Bahan khotbah Minggu, 28 September 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,
14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,
15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.
Kalau kita bertanya: seperti apakah gereja yang sehat itu? Banyak orang punya ukuran yang berbeda. Ada yang berkata, gereja sehat itu kalau gedungnya besar dan megah. Ada yang melihat dari ramainya kebaktian, lengkapnya fasilitas, atau banyaknya program. Tetapi Rasul Paulus dalam surat Efesus pasal 4 menunjukkan ukuran yang lebih sejati: gereja yang sehat adalah gereja yang bertumbuh menuju kedewasaan rohani, gereja yang hidup dalam kasih, teguh dalam kebenaran, dan bersatu di dalam Kristus.
Efesus 4:11–16 memberikan gambaran tentang bagaimana Allah merancang gereja-Nya. Setelah Kristus mati, bangkit, dan naik ke surga, Ia tidak meninggalkan umat-Nya begitu saja. Ia memberikan karunia berupa orang-orang yang dipanggil secara khusus: rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar. Mereka ini adalah hadiah dari Kristus bagi gereja. Jadi kalau kita punya pendeta, penginjil, guru sekolah minggu, penatua, atau pengajar Alkitab, itu bukan sekadar hasil pemilihan atau kebiasaan gereja, melainkan pemberian Kristus sendiri.
Tetapi tujuan dari pemberian itu bukan supaya pemimpin rohani menjadi tokoh besar. Bukan pula supaya mereka melakukan semua pelayanan sendirian. Paulus menegaskan, tugas mereka adalah memperlengkapi orang-orang kudus, yaitu kita semua, supaya siap melakukan pekerjaan pelayanan, sehingga tubuh Kristus dibangun. Artinya, gereja bukan tempat di mana hanya pendeta yang bekerja sementara jemaat hanya duduk mendengar. Tidak! Gereja adalah tubuh, dan setiap anggota punya peran. Gembala ada untuk melatih jemaat, supaya setiap orang bisa ikut terlibat.
Saudara-saudara, kita bisa membayangkan gereja itu seperti sebuah tim sepak bola. Kalau hanya pelatih yang bermain, pasti tim itu kalah. Tetapi kalau semua pemain turun ke lapangan sesuai posisi masing-masing, ada yang jadi penyerang, gelandang, bek, dan kiper, barulah tim itu kuat. Begitu juga gereja. Ada yang dipanggil untuk bernyanyi memimpin pujian, ada yang dipanggil untuk mengajar anak-anak, ada yang rajin berdoa, ada yang menolong sesama, ada yang memberi, ada yang menyambut jemaat dengan senyum. Semua itu penting dan berharga.
Mari saya bawa lebih dekat lagi dengan kehidupan kita di Nias. Ketika ada pesta besar adat, apakah mungkin satu keluarga mengerjakan semuanya sendirian? Tidak mungkin. Semua anggota keluarga ikut terlibat: ada yang memotong babi, ada yang memasak, ada yang menata kursi, ada yang menyambut tamu, dll. Kalau hanya satu orang yang bekerja, pesta itu tidak jalan. Begitu juga gereja. Kalau hanya pendeta yang melayani, gereja akan lemah. Tetapi kalau semua anggota bergerak bersama, tubuh Kristus akan bertumbuh dengan indah.
Namun Paulus tidak berhenti di situ. Ia berkata, tujuan akhirnya adalah supaya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, supaya kita bertumbuh menjadi dewasa penuh, sampai mencapai ukuran kepenuhan Kristus. Kedewasaan rohani inilah yang Allah kehendaki bagi kita. Apa tandanya jemaat yang dewasa? Paulus menjelaskan: orang yang dewasa tidak lagi mudah digoyahkan oleh ajaran-ajaran baru yang menyesatkan. Orang yang dewasa belajar berkata benar, tetapi selalu dengan kasih. Orang yang dewasa makin hari makin serupa dengan Kristus, Sang Kepala.
Mari kita renungkan. Di zaman sekarang, banyak sekali ajaran yang bertebaran, baik melalui media sosial, YouTube, atau kelompok-kelompok tertentu. Ada yang manis di telinga, penuh janji berkat, tetapi tidak sesuai dengan firman Tuhan. Kalau kita tidak bertumbuh, kita akan mudah terbawa arus. Tetapi kalau kita berakar di dalam Kristus, kita tidak mudah goyah. Sama seperti pohon kelapa di tepi pantai yang walaupun diterpa angin besar, tetap berdiri tegak karena akarnya menghujam dalam. Begitulah seharusnya iman kita: kuat, kokoh, dan tidak mudah tumbang.
Dan kedewasaan itu tampak ketika kita belajar “berbicara kebenaran dalam kasih.” Kebenaran tanpa kasih bisa melukai, sedangkan kasih tanpa kebenaran bisa menyesatkan. Tetapi kebenaran yang disampaikan dalam kasih akan membangun. Inilah yang membuat gereja bertumbuh, bukan dengan kemarahan atau gosip, melainkan dengan kasih Kristus.
Paulus menutup bagian ini dengan gambaran tubuh yang luar biasa: seluruh tubuh, yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu, bertumbuh sesuai dengan peran setiap bagian. Pertumbuhan gereja bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan hasil kerja sama semua anggota tubuh.
Mari saya beri contoh sederhana. Kalau kita membangun rumah Nias, tidak ada satu orang pun yang bisa melakukannya sendirian. Ada tukang kayu, tukang batu, orang yang mengikat kayu, bahkan orang yang hanya bertugas membawa air minum untuk para pekerja. Semuanya penting, dan tanpa mereka rumah itu tidak akan berdiri. Gereja pun demikian. Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil. Bahkan doa seorang nenek di rumah, atau senyum seorang anak kecil di pintu gereja, semuanya membangun tubuh Kristus.
Karena itu, saudara-saudara, marilah kita berhenti menjadi penonton. Jangan hanya datang, duduk, dengar, lalu pulang. Jadilah pelaku tubuh Kristus. Temukan karunia yang Tuhan beri dan gunakan untuk membangun jemaat. Jika semua anggota tubuh bergerak bersama, gereja akan sehat, kuat, dan bertumbuh.
Efesus 4:11–16 mengajarkan tiga hal penting. Pertama, Kristuslah yang memberikan pemimpin rohani sebagai karunia bagi gereja. Kedua, tujuan dari karunia itu adalah memperlengkapi jemaat supaya semua bisa melayani. Ketiga, sasaran akhirnya adalah kedewasaan rohani dalam Kristus.
Jemaat yang dewasa bukan hanya yang ramai program, tetapi yang hidup dalam kasih. Jemaat yang dewasa bukan hanya yang rajin beribadah, tetapi yang hidupnya jadi berkat di tengah masyarakat. Jemaat yang dewasa bukan hanya yang fasih berkata, tetapi yang tekun melakukan firman.
Kiranya firman ini menggugah hati kita: apakah kita sudah bertumbuh menuju kedewasaan? Apakah kita sudah menggunakan karunia kita untuk membangun tubuh Kristus? Mari kita berdoa agar Tuhan menolong kita menjadi jemaat yang dewasa, kokoh, dan penuh kasih, sehingga gereja-Nya di tengah dunia ini sungguh menjadi terang dan garam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar