Rabu, 17 Desember 2025

ALLAH MELAWAT UMAT-NYA – IFAIGI MBANUA-NIA LOWALANGI (LUKAS 1:67-79)

Khotbah Minggu Advent IV, 21 Desember 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:
68 “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,
69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,
70 --seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus--
71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,
72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,
73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,
74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,
75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.
76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,
77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,
78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,
79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”


ZAKHARIA DAN KEHENINGAN PANJANG ALLAH

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa Allah diam. Doa sudah lama dipanjatkan, harapan sudah sering dipeluk, tetapi kenyataan tidak kunjung berubah. Kita tetap bergumul dengan ketidakadilan, penderitaan, bencana, kemiskinan, konflik, dan kelelahan sosial. Dalam situasi seperti itu, mudah sekali bertanya: “Di mana Allah?”

Perasaan seperti itu bukan hanya milik kita. Itulah juga pengalaman umat Israel pada zaman Zakharia. Selama ratusan tahun Allah seakan diam. Tidak ada nabi. Tidak ada suara ilahi. Israel hidup di bawah penjajahan Romawi, tertekan secara politik, rapuh secara sosial, dan letih secara rohani. Mereka beribadah, tetapi kehilangan harapan. Mereka berdoa, tetapi tak tahu apakah masih didengar.

Zakharia, seorang imam, berdiri di tengah kenyataan itu. Ia setia melayani di Bait Allah, tetapi hidupnya sendiri penuh luka. Ia dan Elisabet tidak memiliki anak. Doa mereka seperti doa bangsa itu sendiri: sudah lama dipanjatkan, tetapi tak kunjung dijawab. Ketika malaikat Tuhan datang membawa janji, Zakharia justru ragu. Dan karena keraguannya, ia dibungkam. Mulutnya tertutup (tidak bisa berbicara), seakan mewakili seluruh umat yang kehilangan kata-kata di hadapan Allah.

Namun justru dalam keheningan itulah sesuatu yang baru sedang dipersiapkan Allah. Lukas 1 membawa kita ke sebuah keluarga sederhana: Zakharia dan Elisabet. Mereka bukan tokoh politik, bukan orang kaya, bukan pemimpin besar. Zakharia hanyalah seorang imam desa yang setia, saleh, tetapi hidupnya penuh keterbatasan.

Mereka tidak punya anak. Dalam budaya Yahudi, kemandulan bukan hanya soal biologis, tetapi juga luka sosial dan rohani. Doa mereka panjang. Penantian mereka lama. Pada akhirnya, mungkin seperti banyak orang beriman, mereka belajar berhenti berharap terlalu tinggi, supaya tidak terlalu sakit ketika harapan itu tidak terpenuhi.

Lebih luas dari itu, Israel sebagai bangsa juga sedang berada dalam kondisi serupa. Sekitar empat ratus tahun lamanya tidak ada nabi. Tidak ada suara ilahi. Tidak ada pewahyuan baru. Allah seolah diam. Bait Allah masih berdiri, ibadah rutin tetap berlangsung, tetapi suara Tuhan tidak terdengar. Ini sangat mirip dengan banyak realitas gereja hari ini; ibadah berjalan, liturgi lengkap, lagu dinyanyikan, doa-doa dipanjatkan, tetapi banyak orang pulang dengan hati kosong. Zakharia berdiri di Bait Allah mewakili umat yang beribadah, tetapi sedang kehilangan rasa akan kehadiran Allah.

ALLAH DATANG SAAT MANUSIA TIDAK LAGI BERANI BERHARAP

Ketika malaikat Gabriel datang membawa kabar, Zakharia tidak langsung percaya. Ia bertanya: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya” (Luk. 1:18). Pertanyaan ini sering disalahpahami sebagai kurang iman. Tetapi sesungguhnya, ini adalah pertanyaan manusia yang sudah terlalu lama menunggu. Karena keraguannya, Zakharia dibungkam. Tetapi, Allah membungkam Zakharia bukan untuk menghukumnya semata, tetapi untuk membawanya masuk ke dalam keheningan yang lebih dalam, keheningan yang memurnikan, keheningan yang mengajar, keheningan yang mempersiapkan. Kadang-kadang, Allah membungkam kita bukan karena Ia marah, tetapi karena Ia ingin kita belajar mendengar dengan cara yang baru.

Kembali ke kisah Zakharia. Sembilan bulan dalam kesunyian bukanlah hukuman semata, tetapi untuk membawanya masuk ke dalam keheningan yang lebih dalam, keheningan yang memurnikan, keheningan yang mengajar, keheningan yang mempersiapkan. Kadang-kadang, Allah membungkam kita bukan karena Ia marah, tetapi karena Ia ingin kita belajar mendengar dengan cara yang baru. 

Di Indonesia saat ini, kita juga mengalami berbagai bentuk “kesunyian” atau “keheningan” yang membuat kita bertanya-tanya:
· Kesunyian hati ketika melihat korupsi merajalela, mulai dari tingkat desa hingga istana, sementara rakyat kecil berjuang memenuhi kebutuhan pokok.
· Kesunyian nurani ketika hutan-hutan kita digunduli, laut kita tercemar, dan alam yang seharusnya menjadi warisan anak cucu dieksploitasi untuk keuntungan pengusaha dan penguasa.
· Kesunyian harapan ketika melihat pemerintah yang seharusnya melayani rakyat justru sering terlihat abai terhadap penderitaan mereka yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan.
· Kesunyian spiritual di tengah gemerlap teknologi dan media sosial, di mana kita sibuk ribut di dunia maya tetapi diam membisu terhadap ketidakadilan di dunia nyata.

Advent adalah masa ketika kita secara khusus mengakui “kegelapan” dan “kesunyian” ini. Tetapi Advent juga mengajarkan kita sesuatu yang penting: Allah paling sering berbicara justru dalam kesunyian, Allah paling jelas hadir justru dalam kegelapan.

Ketika Yohanes lahir dan Zakharia menuliskan namanya, lidahnya terlepas (Luk. 1:64). Kata pertama yang keluar bukan tentang dirinya, bukan tentang penderitaannya, dan bukan tentang masa lalunya. Yang keluar dari mulutnya adalah pujian: “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya” (Luk. 1:68). Zakharia tidak berkata, “Allah akhirnya mengabulkan doaku,” tetapi ia berkata, “Allah melawat umat-Nya.” Artinya, pengalaman pribadi Zakharia kini ia lihat sebagai bagian dari karya besar Allah bagi umat-Nya.

Kata “melawat” yang disampaikan oleh Zakharia pada ayat 67 dalam bahasa aslinya adalah “episkopeo,” kata yang sama digunakan untuk “mengawasi, memeriksa, menjenguk.” Ini bukan kunjungan formal seorang pejabat, tetapi kunjungan seorang dokter kepada pasiennya, seorang gembala kepada dombanya, seorang sahabat kepada temannya yang sakit.

Allah melawat berarti:
1. Allah melihat dengan mata belas kasihan. Dia tidak tinggal jauh di surga mengabaikan penderitaan kita. Dia turun, Dia melihat, Dia peduli.
2. Allah mendengar dengan telinga yang peka. Tangisan rakyat miskin yang tertindas, jeritan alam yang dirusak, keluhan kita yang lelah menanti keadilan, semua itu didengar-Nya.
3. Allah bertindak dengan tangan penyelamatan. Melawat bukan sekadar simpati. Melawat adalah intervensi. Allah masuk ke dalam sejarah kita untuk mengubah keadaan.

Tetapi perhatikan bagaimana Allah melawat: Dia tidak mengirim tentara malaikat untuk menggulingkan Romawi. Dia tidak membuat kudeta politik. Dia memulai dari hal yang tampak kecil dan tersembunyi: seorang bayi. Bayi Yohanes Pembaptis, yang lahir dari keluarga imam yang sudah tua, di desa yang tidak terkenal. Dari titik kecil inilah Allah memulai revolusi terbesar dalam sejarah manusia.

Kadang kita ingin Allah bertindak secara spektakuler: menurunkan petir menghukum koruptor, membuat gempa membongkar kejahatan, mengirim hujan uang untuk mengentaskan kemiskinan. Tetapi cara Allah sering kali berbeda. Allah lebih suka bekerja melalui “kelahiran-kelahiran kecil” di tengah kita:
· Melalui seorang guru di pedesaan yang dengan setia mengajar meski gaji kecil.
· Melalui seorang aktivis lingkungan yang tanpa lelah mendampingi masyarakat adat melindungi hutannya.
· Melalui seorang jurnalis yang berani menulis kebenaran meski terancam.
· Melalui seorang ibu rumah tangga yang mengajari anak-anaknya kejujuran di tengah budaya menyontek.
· Melalui kita, jemaat Tuhan, yang memilih untuk tidak menyuap, tidak korupsi waktu, tidak ikut merusak lingkungan.

Inilah cara Allah melawat Indonesia: melalui umat-Nya yang menjadi terang di tempatnya masing-masing.

NUBUAT YANG MEMBANGUN HARAPAN

Mari kita selami lebih dalam nyanyian Zakharia, yang dikenal sebagai “Benedictus” (artinya “Terpujilah”). Zakharia menyanyikan tentang “tanduk keselamatan.” Tanduk adalah simbol kekuatan. Tetapi perhatikan: tanduk keselamatan ini dibangkitkan “dalam keturunan Daud.” Ini mengingatkan kita pada janji Allah ribuan tahun sebelumnya. Allah tidak pernah lupa janji-Nya. Walaupun butuh waktu 400 tahun, walaupun umat-Nya sering tidak setia, namun Allah tetap setia.

Di Indonesia, kita mudah putus asa karena perubahan tampak lambat. Korupsi terjadi dengan sistemik. Perusakan alam seperti tak terbendung. Tetapi nyanyian Zakharia mengingatkan kita: Allah bekerja dalam kerangka waktu yang berbeda dengan kita. Dia sedang membangun “keselamatan” yang lebih dalam dan lebih permanen daripada sekadar pergantian rezim atau perubahan kebijakan.

“Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi...” (ay. 76). Kata-kata ini hendak menegaskan maksud pemanggilan Yohanes, yaitu untuk:
1. Berjalan di depan Tuhan untuk mempersiapkan jalan. Artinya: membersihkan halangan, meratakan yang berbukit, meluruskan yang bengkok. Dalam konteks kita: memberantas korupsi adalah “meratakan jalan.” Menegakkan keadilan adalah “meluruskan yang bengkok.” Menjaga kelestarian alam adalah “membersihkan halangan” bagi generasi mendatang.
2. Memberikan pengertian akan keselamatan. Keselamatan dalam Alkitab bukan hanya “ke surga nanti.” Keselamatan (dari kata “sozo” dalam bahasa Yunani) berarti: dipulihkan, dibuat utuh, disembuhkan, dibebaskan. Allah ingin memulihkan Indonesia yang tercabik-cabik oleh korupsi, menyembuhkan bumi yang terluka oleh eksploitasi, membebaskan rakyat dari penindasan berbagai bentuk.
3. Memberikan terang kepada mereka yang diam dalam kegelapan. Inilah puncak nyanyian Zakharia. Dia menyebut Yesus (yang lahir kemudian) sebagai “Surya pagi” atau “fajar dari tempat tinggi.”

Apakah kita pernah mengalami malam yang sangat gelap, mungkin di pedesaan tanpa listrik? Kegelapan itu nyata, menakutkan, melumpuhkan. Tetapi satu hal yang kita tahu: kegelapan tidak bisa mengusir terang. Kita hanya perlu menyalakan satu lilin, dan kegelapan itu hilang. Dewasa ini kegelapan memang nyata:
· Kegelapan ketidakadilan ketika hukum bisa dibeli.
· Kegelapan keserakahan ketika sumber daya alam dikuras habis-habisan.
· Kegelapan ketidakpedulian ketika kita lebih sibuk dengan gadget daripada anggota keluarga atau tetangga kita yang menderita.

Tetapi firman Tuhan hari ini hendak menegaskan bahwa Fajar telah menyingsing! Yesus, Sang Terang sejati, telah datang, dan terang-Nya tidak bisa dipadamkan oleh kegelapan apa pun.

TANGGAPAN KITA ATAS LAWATAN ALLAH

Lalu, bagaimana kita merespons lawatan Allah ini? Zakharia memberi kita contoh:
1. Dari Bisu Menjadi Bernubuat (ayat 67)
Setelah masa kesunyian, Zakharia dipenuhi Roh Kudus dan bernubuat. Kita yang pernah “bisu” terhadap ketidakadilan, dipanggil untuk bersuara. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kebenaran. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan keberanian moral. Gereja harus menjadi suara kenabian yang menyatakan kehendak Allah di ruang publik.

2. Dari Ragu Menjadi Percaya (ayat 68-70)
Zakharia mengakui keterlibatan Allah dalam sejarah. Kita dipanggil untuk percaya bahwa Allah sedang bekerja di Indonesia, meski sering tidak kelihatan. Percaya bahwa kejujuran akhirnya menang. Percaya bahwa keadilan akan diteguhkan. Percaya bahwa pemulihan mungkin terjadi.

3. Dari Pasif Menjadi Aktif (ayat 76-77)
Zakharia memahami bahwa anaknya Yohanes dipanggil untuk “mempersiapkan jalan” dan “memberi pengertian.” Kita dipanggil untuk tindakan nyata:
· Di bidang politik: Mendukung pemimpin yang jujur, berintegritas, dan takut akan Tuhan. Terlibat dalam pengawasan publik terhadap kebijakan pemerintah.
· Di bidang ekonomi: Menolak korupsi dalam bentuk apa pun. Mengembangkan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
· Di bidang lingkungan: Menjadi penatalayan alam yang baik. Mengurangi sampah, mendaur ulang, menentang perusakan lingkungan.
· Di bidang sosial: Menjadi gereja yang peduli pada yang miskin, yang tertindas, yang terpinggirkan.

ADVENT SEBAGAI PENANTIAN AKTIF

Advent bukan hanya menunggu Tuhan datang. Advent adalah persiapan aktif untuk kedatangan-Nya. Seperti Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan untuk Yesus, kita dipanggil untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Persiapan itu dimulai dari hati kita masing-masing:
· Apakah ada “kegelapan” dalam hidup kita yang perlu diterangi?
· Apakah ada “kesunyian” di mana kita perlu mendengar suara Tuhan?
· Apakah ada “ketidaklurusan” yang perlu kita perbaiki?

Mari kita akui bersama: Kita bagian dari masalah, tetapi kita juga bisa menjadi bagian dari solusi.

Kita semua diajak untuk tidak hanya pulang dengan inspirasi, tetapi dengan komitmen konkret. Minggu ini:
1. Lakukan satu tindakan kejujuran meski berisiko.
2. Lakukan satu aksi kepedulian pada mereka yang menderita.
3. Lakukan satu langkah pelestarian terhadap lingkungan.
4. Berdoa secara khusus untuk pemimpin bangsa kita, agar mereka diberi hikmat dan integritas.

Allah telah melawat umat-Nya mellalui Yesus Kristus, terang telah datang. Sekarang, terang itu ada di dalam kita. Biarlah gereja ini menjadi komunitas orang-orang yang membawa terang Kristus ke setiap bidang kehidupan bangsa kita agar dunia melihat terang itu, dan memuliakan Bapa di surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ragam Karunia dalam Satu Roh (1 Korintus 12:3-11)

Bahan Khotbah Minggu Pentakosta I, 24 Mei 2026 Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo 3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada se...