Senin, 03 November 2025

Memelihara Diri dalam Kasih Allah: Bertahan di Dalam Kebenaran, Menjangkau di Dalam Kasih (Yudas 1:17-23)

Bahan Khotbah Minggu, 09 November 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
18 Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”
19 Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.
20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.
21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.
22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,
23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Bayangkanlah sebuah pantai setelah badai besar berlalu. Ombak yang dahsyat telah meninggalkan jejaknya: sampah, ranting-ranting patah, dan rumput laut berserakan di pasir. Itulah pemandangan yang tidak sedap dipandang. Namun, Yudas dalam suratnya memberikan gambaran yang lebih kelam lagi. Ia menggambarkan para pengajar sesat di dalam jemaat seperti ombak-ombak dari Laut Mati. Laut Mati dikenal dengan airnya yang sangat asin. Ombaknya tidak hanya meninggalkan sampah, tetapi ketika kayu terdampar, air yang asin itu mengelupas semua kulit kayunya, meninggalkan kayu yang putih dan tandus, seperti tulang belulang yang kering. Itulah gambaran dari kehidupan dan perbuatan orang-orang yang menyesatkan: tidak menghasilkan apa-apa selain kematian dan kehancuran yang tandus.

Hari ini, melalui Yudas 1:17-23, kita diajak untuk tidak hanya mengenali ciri-ciri kesesatan di sekitar kita, tetapi lebih dari itu, kita ditantang untuk membangun kehidupan kita di atas kebenaran, dan mengulurkan tangan untuk menjangkau mereka yang telah terseret arus yang salah.

Mengenali Wajah Kesesatan (Yudas 17-19)
Hal pertama yang Yudas ingatkan adalah bahwa keberadaan orang-orang seperti ini bukanlah hal yang mengejutkan. Para rasul sudah memperingatkannya. Lalu, seperti apa wajah kesesatan itu?

Pertama, hidup mereka dipimpin oleh hawa nafsu yang fasik dan mereka adalah para pencemooh. Ini adalah dua sisi dari koin yang sama. Mereka bukan hanya melakukan dosa, tetapi mereka juga menciptakan pembenaran bagi dosa-dosa mereka. Mereka berkata, “Tubuh ini memang jahat, jadi tidak ada gunanya menahan nafsunya,” atau “Kasih karunia Allah itu murah dan berlimpah, jadi kita bisa terus berbuat dosa, biar kasih karunia-Nya semakin nyata.” Ini adalah bentuk penipuan diri yang paling berbahaya. Mazmur 53:1 berkata, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah.” Bukan berarti mereka tidak percaya Tuhan secara intelektual, tetapi dalam hati mereka, mereka berharap Tuhan tidak ada, karena jika Tuhan ada, maka mereka harus menghadap penghakiman-Nya. Pada intinya, mereka mendengarkan suara keinginan sendiri, dan mematikan suara Tuhan.

Kedua, mereka adalah pemecah belah. Yudas menyebut mereka sebagai “manusia duniawi yang tidak memiliki Roh.” Ini adalah istilah teknis yang sangat penting. Pada zaman itu, ada ajaran yang membagi manusia menjadi dua kelas:
· Psuche (Jiwa): Ini adalah kehidupan dasar. Semua makhluk hidup memilikinya. Manusia di level ini dianggap hanya hidup berdasarkan insting dan nafsu duniawi.
· Pneuma (Roh): Ini adalah unsur ilahi. Hanya orang-orang intelek dan elite rohani tertentu yang memilikinya, yang memampukan mereka mengenal Allah secara langsung.

Nah, para pengajar sesat ini menganggap diri mereka adalah si pneumatikoi, kaum elite rohani yang sudah “tingkat dewa.” Mereka merasa sudah melampaui hukum moral biasa. Bagi mereka, dosa sudah tidak ada artinya lagi. Yang mengejutkan, Yudas justru membalikkan keadaan! Dia menegur, “Bukan! Justru KALIANLAH si psuchikoi! Kalianlah manusia duniawi yang hidupnya hanya dipimpin oleh nafsu! Kalianlah yang tidak memiliki Roh!” Mereka mengira diri mereka paling rohani, tetapi kenyataannya, mereka adalah yang paling jauh dari Allah. Mereka memutar-balikkan kebenaran untuk membenarkan keinginan mereka yang berdosa.

Membangun Diri dalam Kebenaran Sejati (Yudas 20-21)
Lalu, di tengah dunia yang dipenuhi oleh kesesatan seperti ini, bagaimana kita harus hidup? Yudas tidak hanya memberi peringatan, tetapi memberikan empat instruksi yang sangat jelas dan praktis untuk membangun kehidupan kita.

Pertama, “Bangunlah dirimu sendiri di atas imanmu yang paling suci.” Iman kita bukanlah ciptaan kita sendiri. Ini bukan sekadar filosofi atau opini pribadi. Iman Kristen adalah “iman yang paling suci.” Kata “kudus” atau “suci” berarti berbeda, terpisah, istimewa. Iman kita berbeda karena asalnya dari Allah, diberikan oleh Yesus, disampaikan oleh para rasul, dan dilestarikan oleh gereja dari generasi ke generasi. Kita membangun hidup di atas fondasi yang kokoh ini, bukan di atas pasir yang selalu berubah dari perasaan atau tren zaman.

Kedua, “Berdoalah dalam Roh Kudus.” Pada dasarnya, agama sejati adalah pengakuan akan ketergantungan mutlak kita pada Allah. Doa adalah napas dari ketergantungan itu. Seorang penulis bernama Moffatt mendefinisikan doa dengan sangat indah: “Doa adalah kasih yang membutuhkan, memohon kepada kasih yang berkuasa.” Dan kita diajak untuk berdoa “dalam Roh Kudus.” Mengapa? Karena doa kita sering kali begitu egois dan picik. Hanya ketika Roh Kudus menguasai hati dan pikiran kitalah, keinginan kita dimurnikan, dan kita belajar untuk berdoa sesuai dengan kehendak Allah yang sempurna.

Ketiga, “Peliharalah dirimu dalam kasih Allah.” Ini mengingatkan kita pada hubungan perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Kasih Allah itu kekal dan tidak berubah, tetapi untuk tetap tinggal atau “berada di dalam” kasih-Nya, kita harus hidup dalam ketaatan. Seperti seorang anak yang tinggal dalam kasih orang tuanya dengan menaati aturan rumah.

Keempat, “Nantikanlah rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” Hidup kita bukan hanya untuk hari ini. Mata kita tertuju ke masa depan, pada kedatangan Yesus Kristus kembali yang akan membawa kita kepada hidup yang kekal. Pengharapan inilah yang memberi kita kekuatan untuk bertahan dan motivasi untuk hidup kudus di dunia yang sementara ini.

Menjangkau yang Tersesat dengan Hikmat dan Kasih (Yudas 22-23)
Dan sekarang, kita sampai pada puncak dari pesan Yudas. Tanggapan kita terhadap kesesatan bukanlah dengan mengurung diri dalam benteng, tetapi dengan aktif menjangkau keluar. Yudas, dengan hikmatnya, membagi mereka yang tersesat menjadi tiga kategori, dan masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ini seperti seorang dokter yang mendiagnosis tiga jenis penyakit dengan tiga cara penanganan yang berbeda.

Pertama, “Tunjukkanlah kesalahan kepada orang yang ragu-ragu.” Ini adalah mereka yang sedang “jalan-jalan” di pinggir tebing kesesatan. Hati mereka tertarik, tetapi mereka masih bimbang dan belum mengambil keputusan akhir. Terhadap mereka, kita punya dua tugas:
1. Kita harus mempelajari iman kita dengan serius. Kita harus tahu apa yang kita percayai dan mengapa kita percaya, sehingga kita bisa menjelaskannya dengan lemah lembut dan hormat.
2. Kita harus berani berbicara pada waktunya. Salah satu tragedi terbesar dalam hidup adalah ketika seseorang datang kepada kita dan berkata, “Saya tidak akan berada dalam kekacauan ini andaikata ada seseorang, mungkin kamu, yang berani menegur saya waktu itu.” Kadang-kadang, diam bukanlah tanda kebijaksanaan, melainkan tanda ketakutan.

Kedua, “selamatkanlah mereka dengan merampas mereka dari api.” Kelompok yang ini sudah lebih dalam. Mereka sudah melangkah masuk ke dalam api kesesatan. Terhadap mereka, tindakannya harus lebih langsung dan tegas. Memang kita menghargai kebebasan setiap orang, tetapi bayangkan jika kita melihat seorang anak kecil hendak memasukkan tangannya ke dalam api, apakah kita akan membiarkannya karena menghargai “kebebasan”-nya? Tentu tidak! Kita akan refleks menariknya, bahkan jika ia menangis. Demikian juga, terkadang kita harus bertindak tegas dan langsung untuk menyelamatkan seseorang dari jalan yang membinasakan, meskipun tindakan itu tidak disukai.

Ketiga, “tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka dengan disertai ketakutan.” Kelompok yang terakhir ini adalah yang paling berbahaya, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi kita yang hendak menolong. Yudas menggunakan gambaran yang kuat: “sambil membenci pakaian yang dicemarkan oleh daging.” Gambaran ini diambil dari Imamat 13, dimana pakaian orang yang kena kusta harus dibakar. Artinya jelas: kita harus membenci dosa yang melekat pada orang itu, tetapi dengan tetap mengasihi orangnya.

Prinsipnya tetap: kasihi orangnya, benci dosanya. Namun, untuk bisa melakukan ini, kita sendiri harus kuat. Sebelum melemparkan tali penyelamat kepada orang yang hampir tenggelam, kita sendiri harus berdiri di atas tanah yang kokoh. Sebelum menolong orang yang terinfeksi penyakit menular, kita sendiri harus memiliki sistem imun yang kuat. Demikian juga, menolong orang yang sangat terbelit dalam dosa membutuhkan iman yang matang, pemahaman Firman yang dalam, dan ketergantungan penuh pada Roh Kudus. Ketidaktahuan tidak bisa dilawan dengan ketidaktahuan. Hanya keyakinan yang kokoh yang bisa berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Seorang ahli bernama Sir John Seeley pernah berkata, “Ketika kuasa untuk merebut kembali mereka yang hilang, telah mati di dalam gereja, maka pada saat itu gereja tersebut berhenti menjadi gereja.”

Pesan Yudas hari ini sangat relevan bagi kita. Kita hidup di zaman dimana kebenaran sering diragukan dan dosa dibungkus dengan kemasan “kebebasan” dan “pencerahan.”

Karena itu, mari kita tanggapi pesan ini dengan tiga langkah nyata:
1. Waspada dan Uji: jangan mudah terbawa oleh setiap ajaran baru. Ujilah dengan Firman Tuhan yang adalah fondasi “iman yang kudus” itu.
2. Bangun dan Bertekun: aktiflah membangun diri kita melalui pembacaan Firman, doa dalam Roh, kehidupan dalam kasih Allah, dan dengan mata yang tertuju pada pengharapan akan kedatangan Kristus.
3. Jangkau dan Selamatkan: jadilah gereja yang tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi dengan berani, penuh hikmat, dan kasih, menjangkau mereka yang tersesat. Mulailah dari yang “ragu-ragu” di sekitar kita. Bersiaplah untuk menegur dengan kasih, dan bersiaplah juga untuk “merampas dari api” mereka yang sudah terjerat.

Kita dipanggil bukan untuk menjadi hakim yang menghakimi, tetapi untuk menjadi duta-duta Kristus yang membawa kabar rekonsiliasi, menjadi tangan-tangan-Nya yang menjangkau, dan menjadi saudara-saudara yang mengasihi. Biarlah melalui kehidupan kita, banyak orang yang direbut dari kegelapan dan dibawa kepada terang Kristus yang ajaib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ragam Karunia dalam Satu Roh (1 Korintus 12:3-11)

Bahan Khotbah Minggu Pentakosta I, 24 Mei 2026 Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo 3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada se...