Khotbah Minggu Adven I (Khotbah Ekologis), 30 November 2025
Disiapkan dan disampaikan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
2:1 Firman yang dinyatakan kepada Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem.
2:2 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,
2:3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.”
2:4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.
2:5 Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Ada berbagai cara orangtua mendidik anaknya. Kadang dengan teguran keras, kadang dengan bujukan lembut. Tetapi motivasinya sama: kasih, keinginan agar si anak kembali ke jalan yang benar. Cara ini juga dipakai Tuhan terhadap Israel. Di Yesaya 1 kita melihat Tuhan berbicara dengan suara yang tegas, keras, bahkan menyakitkan, karena umat-Nya menyimpang jauh dari kebenaran. Tetapi memasuki Yesaya 2, nada itu berubah. Setelah teguran keras, Tuhan berbicara dengan sangat lembut, penuh pengharapan, seolah-olah Tuhan berkata: “Lihatlah masa depan yang Aku sediakan bagimu; datanglah berjalan dalam terang-Ku.”
Dan uniknya, dua suara Tuhan, yang keras dan yang lembut, selalu datang karena satu alasan: Tuhan ingin memulihkan, bukan menghancurkan. Namun saudara-saudari, yang harus kita sadari bahwa teguran Tuhan kepada Israel: ketidakadilan, kekerasan, keserakahan, ibadah palsu, bukan hanya catatan masa lalu. Itu gambaran dosa kolektif manusia di sepanjang zaman. Dan hari ini, ketika kita membaca Yesaya 2, kita pun harus berani bercermin: dosa-dosa yang dikutuk Tuhan di Israel adalah dosa-dosa yang sedang menghancurkan bumi ini, termasuk tanah di mana kita hidup.
Janji Tuhan tentang Terang yang Mempersatukan Dunia
Yesaya 2 dibuka dengan pemandangan yang agung: “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana” (ay. 2). Ini sebuah visi eskatologis, bukan sekadar tentang gedung Bait Suci, tetapi tentang tatanan dunia baru, kehidupan umat manusia yang berada di bawah terang Tuhan. Dalam visi itu, bangsa-bangsa datang kepada Tuhan bukan karena dipaksa, tetapi karena sadar bahwa hanya dari Tuhan:a) keluar pengajaran yang benar;
b) keluar hukum yang adil;
c) lahir damai sejahtera yang sejati.
Bayangkan dunia seperti itu: bukan lagi bangsa melawan bangsa, tetapi semua bangsa menuju Tuhan bersama; bukan lagi senjata, tetapi alat untuk menanam; bukan lagi perang, tetapi damai yang melingkupi seluruh bumi. Yesaya menggambarkan visi itu bukan hanya sebagai masa depan jauh, tetapi sebagai undangan saat ini: “Hai keturunan Yakub, mari kita berjalan dalam terang Tuhan!” (Yes. 2:5). Terang Tuhan bukan sekadar cahaya moral. Itu adalah cahaya yang memulihkan cara kita berpikir, cara kita berinteraksi, cara kita hidup sebagai umat sosial dan politik. Ini tidak hanya menyentuh hati kita, tetapi juga menyentuh cara kita menghadapi realitas dunia.
Ketika Terang Tuhan Diabaikan: Kegelapan di Tanah Kita
Saudara-saudara,Hari ini kita merayakan Minggu Advent I, menyambut Terang Kristus. Tetapi di saat yang sama, tanah kita sendiri sedang tertutup kegelapan yang sangat pekat. Bukan kegelapan metaforis, tetapi kegelapan yang nyata dan mematikan. Sumatera Utara dan Sumatera Barat, tanah kita, baru saja mengalami tragedi ekologis yang besar. Banjir bandang, tanah longsor, hutan yang gundul, desa-desa yang musnah, ratusan orang meninggal dan hilang, ribuan mengungsi, ratusan anak kehilangan orangtua, orangtua kehilangan anak, rumah dan sawah hanyut, jembatan putus, dan masa depan keluarga hancur dalam sekejap.
"Kita berkabung. Kita berduka. Kita berempati"
Tetapi kita juga tidak boleh buta terhadap akar masalahnya. Sebagian besar tragedi ekologis ini bukan terjadi secara alamiah sebagaimana dikatakan oleh para pejabat dan aparat; bukan sekadar hujan besar; bukan sekadar faktor geografi; melainkan karena:
– penebangan hutan yang masif
– penambangan yang rakus dan ilegal
– perkebunan sawit tanpa kontrol
– pengerusakan lingkungan yang dibiarkan
– disfungsi pengawasan negara
– kolusi antara pengusaha dan oknum kekuasaan
Di atas kertas, semua pihak menyangkal. Tetapi alam tidak bisa berbohong. Dan ketika negara lambat hadir, ketika tanggap darurat tidak sebanding dengan kehancuran yang terjadi, ketika suara korban tidak terdengar, kita melihat bahwa bangsa yang tidak berjalan dalam terang Tuhan akan selalu berjalan dalam kegelapan kebijakan, kegelapan moral, dan kegelapan kepedulian.
Yesaya mengenal situasi seperti ini. Israel waktu itu jatuh kepada kekerasan ekonomi, penindasan sosial, korupsi hukum, dan ibadah yang tidak bermoral. Hari ini, kegelapan itu muncul dalam bentuk yang lain:
· lingkungan yang rusak;
· ekonomi yang dikendalikan nafsu keuntungan;
· negara yang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga rakyat;
· masyarakat yang menganggap bencana sebagai nasib belaka.
Tetapi Yesaya berseru: “Hai keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan!” Ini bukan nasihat rohani ringan. Itu adalah panggilan profetis. Panggilan untuk menyadari bahwa kita sedang hidup dalam kegelapan kolektif.
Terang Tuhan sebagai Kritik Profetis
Ketika gereja membaca Yesaya 2, gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi menjadi suara nurani bangsa. Berjalan dalam terang Tuhan berarti mengkritik kegelapan. Dalam Alkitab, kritik terhadap pemerintah, pemimpin, penguasa, dan pengusaha bukan tindakan subversif, tetapi tindakan iman. Oleh karena itu, gereja tidak boleh diam ketika:· hutan dijual;
· bukit ditambang;
· sungai dirusak;
· rakyat ditinggalkan;
· korban diabaikan;
· dll.
Diam berarti menyetujui.
Terang Tuhan selalu menolak kegelapan/kejahatan moral. Yesaya menyatakan bahwa terang Tuhan membawa keadilan (mišpat) dan kebenaran (ṣedāqāh). Dua kata ini bukan konsep spiritual abstrak, melainkan prinsip politik dan sosial. Artinya: orang yang berjalan dalam terang Tuhan tidak bisa mendukung atau membiarkan kebijakan yang merusak ciptaan. Bagi gereja, ini bukan ideologi, ini iman. Ini moralitas. Ini Injil dalam wajah sosialnya.
Terang Tuhan sebagai Empati dan Aksi Solidaritas
Saudara-saudara terkasih,Ketika membaca berita mengenai para korban, hati kita hancur. Ada anak-anak yang terpisah dari orangtuanya. Ada lansia yang terjebak dan tidak sempat diselamatkan. Ada anak yang menunggu orangtuanya yang hilang. Ada keluarga yang kehilangan rumah, dan harta lainnya. Yesaya 2 bukan hanya bicara tentang dunia masa depan. Yesaya 2 bicara tentang urutan moral dunia sekarang: Jika Tuhan menjanjikan dunia damai tanpa senjata, berarti kita dipanggil hari ini menjadi pembawa damai. Jika Tuhan menjanjikan pengajaran yang benar, berarti kita dipanggil hari ini untuk bersuara benar. Jika Tuhan menjanjikan keadilan, berarti kita dipanggil hari ini untuk memperjuangkan keadilan ekologis. Dan dengan empati yang paling dalam, gereja harus bertanya: Jika kita berjalan dalam terang Tuhan, apakah kita hanya berdoa, atau juga bertindak?
Maka Advent menjadi:
· saat mengulurkan tangan kepada para korban tanpa harus memamerkannya;
· saat membuka pintu gereja bagi para pengungsi;
· saat mengumpulkan bantuan makanan, pakaian, selimut;
· saat menjadi suara bagi mereka yang suaranya tidak didengar;
· saat membangun jejaring kemanusiaan;
· saat menekan pemerintah agar lebih cepat, lebih tegas, lebih berpihak pada rakyat;
· saat menegur pengusaha yang merusak tanah air ini.
Berjalan dalam terang Tuhan berarti bergerak. Terang itu bukan untuk disimpan, tetapi untuk memandu langkah kita menolong sesama.
Jangan Menunggu Tuhan Memakai Cara Keras
Saudara-saudara,Yesaya 2 adalah ajakan lembut Tuhan, ajakan kasih. Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa ketika manusia menolak terang itu, dunia akan menuai konsekuensi:
· hutan akan gundul;
· air akan meluap;
· tanah akan longsor;
· generasi kin dan mendatang akan menderita;
· bangsa akan menanggung akibat dosa kolektifnya.
Maka Yesaya seolah berseru: “Selagi ada terang, jalanilah terang itu.” Jangan menunggu Tuhan memakai cara “keras” seperti orangtua yang terpaksa menghukum anaknya. Hari ini Tuhan memakai cara “lembut”:
· melalui Firman;
· melalui nurani;
· melalui bencana yang harusnya membuka mata;
· melalui penderitaan sesama;
Tuhan seakan berkata: “Anak-anak-Ku, lihatlah apa yang terjadi ketika kalian berjalan dalam kegelapan keserakahan. Kembalilah kepada-Ku. Berjalanlah dalam terang-Ku.”
Terang Tuhan, Masa Depan, dan Tindakan Hari Ini
Advent adalah awal perjalanan menuju Kristus, Sang Terang Dunia. Yesaya 2 menegaskan satu hal penting: Kita hanya dapat menikmati terang Tuhan bila kita berada di dalam terang itu. Di mana dan kapan kita menikmati dunia yang lebih baik? Jawabannya sederhana: kapan saja dan di mana saja, jika kita berjalan dalam terang Tuhan.Jangan berharap masa depan yang lebih baik bila kita menciptakan masa kini yang buruk.
Jangan bermimpi negeri ini akan maju bila kita merusaknya dengan tangan kita sendiri.
Jangan berharap damai bila kita menabur rakus dan acuh.
Hari ini, Tuhan memanggil:
· pemerintah untuk bertobat;
· pengusaha untuk berhenti merusak;
· gereja untuk bersuara;
· jemaat untuk berbelas kasih;
· masyarakat untuk bergerak bersama;
Karena terang Tuhan bukanlah teori. Terang itu adalah jalan hidup. Marilah kita berjalan dalam terang Tuhan, terang yang memanggil kita untuk peduli, adil, membela ciptaan, menghibur yang berduka, dan bekerja bersama membangun masa depan yang lebih baik.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar