Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
Setiap kali kita mendengar kalimat, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”, hati kita tersentuh. Ayat ini sering kita tulis di dinding rumah, di hiasan ruang tamu, atau dijadikan motto keluarga. Tetapi, mari kita lihat ayat itu bukan hanya sebagai hiasan, melainkan sebagai keputusan iman yang lahir dari pergumulan panjang dan kesadaran rohani yang mendalam.
Yosua tidak mengucapkan kalimat itu dengan mudah. Ia mengatakannya di penghujung hidupnya, setelah melihat perjalanan panjang Israel dari Mesir, padang gurun, hingga Kanaan. Ia tahu betapa mudahnya umat Tuhan berubah hati. Ia tahu betapa sering mereka bersumpah setia kepada TUHAN tetapi kemudian berpaling kepada allah lain. Karena itu, pernyataan Yosua ini bukan slogan. Ini pernyataan iman seorang pemimpin yang memilih berpihak kepada Allah di tengah dunia yang menolak kesetiaan.
1. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” – Iman selalu menuntut keputusan
Yosua memanggil seluruh umat di Sikhem. Ia tidak hanya ingin berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ia mengingatkan umat bahwa Allah telah membawa mereka dari Mesir, memelihara di padang gurun, memberi mereka tanah Kanaan — semuanya karena kasih karunia, bukan karena kehebatan mereka.
Lalu Yosua berkata: “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Yosua tidak memaksa. Ia memberi kebebasan, tetapi juga menegaskan tanggung jawab. Setiap generasi Israel harus memilih sendiri apakah akan tetap setia kepada TUHAN atau mengikuti allah lain.
Demikian juga dengan kita hari ini. Kita tidak bisa hidup di atas iman orang tua kita, atau iman pendeta kita. Kita harus memilih sendiri kepada siapa kita beribadah. Iman yang hidup bukanlah warisan pasif, melainkan keputusan aktif setiap hari.
Pertanyaannya bagi kita:
Di tengah dunia yang penuh kompromi, kepada siapa kita berpihak? Siapa yang sungguh kita sembah – Allah yang hidup, atau allah-allah modern yang sering kita biarkan mengambil hati kita: uang, kuasa, kenyamanan, dan ego?
2. “Aku dan seisi rumahku” – Iman yang dimulai dari rumah
Yosua berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Yosua tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri. Ia tidak berkata, “Aku akan beribadah kepada TUHAN, dan biarlah yang lain memilih jalannya sendiri.” Tidak! Ia menyebut “seisi rumahku.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di diri sendiri; ia menular ke dalam keluarga. Yosua memahami satu prinsip penting: Misi Allah selalu dimulai dari rumah.
Jika kita ingin gereja misioner, mulailah dari keluarga yang misioner. Jika kita ingin bangsa takut akan Tuhan, mulailah dari rumah yang takut akan Tuhan. Keluarga Yosua menjadi pusat kesetiaan di tengah bangsa yang mudah goyah. Dan itulah yang Tuhan mau dari kita. Keluarga bukan hanya tempat tinggal; keluarga adalah tempat penyembahan. Bukan hanya tempat makan bersama, tapi tempat iman dipelajari, kasih dilatih, dan misi dijalankan.
3. “Kami akan beribadah kepada TUHAN” – Kesetiaan di tengah banyak pilihan
Yosua hidup di tengah masyarakat yang plural – banyak allah, banyak kuil, banyak pilihan. Orang Kanaan punya dewa-dewi kesuburan, panen, perang, dan kesuksesan. Setiap bidang hidup ada dewanya. Bukankah itu juga dunia kita hari ini? Kita hidup di dunia dengan “banyak dewa” modern – bukan dalam bentuk patung, tapi sistem nilai yang menyaingi Allah:
Materialisme yang berkata, “uang adalah jawabannya.”
Individualisme yang berkata, “yang penting aku bahagia.”
Relativisme yang berkata, “tidak ada kebenaran mutlak.”
Yosua menantang umat untuk membuat pilihan yang tegas: “Kalau kamu mau menyembah allah lain, silakan. Tapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Itulah ketegasan iman. Ia tidak menunggu orang lain setuju. Ia tidak menyesuaikan diri dengan arus. Ia berdiri teguh meski minoritas, karena ia tahu kepada siapa ia percaya.
Hari ini gereja juga dipanggil untuk memiliki ketegasan seperti Yosua: “Gereja yang setia bukanlah gereja yang menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi gereja yang tetap setia kepada Allah meski dunia berubah arah.”
4. “Kami akan beribadah kepada TUHAN” – Misi adalah bentuk penyembahan
Perayaan misi seperti hari ini bukan sekadar program tahunan, tetapi panggilan untuk memperbarui komitmen kita seperti di Sikhem. Yosua memperbarui perjanjian umat dengan Allah – kita pun memperbarui komitmen misi kita kepada Kristus. Bagi Yosua, beribadah kepada TUHAN tidak hanya berarti ritual di kemah suci, tetapi seluruh hidup yang tunduk kepada kehendak Allah. Ibadah sejati bukan hanya di altar, tetapi juga di ladang, di rumah, di pasar, di sekolah, di dunia kerja. Misi gereja lahir dari penyembahan. Ketika kita sungguh menyembah TUHAN, kita akan mendengar suara-Nya berkata, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8). Dan seperti Yesaya, kita akan berkata: “Ini aku, utuslah aku!”
Keluarga yang beribadah kepada TUHAN akan menjadi keluarga yang diutus oleh TUHAN. Ibadah sejati akan selalu melahirkan misi sejati.
5. Kesetiaan bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah setia
Namun, Yosua tahu – umat Israel itu lemah. Ia bahkan berkata, “Kamu tidak dapat beribadah kepada TUHAN, karena Ia adalah Allah yang kudus dan cemburu.”
Yosua sadar, komitmen manusia sering rapuh. Sejarah Israel membuktikan: mereka sering berkata “Kami akan setia,” tapi kemudian berkhianat. Namun syukur kepada Allah – masa depan umat Allah tidak tergantung pada keteguhan manusia, melainkan pada kesetiaan Allah sendiri. Di dalam Kristus, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya yang sempurna. Ketika kita jatuh, Ia tetap mengasihi. Ketika kita tidak setia, Ia tetap setia, sebab Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Timotius 2:13).
Inilah Injil dalam kitab Yosua: Kesetiaan Allah lebih besar dari ketidaksetiaan kita. Kasih Allah lebih kuat dari dosa kita. Dan anugerah Allah memberi kita kekuatan untuk tetap memilih Dia setiap hari.
6. Misi yang dimulai dari rumah
Melalui kata-kata Yosua, Tuhan memanggil kita untuk memperbarui pilihan iman kita: “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Mungkin dunia berkata: “Tidak usah terlalu fanatik.” Tetapi Yosua berkata: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”
Mari kita jadikan kalimat ini bukan hanya hiasan di rumah, tetapi napas hidup kita setiap hari.
Mari kita:
Menjadikan rumah kita sebagai tempat penyembahan.
Menjadikan keluarga kita sebagai ladang misi pertama.
Menjadikan gereja kita sebagai tanda kesetiaan kepada Allah di tengah dunia yang berubah.
Karena pada akhirnya, kesaksian hidup kita akan lebih kuat daripada kata-kata kita. Dan dari keluarga-keluarga yang beribadah kepada TUHAN, Allah akan membangun gereja yang misioner – gereja yang menjadi terang dan garam dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar