hidup terasa berat,
namun aku akan bersukacita di dalam Tuhan.
Inilah makna terdalam dari Misericordias Domini. Menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya bukan berarti hidup selalu mudah. Tetapi berarti kita tetap memuji Tuhan, sekalipun ketika hidup tidak mudah.
Sebab kasih setia Tuhan tidak bergantung pada keadaan kita. Kasih setia Tuhan tidak berubah karena ekonomi turun. Kasih setia Tuhan tidak hilang karena kita kehilangan pekerjaan. Kasih setia Tuhan tidak goyah karena dunia sedang tidak stabil. Kasih setia Tuhan tetap sama, kemarin, hari ini, dan selamanya.
Sering kali kita menunda sukacita. Kita berkata: “Nanti kalau hidup sudah baik, aku akan bersukacita.” Atau, “Nanti kalau masalah selesai, aku akan memuji Tuhan.” Tetapi firman Tuhan hari ini mengajarkan sebaliknya. Habakuk tidak menunggu keadaan berubah. Ia bersukacita di tengah keadaan yang belum berubah.
Mengapa? Karena ia tidak menggantungkan hidupnya pada keadaan, tetapi pada Tuhan. Dan inilah yang kita butuhkan hari ini:
Di tengah kemiskinan, kita tetap percaya Tuhan setia.
Di tengah kehilangan pekerjaan, kita tetap percaya Tuhan memelihara.
Di tengah perubahan zaman, kita tetap percaya Tuhan menuntun.
Di tengah dunia yang tidak pasti, kita tetap percaya Tuhan memegang hidup kita.
Di akhir doanya, Habakuk berkata: “TUHAN Allah itu kekuatanku; Ia membuat kakiku seperti kaki rusa.” Artinya, Tuhan tidak selalu menghilangkan gunung dalam hidup kita, tetapi Ia memberi kita kaki yang kuat untuk mendaki gunung itu. Tuhan tidak selalu mengubah keadaan, tetapi Ia menguatkan kita di dalam keadaan itu.
Dan mungkin itulah yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita hari ini. Ia memberi kita kekuatan untuk bertahan. Ia memberi kita keteguhan untuk terus melangkah. Ia memberi kita pengharapan, meskipun kita belum melihat jawabannya.
Di Minggu Misericordias Domini ini, kita diundang untuk mengambil satu keputusan iman: Apakah kita hanya akan bersukacita ketika hidup mudah? Atau kita mau belajar bersukacita di dalam Tuhan dalam segala keadaan?
Mari kita belajar berkata, seperti Habakuk: Sekalipun hidup tidak seperti yang aku harapkan, sekalipun dunia tidak memberi kepastian, aku tetap akan menyanyikan kasih setia Tuhan. Karena Tuhan tetap setia. Karena Tuhan tetap memegang hidupku. Karena kasih setia-Nya tidak pernah berakhir. Dan selama Tuhan masih bersama kita, kita selalu punya alasan untuk bergembira.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar