Kamis, 30 Oktober 2025

TUHAN Mendengar Seruan Hamba-Nya - Irongo We'ao Genoni-Nia Yehowa (Nehemia 1:1–11)

Khotbah Minggu, 02 November 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1:1. Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan,
1:2 datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem.
1:3 Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar."
1:4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,
1:5. kataku: "Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya,
1:6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.
1:7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.
1:8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.
1:9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.
1:10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?
1:11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja.


Pernahkah Bapak/Ibu mencoba menelepon seseorang, tapi di layar tertulis: “Sinyal lemah” atau bahkan “Tidak ada jaringan”? Biasanya kita langsung panik, keluar rumah, naik ke tempat tinggi, atau berputar-putar mencari posisi terbaik supaya sinyal kembali muncul. Kita tahu, tanpa sinyal, kita tidak bisa terhubung. Lucunya, untuk sinyal HP saja kita bisa begitu peduli, tapi untuk “sinyal rohani” kita dengan Tuhan; kita sering santai saja walau sudah lama terputus.

Nehemia mengajarkan hal yang berbeda. Ia hidup dalam kenyamanan istana Persia, jauh dari penderitaan bangsanya. Namun ketika ia mendengar kabar bahwa Yerusalem telah porak-poranda, temboknya runtuh, dan umat Allah hidup dalam kehinaan, hatinya terguncang. Ia sadar bahwa hubungan bangsanya dengan Tuhan sedang “kehilangan sinyal.” Maka ia tidak diam: ia mencari kembali hubungan itu lewat doa, puasa, dan air mata. Ia tahu bahwa pemulihan tidak dimulai dari tangan manusia, tetapi dari hati yang berserah kepada Allah.

Kisah ini mengajak kita merenung: apakah hubungan kita dengan Tuhan masih kuat, atau sudah mulai kehilangan sinyal? Apakah hati kita masih peka terhadap keadaan rohani keluarga, gereja, dan masyarakat kita? Dari reaksi Nehemia, kita belajar bahwa pemulihan rohani selalu dimulai dari hati yang peduli dan doa yang sungguh-sungguh. Ketika ia mendengar kabar itu, Alkitab mencatat: “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (ay. 4).

Nehemia tidak langsung bertindak secara tergesa-gesa. Ia tidak menyusun rencana atau strategi politik. Ia memulai dari tempat yang paling benar; berlutut di hadapan Tuhan. Inilah inti kehidupan iman: sebelum kita bekerja, kita berdoa; sebelum kita bergerak, kita menyerahkan segalanya kepada Allah. Sebab doa bukanlah pelarian dari tanggung jawab, melainkan langkah pertama menuju tindakan yang penuh iman. Dari doa Nehemia kita akan melihat bagaimana Allah bekerja: bagaimana doa yang lahir dari hati yang hancur dapat menggerakkan kuasa Tuhan, menuntun perubahan, dan memulai pemulihan besar dalam kehidupan umat-Nya. Mari kita lihat bersama isi doa Nehemia dan apa yang dapat kita pelajari darinya hari ini.

Doa yang didengar Tuhan lahir dari hati yang hancur dan peduli (ayat 4)
Ketika Nehemia mendengar kabar tentang keadaan Yerusalem, ia tidak menutup hati. Ia duduk, menangis, berkabung, berpuasa, dan berdoa. Urutan ini bukan kebetulan: itu menunjukkan bahwa sebelum ia berbicara kepada Tuhan, hatinya lebih dulu remuk oleh penderitaan bangsanya. Ia merasakan apa yang dirasakan Allah sendiri: dukacita atas kehancuran umat-Nya.

Inilah awal dari setiap kebangunan rohani: hati yang peka terhadap kehendak Allah dan penderitaan sesama. Banyak orang berdoa, tetapi sedikit yang berdoa dengan air mata. Banyak yang berseru, tetapi tidak banyak yang sungguh peduli. Nehemia mengajarkan kita bahwa doa sejati tidak lahir dari lidah yang fasih, melainkan dari hati yang hancur. Bila kita ingin Tuhan mendengar doa kita, biarlah kita terlebih dahulu mendengar jeritan dunia di sekitar kita: keluarga yang retak, gereja yang lemah, masyarakat yang kehilangan arah. Dari sana, lahirlah doa yang menggetarkan surga.

Doa yang didengar Tuhan disertai dengan pengakuan dan kerendahan hati (ayat 5–7)
Nehemia memulai doanya dengan pengakuan iman yang dalam: “Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya...” (ay. 5). Ia tahu kepada siapa ia berdoa: bukan kepada Allah yang jauh, melainkan Allah yang setia memegang janji-Nya. Namun, di hadapan Allah yang agung itu, Nehemia juga merendahkan diri. Ia mengaku: “Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, juga aku dan kaum keluargaku” (ay. 6b).

Nehemia tidak menuduh atau menyalahkan orang lain. Ia tidak berkata, “Mereka telah berdosa,” tetapi, “Kami telah berdosa.” Itulah tanda kerendahan hati yang sejati. Ia berdiri di hadapan Allah bukan sebagai orang benar yang minta pembenaran, melainkan sebagai orang berdosa yang minta pengampunan. Gereja yang ingin mengalami pemulihan harus mulai dari sini: dari pengakuan, bukan pembenaran diri; dari kerendahan hati, bukan kesombongan rohani. Doa yang jujur dan rendah hati selalu didengar oleh Allah yang setia.

Doa yang didengar Tuhan berpegang pada janji-Nya dan mendorong tindakan nyata (ayat 8–11)
Dalam doanya, Nehemia mengingatkan Tuhan akan firman yang disampaikan kepada Musa: “Bila kamu berbalik kepada-Ku ... maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali” (ay. 9). Ia berdoa berdasarkan janji Tuhan, bukan perasaannya. Itulah iman yang sejati, berpegang pada firman, bukan pada keadaan.

Namun doa Nehemia tidak berhenti pada kata-kata. Ia mengakhiri doanya dengan permohonan yang penuh keyakinan: “Biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini” (ay. 11). Ia tahu bahwa untuk memulai pemulihan, ia harus melangkah: berbicara dengan Raja Artahsasta, memohon izin, dan akhirnya memimpin pembangunan kembali Yerusalem. Doa sejati tidak membuat kita pasif; doa sejati justru menggerakkan kita menjadi bagian dari jawaban doa itu sendiri.

Mungkin Tuhan sedang memanggil kita, seperti Nehemia, untuk menjadi jawaban bagi doa kita sendiri: menjadi pembawa pemulihan di keluarga, gereja, dan masyarakat. Posisi, talenta, bahkan kesempatan kecil yang kita miliki bukan kebetulan; itu semua adalah penempatan ilahi agar kita dapat dipakai-Nya.

Tuhan Masih Mendengar Seruan Hamba-Nya
Kisah Nehemia adalah kisah tentang hati yang peduli, mulut yang berdoa, dan tangan yang siap bekerja. Di tengah kenyamanan istana, ia tidak menutup mata terhadap penderitaan bangsanya. Ia berdoa dengan hati yang hancur, mengaku dosa dengan rendah hati, dan berpegang pada janji Tuhan dengan iman yang teguh. Dari doa itulah lahir sebuah gerakan besar pemulihan. Yerusalem dibangun kembali, dan nama Tuhan dipulihkan di tengah bangsa-bangsa.

Tuhan yang sama masih bekerja hari ini. Ia masih mendengar doa orang yang berseru dengan hati tulus. Mungkin tembok yang runtuh di sekitar kita bukan lagi tembok batu seperti Yerusalem, melainkan tembok iman yang goyah, tembok kasih yang retak, tembok pengharapan yang mulai rapuh. Namun Allah yang membangkitkan Nehemia sanggup membangkitkan kita juga. Mari kita datang kepada-Nya dengan hati yang lembut, dengan doa yang lahir dari kasih, dan dengan kesiapan untuk dipakai Tuhan menjadi alat pemulihan.

Jangan tunggu orang lain. Biarlah pemulihan dimulai dari diri kita. Biarlah doa kita hari ini bukan hanya meminta Tuhan bertindak, tetapi juga berkata: “Tuhan, pakailah aku.” Sebab ketika hati kita berdoa, tangan kita bekerja, dan iman kita berpegang pada janji Tuhan, maka tembok-tembok yang runtuh itu akan dibangun kembali: satu demi satu, untuk kemuliaan nama-Nya.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! (Yosua 24:15b)

Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

Setiap kali kita mendengar kalimat, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”, hati kita tersentuh. Ayat ini sering kita tulis di dinding rumah, di hiasan ruang tamu, atau dijadikan motto keluarga. Tetapi, mari kita lihat ayat itu bukan hanya sebagai hiasan, melainkan sebagai keputusan iman yang lahir dari pergumulan panjang dan kesadaran rohani yang mendalam.

Yosua tidak mengucapkan kalimat itu dengan mudah. Ia mengatakannya di penghujung hidupnya, setelah melihat perjalanan panjang Israel dari Mesir, padang gurun, hingga Kanaan. Ia tahu betapa mudahnya umat Tuhan berubah hati. Ia tahu betapa sering mereka bersumpah setia kepada TUHAN tetapi kemudian berpaling kepada allah lain. Karena itu, pernyataan Yosua ini bukan slogan. Ini pernyataan iman seorang pemimpin yang memilih berpihak kepada Allah di tengah dunia yang menolak kesetiaan.

1. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” – Iman selalu menuntut keputusan
Yosua memanggil seluruh umat di Sikhem. Ia tidak hanya ingin berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ia mengingatkan umat bahwa Allah telah membawa mereka dari Mesir, memelihara di padang gurun, memberi mereka tanah Kanaan — semuanya karena kasih karunia, bukan karena kehebatan mereka.

Lalu Yosua berkata: “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Yosua tidak memaksa. Ia memberi kebebasan, tetapi juga menegaskan tanggung jawab. Setiap generasi Israel harus memilih sendiri apakah akan tetap setia kepada TUHAN atau mengikuti allah lain.

Demikian juga dengan kita hari ini. Kita tidak bisa hidup di atas iman orang tua kita, atau iman pendeta kita. Kita harus memilih sendiri kepada siapa kita beribadah. Iman yang hidup bukanlah warisan pasif, melainkan keputusan aktif setiap hari.

Pertanyaannya bagi kita:
Di tengah dunia yang penuh kompromi, kepada siapa kita berpihak? Siapa yang sungguh kita sembah – Allah yang hidup, atau allah-allah modern yang sering kita biarkan mengambil hati kita: uang, kuasa, kenyamanan, dan ego?

2. “Aku dan seisi rumahku” – Iman yang dimulai dari rumah
Yosua berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Yosua tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri. Ia tidak berkata, “Aku akan beribadah kepada TUHAN, dan biarlah yang lain memilih jalannya sendiri.” Tidak! Ia menyebut “seisi rumahku.” Artinya, iman sejati tidak berhenti di diri sendiri; ia menular ke dalam keluarga. Yosua memahami satu prinsip penting: Misi Allah selalu dimulai dari rumah.

Jika kita ingin gereja misioner, mulailah dari keluarga yang misioner. Jika kita ingin bangsa takut akan Tuhan, mulailah dari rumah yang takut akan Tuhan. Keluarga Yosua menjadi pusat kesetiaan di tengah bangsa yang mudah goyah. Dan itulah yang Tuhan mau dari kita. Keluarga bukan hanya tempat tinggal; keluarga adalah tempat penyembahan. Bukan hanya tempat makan bersama, tapi tempat iman dipelajari, kasih dilatih, dan misi dijalankan.

3. “Kami akan beribadah kepada TUHAN” – Kesetiaan di tengah banyak pilihan
Yosua hidup di tengah masyarakat yang plural – banyak allah, banyak kuil, banyak pilihan. Orang Kanaan punya dewa-dewi kesuburan, panen, perang, dan kesuksesan. Setiap bidang hidup ada dewanya. Bukankah itu juga dunia kita hari ini? Kita hidup di dunia dengan “banyak dewa” modern – bukan dalam bentuk patung, tapi sistem nilai yang menyaingi Allah:
Materialisme yang berkata, “uang adalah jawabannya.”
Individualisme yang berkata, “yang penting aku bahagia.”
Relativisme yang berkata, “tidak ada kebenaran mutlak.”

Yosua menantang umat untuk membuat pilihan yang tegas: “Kalau kamu mau menyembah allah lain, silakan. Tapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Itulah ketegasan iman. Ia tidak menunggu orang lain setuju. Ia tidak menyesuaikan diri dengan arus. Ia berdiri teguh meski minoritas, karena ia tahu kepada siapa ia percaya.

Hari ini gereja juga dipanggil untuk memiliki ketegasan seperti Yosua: “Gereja yang setia bukanlah gereja yang menyesuaikan diri dengan dunia, tetapi gereja yang tetap setia kepada Allah meski dunia berubah arah.”

4. “Kami akan beribadah kepada TUHAN” – Misi adalah bentuk penyembahan
Perayaan misi seperti hari ini bukan sekadar program tahunan, tetapi panggilan untuk memperbarui komitmen kita seperti di Sikhem. Yosua memperbarui perjanjian umat dengan Allah – kita pun memperbarui komitmen misi kita kepada Kristus. Bagi Yosua, beribadah kepada TUHAN tidak hanya berarti ritual di kemah suci, tetapi seluruh hidup yang tunduk kepada kehendak Allah. Ibadah sejati bukan hanya di altar, tetapi juga di ladang, di rumah, di pasar, di sekolah, di dunia kerja. Misi gereja lahir dari penyembahan. Ketika kita sungguh menyembah TUHAN, kita akan mendengar suara-Nya berkata, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8). Dan seperti Yesaya, kita akan berkata: “Ini aku, utuslah aku!”

Keluarga yang beribadah kepada TUHAN akan menjadi keluarga yang diutus oleh TUHAN. Ibadah sejati akan selalu melahirkan misi sejati.

5. Kesetiaan bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah setia
Namun, Yosua tahu – umat Israel itu lemah. Ia bahkan berkata, “Kamu tidak dapat beribadah kepada TUHAN, karena Ia adalah Allah yang kudus dan cemburu.”

Yosua sadar, komitmen manusia sering rapuh. Sejarah Israel membuktikan: mereka sering berkata “Kami akan setia,” tapi kemudian berkhianat. Namun syukur kepada Allah – masa depan umat Allah tidak tergantung pada keteguhan manusia, melainkan pada kesetiaan Allah sendiri. Di dalam Kristus, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya yang sempurna. Ketika kita jatuh, Ia tetap mengasihi. Ketika kita tidak setia, Ia tetap setia, sebab Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Timotius 2:13).

Inilah Injil dalam kitab Yosua: Kesetiaan Allah lebih besar dari ketidaksetiaan kita. Kasih Allah lebih kuat dari dosa kita. Dan anugerah Allah memberi kita kekuatan untuk tetap memilih Dia setiap hari.

6. Misi yang dimulai dari rumah
Melalui kata-kata Yosua, Tuhan memanggil kita untuk memperbarui pilihan iman kita: “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Mungkin dunia berkata: “Tidak usah terlalu fanatik.” Tetapi Yosua berkata: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Mari kita jadikan kalimat ini bukan hanya hiasan di rumah, tetapi napas hidup kita setiap hari.

Mari kita:
Menjadikan rumah kita sebagai tempat penyembahan.
Menjadikan keluarga kita sebagai ladang misi pertama.
Menjadikan gereja kita sebagai tanda kesetiaan kepada Allah di tengah dunia yang berubah.

Karena pada akhirnya, kesaksian hidup kita akan lebih kuat daripada kata-kata kita. Dan dari keluarga-keluarga yang beribadah kepada TUHAN, Allah akan membangun gereja yang misioner – gereja yang menjadi terang dan garam dunia.

Kamis, 23 Oktober 2025

Diperlengkapi untuk Setiap Perbuatan Baik (2 Timotius 3:10–17)

Bahan Khotbah Minggu, 26 Oktober 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.
11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.
12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,
13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.
14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Bayangkan sejenak seorang rasul tua duduk di sebuah ruang penjara yang dingin di kota Roma. Tangan dan kakinya terikat rantai, tubuhnya lemah karena usia, tetapi hatinya menyala penuh semangat. Ia tahu bahwa hidupnya di dunia tidak lama lagi. Dalam kesendirian dan penderitaan itu, ia mengambil pena dan menulis surat untuk seseorang yang sangat ia kasihi, bukan untuk seorang pejabat atau orang kaya, melainkan untuk anak rohaninya, Timotius.

Surat ini adalah warisan iman. Sebuah surat perpisahan dari seorang ayah rohani kepada anak yang akan melanjutkan pelayanan. Paulus tidak menulis dengan nada putus asa, melainkan dengan kasih, pengharapan, dan keyakinan bahwa api Injil akan terus menyala, sekalipun dirinya akan segera beristirahat.

Timotius pada waktu itu melayani jemaat di Efesus, sebuah kota besar yang penuh dengan kebanggaan budaya Yunani, penyembahan berhala, dan ajaran palsu. Gereja sedang mengalami tekanan dari luar dan keretakan dari dalam. Banyak orang meninggalkan iman, bahkan sebagian pelayan menjadi tawar hati. Dalam keadaan seperti itulah Paulus menulis: “Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku” (ayat 10).

Kalimat ini menggambarkan hubungan yang sangat dalam. Timotius tidak hanya mendengar khotbah Paulus, tetapi ia melihat hidup Paulus. Ia melihat bagaimana Paulus tetap sabar saat diserang, tetap mengasihi saat disalahpahami, dan tetap bersyukur meski dipenjara. Timotius pernah menyaksikan sendiri bagaimana gurunya dianiaya di Listra, kampung halamannya. Ia tahu bahwa penderitaan bukan cerita dari jauh, itu nyata, dan terjadi pada orang yang ia teladani. Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat penting: iman sejati bukan hanya diajarkan, tetapi dihidupi.

Paulus tidak sekadar mengajar teologi; ia hidup dalam Injil. Karena itu ia bisa berkata kepada Timotius, “Engkau telah melihat hidupku.” Kalau kita ingin generasi muda belajar tentang iman, jangan hanya ajarkan kata-kata. Tunjukkanlah lewat kehidupan. Anak-anak, remaja, dan jemaat tidak akan diubah oleh khotbah yang panjang, tetapi oleh teladan hidup yang nyata. Paulus menjadi Injil yang berjalan, dan Timotius menjadi murid yang belajar lewat keteladanan itu.

Namun Paulus tidak menutupi kenyataan bahwa mengikuti Kristus bukan jalan yang mudah. Ia berkata dengan jujur: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (ayat 12).

Ini bukan ancaman, melainkan kebenaran iman. Menjadi murid Kristus berarti siap melawan arus dunia. Kesetiaan kepada Kristus sering kali membawa kita kepada penderitaan, bukan kenyamanan. Tetapi penderitaan itu bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan tanda bahwa kita sedang berjalan di jalan yang benar. Paulus tahu betul bahwa orang jahat dan penyesat akan makin jahat dan menyesatkan diri mereka sendiri. Namun ia tidak ingin Timotius putus asa. Sebaliknya, ia mengingatkan: “Tetaplah berpegang pada apa yang telah engkau pelajari dan engkau yakini.” Dalam kata lain, jangan biarkan dunia mengubah imanmu; biarkan imanmu mengubah dunia.

Lalu Paulus menarik Timotius kembali kepada akarnya, kepada masa kecilnya: “Ingatlah bahwa engkau telah mengenal Kitab Suci sejak kecil, yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun kepada keselamatan oleh iman dalam Kristus Yesus” (ayat 15).

Timotius tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dalam keluarga yang beriman. Neneknya Lois dan ibunya Eunike menanamkan Firman Tuhan dalam hidupnya sejak kecil. Mereka bukan orang terkenal, tapi mereka menjadi guru iman yang sejati. Mereka menanam benih yang akhirnya tumbuh menjadi pohon pelayanan yang kokoh. Saudara, ini pesan yang sangat kuat untuk kita semua: pembentukan iman dimulai dari rumah. Rumah yang berdoa, rumah yang membaca Firman, rumah yang meneladankan kasih Kristus, itulah ladang pertama dari setiap panggilan rohani. Gereja yang kuat lahir dari keluarga yang beriman.

Maka jangan remehkan doa seorang ibu, atau teladan seorang nenek, atau bacaan Alkitab kecil di rumah. Dari hal-hal kecil seperti itulah Tuhan menumbuhkan iman yang besar. Kemudian Paulus mengakhiri bagian ini dengan satu pernyataan yang menjadi dasar iman gereja sepanjang masa: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, menegur, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran, supaya setiap manusia Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (ayat 16–17).

Inilah puncak pengakuan iman Paulus: Firman Allah adalah nafas Allah sendiri. Alkitab bukan sekadar kumpulan tulisan manusia, tetapi dihembuskan oleh Roh Allah yang hidup. Karena itu, Firman memiliki kuasa untuk mengubah hidup kita. Paulus menyebut empat fungsi utama Firman:
1. Mengajar – membentuk pikiran kita supaya mengenal kebenaran.
2. Menegur – menyentuh hati nurani ketika kita salah arah.
3. Memperbaiki kelakuan – menuntun perilaku kita kembali ke jalan Tuhan.
4. Mendidik dalam kebenaran – melatih kita menjadi pribadi yang berkarakter Kristus.

Dengan kata lain, Firman bukan hanya memberi informasi, tetapi melakukan transformasi. Ia bukan hanya bahan untuk studi Alkitab, tetapi nafas bagi kehidupan. Paulus menegaskan bahwa Firman memperlengkapi kita untuk setiap perbuatan baik. Kata “memperlengkapi” di sini berarti membuat seseorang siap secara menyeluruh, seperti tukang yang memiliki semua alat kerja. Firman membuat kita siap menghadapi kehidupan, siap melayani, siap mengasihi, dan siap bertahan dalam penderitaan.

Di tengah dunia modern yang penuh ideologi, hoaks, dan ajaran palsu, kita membutuhkan fondasi yang tidak terguncang. Dunia bisa berubah, tren bisa berganti, tetapi Firman Tuhan tetap sama. Hanya Firman yang diilhamkan Allah yang dapat menjadi pedoman, penghibur, dan kekuatan bagi kita semua. Karena itu, kalau gereja ingin tetap hidup, maka gereja harus terus berakar pada Firman. Jika kita menjauh dari Firman, maka kita seperti pohon yang dicabut dari tanah, hijau sebentar, tetapi pasti akan layu. Namun jika kita berakar dalam Firman, meski badai datang, kita akan tetap berdiri teguh.

Surat Paulus kepada Timotius ini adalah warisan iman dari seorang rasul yang sudah melewati jalan penderitaan. Ia tahu sebentar lagi waktunya akan tiba. Tetapi sebelum meninggalkan dunia, ia menulis agar generasi baru tetap setia. Hari ini, surat itu juga sampai kepada kita. Kepada setiap pendeta, penatua, guru, orang tua, anak muda, dan seluruh jemaat, Tuhan berkata: “Berpeganglah pada Firman-Ku. Hidupilah imanmu. Dan biarlah Aku memperlengkapimu untuk setiap perbuatan baik.”

Itulah panggilan kita.
Menjadi manusia Allah yang tidak hanya tahu tentang kebaikan, tetapi melakukan kebaikan.
Menjadi pelayan yang tidak hanya mengerti Firman, tetapi menghidupinya.
Menjadi keluarga yang tidak hanya berdoa di gereja, tetapi juga membangun mezbah di rumah.

Rabu, 15 Oktober 2025

Aku telah Melihat Allah – No U’ila Lowalangi (Kejadian 32:22-32)

Bahan Khotbah Minggu, 19 Oktober 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

22 Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok.
23 Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya.
24 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
25 Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
26 Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku."
27 Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub."
28 Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."
29 Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.
30 Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"
31 Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.
32 Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya.

Pendahuluan
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan, kepintaran, atau pengalaman kita. Saat-saat itu sering datang tiba-tiba, seperti malam panjang yang tidak berujung, ketika kita merasa sendirian dan tak berdaya. Namun justru di dalam malam seperti itulah, Tuhan seringkali menampakkan diri.

Itulah yang dialami oleh Yakub di tepi Sungai Yabok. Ia sendirian. Ia gelisah. Esok hari ia harus berhadapan dengan Esau, saudaranya yang dulu ia tipu. Yakub tahu, kali ini tidak ada lagi cara untuk lari. Dan di tengah malam itulah, ia berjumpa dengan Allah, bukan dalam kenyamanan, tetapi dalam pergumulan.

Kisah ini diakhiri dengan satu kalimat yang indah sekaligus mengguncang hati:
“Aku telah melihat Allah muka dengan muka, tetapi nyawaku tertolong.” (Kej. 32:31)

Mari kita renungkan bersama: bagaimana mungkin seseorang bisa melihat Allah, bergumul dengan-Nya, terluka, tetapi tetap hidup dan bahkan diberkati?
 

Malam di Tepi Sungai Yabok
Yakub bukan orang asing bagi pergumulan. Hidupnya sudah mulai dengan pergumulan, bahkan sejak dalam kandungan, ia sudah memegang tumit Esau, kakaknya. Namanya sendiri, Yakub, berarti “penipu” atau “pengganti tumit”, sebuah gambaran tentang hidup yang selalu ingin mendahului, selalu ingin menang dengan caranya sendiri.

Namun malam di tepi Sungai Yabok itu berbeda. Yakub telah menyeberangkan seluruh keluarganya, seluruh hartanya, dan ia tinggal seorang diri. Ia yang biasanya dikelilingi orang, kini ditinggalkan dalam kesunyian.

Tuhan sering membawa kita pada titik seperti itu, titik di mana semua pegangan duniawi dilepaskan, agar kita benar-benar hanya bergantung kepada-Nya. Ketika kita tidak lagi punya siapa-siapa, barulah kita sadar bahwa yang tersisa hanyalah Tuhan… dan tentu saja diri kita sendiri. Malam itu, Yakub tidak tahu bahwa Allah sedang menunggunya di sana.


Allah yang Datang dalam Bentuk yang Misterius
Tiba-tiba, seorang “manusia” datang dan bergulat dengannya sampai fajar menyingsing. Siapakah dia? Teks tidak memberi jawaban pasti. Ia disebut “manusia”, tetapi kemudian Yakub menyadari bahwa ia telah berjumpa dengan Allah sendiri.

Perjumpaan dengan Allah seringkali tidak datang dalam bentuk yang kita harapkan. Ia tidak selalu datang dalam cahaya terang, tetapi kadang dalam kegelapan. Ia tidak selalu datang dalam kelembutan, tetapi dalam pergumulan yang menyakitkan.

Tuhan hadir dalam bentuk yang membuat kita harus berjuang, agar iman kita menjadi nyata. Kadang Tuhan harus “bergulat” dengan kita untuk mematahkan keangkuhan kita, untuk menghancurkan rasa aman palsu kita, agar kita benar-benar mengenal siapa diri kita di hadapan-Nya.

Apakah kita pernah mengalami hal serupa?
Mungkin bukan secara fisik, tetapi batin kita pernah bergumul keras dengan Tuhan, tentang penderitaan, tentang masa lalu, tentang kehilangan. Dan di tengah pergumulan itu, tanpa kita sadari, kita sebenarnya sedang melihat wajah Allah yang mendidik, menegur, sekaligus mengasihi.


Luka yang Menjadi Tanda Kasih
Ketika makhluk itu melihat bahwa ia tidak dapat mengalahkan Yakub, ia memukul sendi pangkal paha Yakub hingga terkilir. Sejak saat itu Yakub berjalan pincang. Tetapi inilah misterinya: luka itu bukan kutuk, melainkan berkat.

Yakub keluar dari perjumpaan itu bukan dengan kemenangan duniawi, tetapi dengan tubuh yang pincang dan hati yang diperbarui. Ia yang selama ini menang karena tipu muslihat, kini menang karena ketekunan iman. Ia yang dulu kuat oleh kelicikannya, kini kuat justru karena kelemahannya.

Tuhan memang kadang melukai untuk menyembuhkan. Ia menegur untuk memperbarui. Ia melumpuhkan kesombongan kita agar kita bisa berjalan dengan rendah hati.

Luka Yakub menjadi tanda bahwa ia pernah berjumpa dengan Allah. Dan banyak dari kita pun punya “luka-luka”, bekas pergumulan hidup yang justru menjadi kesaksian tentang kasih Tuhan. Setiap pincang yang kita bawa, setiap air mata yang pernah kita jatuhkan, dapat menjadi tanda bahwa kita pernah disentuh oleh tangan Allah.


Nama Baru, Hidup Baru
Lalu Allah bertanya, “Siapa namamu?” Yakub menjawab, “Yakub.” Dengan mengucapkan itu, ia seolah mengakui: “Aku ini penipu. Aku ini orang yang selalu mengandalkan caraku sendiri.” Dan Tuhan menjawab, “namamu tidak akan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul dengan Allah dan dengan manusia, dan engkau menang.”

Inilah titik perubahan terbesar dalam hidup Yakub. Ia tidak lagi ditentukan oleh masa lalunya, tetapi oleh perjumpaannya dengan Allah. Nama baru itu: Israel, berarti “Allah berjuang” atau “yang berjuang bersama Allah.” Mulai saat itu, Yakub bukan lagi orang yang melawan manusia demi berkat, melainkan orang yang berjuang bersama Allah untuk hidup dalam perjanjian-Nya.

Saudara-saudari, perjumpaan sejati dengan Allah selalu melahirkan perubahan identitas. Bukan hanya cara kita hidup yang berubah, tetapi siapa kita di hadapan Allah. Mungkin nama lama kita adalah “orang takut”, “orang gagal”, “orang berdosa.” Namun ketika kita bergumul dengan Allah dan bertahan dalam iman, Tuhan memberi nama baru: “anak-Ku yang kukasihi”, “pemenang”, “yang disembuhkan.”


Aku Telah Melihat Allah
Ketika fajar tiba, Yakub menamai tempat itu Peniel, artinya “Wajah Allah.”
Ia berkata, “Aku telah melihat Allah muka dengan muka, tetapi nyawaku tertolong.”

Inilah puncak pengalaman Yakub: ia melihat Allah, bukan saja dengan mata jasmani, melainkan dengan hati yang telah dilunakkan oleh pergumulan. Ia mengenal Allah bukan sebagai konsep, tetapi sebagai Pribadi yang hidup, yang hadir, yang bergulat bersamanya di malam paling gelap dalam hidupnya.

Dan karena itu, Yakub tahu: jika ia bisa bertahan dalam perjumpaan itu dan tetap hidup, maka esok hari, apapun yang akan dihadapinya, tidak akan lebih berat daripada malam ini. Ia telah melihat Allah, dan itu cukup.

Setiap orang percaya yang sungguh-sungguh melewati malam gelap bersama Tuhan akan mengucapkan hal yang sama: “aku telah melihat Allah.” Melihat-Nya bukan di gunung kemuliaan, tetapi di lembah air mata. Melihat-Nya bukan saat semua baik-baik saja, tetapi ketika hati hancur dan kita tetap berkata, “aku percaya.”


Melihat Allah di Tengah Pergumulan Hidup
Hari ini, Tuhan juga mengundang kita untuk mengalami “Peniel” kita masing-masing. Mungkin itu di tengah penyakit yang tak kunjung sembuh. Mungkin di tengah keluarga yang sedang retak. Mungkin di tengah rasa bersalah, rasa kecewa, atau ketakutan yang dalam.

Tuhan tidak menjanjikan jalan mudah, tetapi Ia menjanjikan “hadir-Nya.” Dan ketika kita berani bergumul dengan-Nya, bukan lari, bukan menyerah, kita akan melihat wajah-Nya di balik setiap air mata. Seperti Yakub, mungkin kita akan keluar dari pergumulan itu dengan “pincang”, dengan bekas luka.

Namun justru di situlah kita menemukan kekuatan yang baru, iman yang matang, dan hati yang benar-benar mengenal Tuhan.

Perjumpaan Yakub di tepi Sungai Yabok mengajarkan bahwa Allah bukan hanya Allah yang jauh di langit, tetapi Allah yang mau “bergulat” dengan manusia, yang mau menyentuh dan melukai agar menyembuhkan, yang mau dikenal secara pribadi. Ketika Yakub berkata, “aku telah melihat Allah,” itu bukan pernyataan sombong, tetapi pengakuan penuh syukur dan gentar:
“aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong.”

Kiranya malam-malam gelap dalam hidup kita juga menjadi tempat di mana kita berkata hal yang sama: “aku telah melihat Allah dalam pergumulanku. aku telah melihat kasih-Nya di tengah luka-lukaku. Dan karena itu, aku tahu, aku tidak akan berjalan sendirian lagi.” Amin

Kamis, 09 Oktober 2025

Memberitakan Injil dengan Sepenuh Hati – Fanuriagö Turia Somuso Dödö Soroi Dödö (Roma 1:8-15)

Bahan Khotbah Minggu, 12 Oktober 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

8 Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.
9 Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu:
10 Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.
11 Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu,
12 yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.
13 Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu--tetapi hingga kini selalu aku terhalang--agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.
14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.
15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

Surat Paulus kepada jemaat di Roma merupakan salah satu karya teologis yang paling dalam dan kaya dalam seluruh Perjanjian Baru. Namun di balik kedalaman teologinya, ada sesuatu yang sangat manusiawi dan hangat dalam bagian pembuka surat ini. Dalam Roma 1:8–15, kita melihat bukan hanya rasul besar yang berbicara dengan argumentasi yang kokoh, tetapi juga seorang gembala dan sahabat yang tulus, yang hatinya penuh dengan kasih, syukur, dan kerinduan yang dalam kepada umat Allah.

Paulus memulai dengan ungkapan syukur: “Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus karena kamu semua, sebab kabar tentang imanmu diberitakan di seluruh dunia.” Ungkapan ini menunjukkan hati seorang rasul yang bukan berpusat pada dirinya, tetapi pada karya Allah di antara umat-Nya. Ia bersyukur bukan karena pelayanan pribadinya diakui, melainkan karena iman jemaat Roma telah menjadi kesaksian yang hidup bagi dunia. Bagi Paulus, kabar tentang iman orang lain adalah alasan untuk bersyukur, bukan untuk iri atau bersaing. Ia tidak memandang pelayanan sebagai panggung kompetisi, melainkan sebagai ladang di mana Allah menumbuhkan hasil melalui siapa pun yang dipakai-Nya.

Rasa syukur itu segera diikuti oleh pernyataan yang menyentuh: Paulus mengatakan bahwa ia “senantiasa menyebut mereka dalam doa.” Betapa indahnya melihat seorang rasul yang besar dalam teologi, namun juga lembut dalam doa. Bagi Paulus, doa bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan ekspresi kasih dan kepedulian sejati. Ia menyebut jemaat Roma dalam doanya bahkan sebelum ia bertemu langsung dengan mereka. Di sinilah kita melihat model pelayanan yang sejati, pelayanan yang dimulai dari doa, bukan dari ambisi; pelayanan yang didorong oleh kasih, bukan oleh kebutuhan akan pengakuan.

Paulus kemudian menyatakan kerinduannya yang mendalam untuk berjumpa dengan mereka. Ia ingin memberikan karunia rohani kepada mereka agar mereka diteguhkan dalam iman. Tetapi ia segera menambahkan sesuatu yang menunjukkan kerendahan hatinya: ia tidak hanya ingin memberi, tetapi juga ingin menerima, “supaya aku dikuatkan bersama-sama dengan kamu oleh iman kita, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” Ini adalah pengakuan bahwa dalam persekutuan orang percaya, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setiap orang, termasuk rasul, membutuhkan penguatan dari iman saudara-saudari seiman. Pelayanan sejati selalu bersifat timbal balik: yang satu meneguhkan yang lain, dan semuanya tumbuh bersama dalam Kristus.

Namun kerinduan Paulus bukan hanya emosional atau personal. Ia adalah kerinduan yang berakar pada panggilan misioner. Dalam ayat 13–15, Paulus menyingkapkan motivasi terdalamnya: ia ingin memberitakan Injil juga kepada mereka yang di Roma, sebagaimana ia telah melakukannya di antara bangsa-bangsa lain. Ia ingin menghasilkan buah, bukan hanya di tempat-tempat yang sudah mengenal Injil, tetapi juga di pusat dunia saat itu — Roma, ibu kota kekaisaran. Dengan kata lain, kerinduan Paulus bukanlah nostalgia atau sekadar ingin berjumpa dengan teman lama, melainkan hasrat untuk melihat Injil Kristus menjangkau semua orang, tanpa batas geografis maupun sosial.

Kerinduan ini lahir dari kesadaran mendalam akan panggilan dan utang kasih Injil. Ia berkata, “Aku berhutang kepada orang Yunani dan orang bukan Yunani, kepada orang terpelajar dan orang tidak terpelajar.” Paulus menyadari bahwa kasih karunia yang diterimanya tidak boleh berhenti padanya. Injil yang menyelamatkan dia adalah Injil yang harus dibagikan kepada semua orang. Karena itu, ia merasa wajib, bukan karena paksaan, tetapi karena kasih Kristus yang menggerakkannya dari dalam. Ia bukan berhutang karena dosa, melainkan karena kasih karunia yang diterimanya terlalu besar untuk disimpan sendiri.

Bagian ini mengajarkan kepada kita tiga hal penting tentang hakikat pelayanan dan kehidupan rohani. Pertama, pelayanan yang sejati selalu lahir dari hati yang bersyukur. Syukur kepada Allah atas karya-Nya di antara umat akan menjaga kita dari sikap iri, kecewa, dan kering rohani. Ketika kita belajar bersyukur atas iman orang lain, kita sedang ikut membangun tubuh Kristus dengan sukacita. Kedua, pelayanan yang sejati dipelihara oleh doa. Tanpa doa, pelayanan menjadi aktivitas kosong yang cepat lelah dan mudah goyah. Doa menjaga motivasi kita tetap murni, mengingatkan kita bahwa kita hanyalah alat di tangan Allah. Ketiga, pelayanan yang sejati digerakkan oleh kerinduan untuk memberitakan Injil, bukan demi prestise, melainkan demi kasih kepada sesama yang belum mengenal Kristus.

Jika kita menatap kehidupan gereja masa kini, sering kali semangat seperti Paulus ini mulai pudar. Banyak pelayan gereja lebih sibuk menjaga posisi daripada menabur Injil; lebih sibuk mempertahankan kenyamanan daripada menjangkau yang belum percaya. Kita perlu kembali diingatkan bahwa panggilan setiap orang percaya adalah untuk menjadi saksi Kristus di manapun ia ditempatkan, baik di tengah keluarga, pekerjaan, sekolah, maupun masyarakat. Kerinduan Paulus untuk pergi ke Roma seharusnya membakar semangat kita untuk pergi ke “Roma-Roma” kecil di sekitar kita: ke orang-orang yang jauh dari gereja, ke mereka yang kehilangan harapan, ke yang belum mengenal kasih Allah yang sejati.

Pada akhirnya, bagian ini meneguhkan bahwa pelayanan sejati bukanlah tentang seberapa besar kita dikenal, tetapi seberapa tulus kita mengasihi. Paulus tidak menulis kepada jemaat Roma untuk menunjukkan otoritasnya, melainkan untuk membagikan kasih dan pengharapan. Ia adalah contoh hamba Tuhan yang besar karena hatinya kecil, rendah hati, lembut, dan penuh kasih. Di dalam dirinya, kerinduan bertemu dengan panggilan; kasih bertemu dengan misi; dan iman bertemu dengan tindakan.

Kiranya firman Tuhan hari ini menyalakan kembali di dalam diri kita kerinduan yang sama: kerinduan untuk bersyukur, berdoa, dan melayani dengan kasih yang murni. Seperti Paulus, marilah kita berkata: “Aku ingin memberitakan Injil juga kepada kamu yang diam di Roma.” Sebab di manapun ada manusia yang membutuhkan kasih Allah, di situlah tempat kita diutus. Tuhanlah yang memanggil, Tuhanlah yang menuntun, dan Tuhan jugalah yang akan memberikan buah pada waktunya.

Sabtu, 04 Oktober 2025

Tuhan Allah Mahakudus dan Mahatahu – Lowalangi Yehowa no Ni’amoni’ö ba Sangila fefu (HABAKUK 1:12–17)

Bahan Khotbah Minggu, 05 Oktober 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

12 Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.
13 Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?
14 Engkau menjadikan manusia itu seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak ada pemerintahnya?
15 Semuanya mereka ditariknya ke atas dengan kail, ditangkap dengan pukatnya dan dikumpulkan dengan payangnya; itulah sebabnya ia bersukaria dan bersorak-sorai.
16 Itulah sebabnya dipersembahkannya korban untuk pukatnya dan dibakarnya korban untuk payangnya; sebab oleh karena alat-alat itu pendapatannya mewah dan rezekinya berlimpah-limpah.
17 Sebab itukah ia selalu menghunus pedangnya dan membunuh bangsa-bangsa dengan tidak kenal belas kasihan?

Pernahkah kita bertanya dalam hati: mengapa orang yang hidup curang sering kali tampak lebih berhasil? Mengapa mereka yang menindas justru hidup enak, sementara orang yang berusaha setia kepada Tuhan sering ditimpa banyak kesulitan? Pergumulan seperti ini bukan hanya kita yang mengalaminya hari ini. Ribuan tahun yang lalu, Nabi Habakuk juga mengalami hal yang sama.

Dalam Habakuk 1:12-17, kita melihat seorang nabi yang hatinya gelisah. Ia melihat keadaan bangsanya sendiri yang dipenuhi kekerasan, dan ia melihat datangnya bangsa Kasdim atau Babel yang begitu kejam, menindas, dan merampas sesukanya. Habakuk merasa bingung, karena orang jahat itu justru dibiarkan Tuhan, bahkan tampak diberi keberhasilan. Tetapi, yang menarik adalah bahwa di tengah kebingungannya, Habakuk tetap memulai doanya dengan sebuah pengakuan iman: “Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus?”

Inilah yang membedakan Habakuk dengan banyak orang lain. Ia tidak memulai dengan kecurigaan terhadap Allah, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang kekal dan kudus. Meskipun ia tidak mengerti jalan Tuhan, ia tahu bahwa Tuhan yang ia sembah adalah Allah yang hidup, yang tidak berubah, yang kudus dari kekal sampai kekal. Inilah iman yang sejati: iman yang bukan berarti kita tidak pernah bingung, tetapi iman yang tetap kembali pada fondasi bahwa Allah itu kudus dan berdaulat.

Ketika kita menghadapi pergumulan hidup: harga-harga naik, pekerjaan sulit, ketidakadilan terasa di sekitar kita – iman kita diuji. Kita mungkin tergoda berkata: Tuhan tidak peduli. Tetapi Firman Tuhan mengingatkan kita: mulailah dari pengakuan iman. Katakan kepada diri kita sendiri: “Allahku tidak berubah, Ia tetap kudus, Ia tetap Allahku.”

Habakuk juga menyadari bahwa kehadiran bangsa Kasdim bukan di luar kendali Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhanlah yang menetapkan mereka untuk menghakimi dan mendidik Israel. Dengan kata lain, penderitaan yang dialami bangsanya bukan kebetulan atau kesialan, tetapi bagian dari didikan Allah. Seperti besi yang ditempa dalam api agar lebih kuat, demikian juga bangsa Israel perlu dididik lewat kesulitan supaya mereka kembali kepada Tuhan.

Hal ini juga berlaku bagi kita. Mungkin kita menghadapi kesulitan ekonomi, masalah keluarga, atau sakit yang panjang. Itu tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Bisa jadi, justru lewat semua itu Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih setia, dan lebih bergantung pada-Nya. Sama seperti seorang mahasiswa di asrama atau kos yang jauh dari orang tua: ketika uang terbatas, ketika ada konflik dengan teman, ia dipaksa belajar mengatur hidup, mengendalikan emosi, dan berdoa lebih tekun. Itulah didikan Tuhan.

Namun, Habakuk tetap punya pertanyaan besar. Ia tahu bahwa Allah itu kudus, matanya terlalu suci untuk melihat kejahatan. Kalau begitu, mengapa bangsa Kasdim yang begitu jahat dan kejam justru berhasil? Mengapa mereka bisa menindas Israel tanpa hambatan? Bukankah itu seolah-olah Allah menyetujui kejahatan mereka? Tetapi Habakuk cepat menyadari: Allah mungkin mengizinkan kejahatan untuk sementara, tetapi Ia tidak pernah menyetujui kejahatan. Allah tidak pernah kompromi dengan dosa.

Kadang kita melihat orang yang korupsi bisa membeli rumah mewah, sementara guru, petani, atau nelayan yang jujur sulit menyekolahkan anak. Kita melihat orang yang menipu justru hidup lebih enak. Tetapi itu bukan berarti Tuhan menyetujui cara mereka. Keberhasilan orang fasik hanya sementara. Firman Tuhan berkata: “Yang menabur angin, akan menuai badai” (Hosea 8:7a). Orang yang sukses dengan cara curang sebenarnya sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri.

Habakuk lalu menggambarkan kenyataan pahit yang ia saksikan: umat Israel seperti ikan-ikan kecil di laut, tak berdaya, yang ditangkap dengan mudah oleh bangsa Kasdim. Mereka menindas tanpa belas kasihan, membunuh tanpa ragu, bahkan menyombongkan diri atas jala dan senjatanya, seolah-olah menyembah alat kekerasan itu. Gambaran ini sangat realistis. Dan kita pun bisa merasakannya hari ini.

Banyak rakyat kecil merasa seperti ikan kecil dalam jala. Petani menjual hasil panen dengan harga murah, tetapi di pasar harga naik tinggi. Buruh bekerja keras, tetapi gajinya sangat minim, sementara pemilik usaha makin kaya. Orang kecil sering kali tidak punya kuasa untuk melawan. Anak muda yang lulus kuliah dengan jujur kalah bersaing dengan orang yang punya koneksi atau uang. Itu menyakitkan, seperti ikan yang tertangkap jala.

Tetapi Habakuk tidak berhenti di situ. Ia seolah-olah bertanya kepada Tuhan: “Haruskah mereka terus mengosongkan jalanya dan membunuh bangsa-bangsa tanpa belas kasihan?” Dengan kata lain, Habakuk percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan orang jahat berjaya selamanya. Allah mungkin memberi ruang sementara, tetapi itu ada batasnya. Pada akhirnya, keadilan dan kebenaran Allah pasti menang.

Inilah penghiburan bagi kita. Sejarah dunia membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan besar yang penuh kesombongan akhirnya runtuh. Demikian juga orang-orang yang menindas, yang hidup dari kecurangan, pada akhirnya akan menuai akibatnya. Tugas kita bukan menghitung seberapa lama mereka berkuasa, tetapi tetap setia pada Allah yang kudus. Kesetiaan kita tidak akan sia-sia, sebab Allah yang kekal memegang kendali sejarah.

Karena itu, mari kita belajar dari Habakuk. Pertama, apapun keadaan kita, mari mulai dengan iman pada Allah yang kekal dan kudus. Kedua, percayalah bahwa penderitaan bisa menjadi sarana didikan Tuhan untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Ketiga, jangan pernah menyangka Tuhan kompromi dengan kejahatan. Keempat, akuilah kenyataan pahit hidup ini, tetapi jangan ikut arus dunia. Dan kelima, peganglah pengharapan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan ketidakadilan selamanya.

Dunia ini memang seperti laut dengan ikan kecil dan besar. Orang jahat tampak kuat dengan jala mereka. Mereka menindas, mereka sombong, mereka mengira semua dalam genggaman mereka. Tetapi jangan lupa: Allah adalah Raja atas laut itu. Ia berdaulat, Ia memegang kendali, dan Ia tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Karena itu, tetaplah setia, jangan iri pada orang fasik, jangan menyerah di tengah tekanan, sebab pada akhirnya kebenaran dan keadilan Allah akan bersinar.

Yesus inilah yang Dibangkitkan oleh Allah (Kisah Para Rasul 2:22-32)

Bahan Khotbah Minggu Paskah Subuh, 05 April 2026 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Y...