Minggu, 07 Juni 2026

Dunia dan Segala Isinya Milik TUHAN (Mazmur 50:7-15)

Bahan khotbah Minggu, 07 Juni 2026
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

7 “Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu!
8 Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?
9 Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,
10 sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.
11 Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.
12 Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
13 Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?
14 Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!
15 Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.”

Hari ini kita akan merenungkan sebuah kebenaran yang sering kita dengar, namun kadang kita lupa untuk menghayati secara mendalam: “Dunia dan segala isinya milik TUHAN.”

Sebagai manusia, kita hidup di tengah ciptaan Tuhan yang indah dan kompleks. Kita melihat gunung-gunung yang menjulang, sungai yang mengalir, hutan yang rimbun, hewan-hewan yang beragam, hingga manusia lain di sekitar kita. Semua itu merupakan tanda dari kuasa dan kepemilikan Allah yang tidak terbatas. Namun, dalam keseharian, kita sering bersikap seolah dunia ini milik kita: kita menganggap harta, karier, bahkan alam adalah hak pribadi.

Mazmur 50:10-12 menegaskan sebaliknya: tidak ada yang dapat menambah apa pun kepada Allah, sebab seluruh dunia dan segala isinya adalah milik-Nya.

Kedaulatan Tuhan atas Ciptaan

Pertama, kita perlu menyadari bahwa segala yang ada di dunia ini adalah milik TUHAN. Mazmur 50:10 berkata, “Setiap binatang di hutan adalah milik-Ku, dan lembu di seribu bukit pun milik-Ku.”

Di sini, penulis Mazmur menekankan bahwa kepemilikan Tuhan bersifat universal dan absolut. Tuhan tidak hanya pemilik manusia, tetapi juga alam semesta, hewan, dan segala yang ada di dalamnya. Bahkan hal-hal yang tampak kecil dan remeh, burung di gunung, makhluk di padang, semuanya ada dalam pengawasan-Nya. Tidak ada yang luput dari mata Allah.

Bayangkan seorang raja yang memiliki kerajaan luas. Semua ladang, sungai, gunung, hewan, dan rakyatnya berada di bawah kekuasaannya. Bayangkan pula bahwa Raja itu bukan hanya memiliki, tetapi juga mengetahui segala sesuatu yang terjadi dalam kerajaannya. Demikianlah Tuhan. Dia adalah Raja semesta yang memiliki dunia secara keseluruhan, dan segala ciptaan-Nya tunduk pada kehendak-Nya.

Nah, ayat ini menekankan dimensi spiritual dari ibadah dan kepemilikan. Pada masa Israel kuno, umat sering memberikan korban hewan sebagai tanda pengabdian. Namun Mazmur 50 mengingatkan mereka bahwa Allah tidak “tergantung” pada korban manusia, Dia Mahakuasa, Mahatahu, dan tidak kekurangan apa pun. Semua yang mereka persembahkan hanyalah bentuk syukur dan pengakuan, bukan pemenuhan kebutuhan Allah.

Kesadaran bahwa dunia ini milik Tuhan seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati dan syukur. Kita bukan pemilik sejati harta benda, rumah, kendaraan, atau bahkan kemampuan kita sendiri. Semua adalah pinjaman dari Tuhan. Dengan menyadari ini, kita bisa hidup dengan sikap amanah, menghargai ciptaan, dan bersyukur dalam setiap aspek kehidupan.

Tanggung Jawab Manusia sebagai Pengelola

Kedua, karena dunia adalah milik Tuhan, manusia diberi tanggung jawab sebagai pengelola atau steward. Tuhan memberikan kita kebebasan untuk menikmati, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya yang ada, tetapi dengan prinsip kesetiaan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Mazmur 50:12 berkata, “Jika Aku lapar, Aku tidak akan menyatakannya, sebab seluruh dunia adalah milik-Ku, dan segala isinya.” Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan sesuatu dari kita untuk melengkapi ciptaan-Nya. Dengan kata lain, kepemilikan manusia adalah sementara dan bersifat amanah. Kita diminta untuk mengelola ciptaan dengan bijaksana, bukan mengeksploitasi atau menimbun hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Seorang pengelola taman yang bijak tidak merusak tanaman yang dipercayakan kepadanya. Dia menyirami bunga, merawat pohon, dan menjaga agar satwa yang tinggal di taman tetap aman. Tuhan menempatkan kita sebagai pengelola dunia-Nya, agar kita merawat bumi, hewan, manusia lain, dan sumber daya yang kita miliki dengan bijaksana.
 
Dalam konteks modern, tanggung jawab ini dapat diterapkan dalam berbagai bidang:
1) Lingkungan: Mengurangi sampah plastik, menanam pohon, dan menjaga sumber daya alam.
2) Ekonomi: Menggunakan harta dengan etis, memberi sedekah, dan membantu yang membutuhkan.
3) Hubungan Sosial: Menjadi teladan, menjaga persaudaraan, dan menghormati sesama manusia.

Dengan cara ini, kepemilikan dunia oleh Tuhan menjadi nyata dalam tindakan kita sehari-hari.

Respon Iman: Doa, Syukur, dan Persembahan

Ketiga, Mazmur 50:14-15 menekankan respon iman yang sejati:
“Korbankanlah persembahan syukur kepada Allah, dan tunaikanlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi; dan panggillah Aku pada hari kesesakanmu, maka Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.”

Tiga hal penting muncul dari ayat ini:
1) Persembahan Syukur: Ibadah bukan hanya formalitas, tetapi ekspresi hati yang menyadari kuasa Tuhan atas dunia. Syukur menjadi persembahan yang berharga di mata Allah.
2) Pemenuhan Janji dan Komitmen: Orang percaya dipanggil untuk menepati janji kepada Tuhan. Hal ini mencerminkan integritas iman—hidup sesuai dengan komitmen rohani dan moral kita.
3) Doa dalam Kesulitan: Panggilan untuk memanggil Tuhan saat mengalami kesesakan menegaskan relasi pribadi dengan Allah. Keselamatan tidak bergantung pada ritual semata, tetapi pada percaya dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan.

Contoh Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
1) Menghargai Alam: Sebagai pengelola ciptaan Tuhan, kita bisa menanam pohon, mengurangi polusi, dan menjaga satwa.
2) Menggunakan Harta dengan Bijaksana: Memberi kepada yang membutuhkan, menabung untuk kepentingan baik, dan tidak serakah.
3) Doa dan Syukur Setiap Hari: Tidak hanya di gereja, tetapi dalam aktivitas sehari-hari, kita memuliakan Tuhan melalui ucapan syukur dan doa.
4) Melayani Sesama: Menolong tetangga, mendukung teman, dan menjadi teladan bagi generasi muda.

Melalui tindakan nyata ini, dunia yang milik Tuhan menjadi lapangan pelayanan dan ibadah bagi setiap orang percaya. Dalam Kisah Para Rasul 17:24-28, Paulus berkata:
“Allah yang menjadikan dunia dan segala isinya, Dialah Tuhan dari langit dan bumi… kita hidup, bergerak, dan ada dalam Dia.” Hal ini menguatkan Mazmur 50: Allah adalah pemilik segala ciptaan, dan kehidupan kita sepenuhnya berada dalam pengawasan-Nya. Kesadaran ini membawa kita untuk hidup dalam ketergantungan, syukur, dan tanggung jawab.

Penutup

Dari Mazmur 50:7-15, kita belajar tiga hal penting:
1) Kedaulatan Tuhan atas ciptaan: Segala yang ada di dunia ini milik-Nya, termasuk alam, hewan, dan manusia.
2) Tanggung jawab manusia sebagai pengelola: Kita dipanggil untuk menjadi steward yang bijaksana, bukan pemilik sejati yang egois.
3) Respon iman yang tulus: Melalui doa, syukur, dan persembahan hati, kita menunjukkan pengakuan dan hormat kita kepada Tuhan.

Mari kita hidup dengan kesadaran bahwa dunia adalah milik Tuhan, sehingga setiap tindakan kita, dari cara kita menjaga lingkungan, menggunakan harta, hingga berdoa dan bersyukur, menjadi wujud ibadah yang tulus. Sebagai pengingat terakhir, Mazmur 50:15 berkata: “Panggillah Aku pada hari kesesakanmu, maka Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.”

Mari kita menjadi umat yang menyadari hakikat kepemilikan Ilahi, mengelola ciptaan dengan bijaksana, dan hidup dalam syukur dan doa, sehingga kemuliaan Tuhan nyata dalam setiap aspek kehidupan kita.


Dunia dan Segala Isinya Milik TUHAN (Mazmur 50:7-15)

Bahan khotbah Minggu, 07 Juni 2026 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 7 “Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hen...