Sabtu, 27 Desember 2025

Memperkenalkan Perbuatan TUHAN (Mazmur 105:1-6)

Bahan Khotbah Minggu, 28 Desember 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!
2 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!
3 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!
4 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!
5 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,
6 hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

Dalam perjalanan hidup, kita hampir selalu berada dalam kebiasaan mengingat. Kita mengingat apa yang telah kita alami: keberhasilan yang membesarkan hati, kegagalan yang menyisakan pelajaran, luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan harapan yang masih kita nantikan. Waktu terus berjalan, tetapi ingatan manusia tidak pernah benar-benar kosong.

Namun pertanyaannya adalah: apa yang paling kita ingat ketika kita hidup di tengah perjalanan waktu, termasuk ketika kita berada di masa-masa mendekati akhir tahun? Apakah kita lebih sibuk mengingat kegagalan manusia, ataukah kita memberi ruang untuk mengingat perbuatan TUHAN?

Mazmur 105:1-6 menempatkan kita pada perspektif yang sangat berbeda. Pemazmur tidak memulai dengan keluhan, tidak juga dengan refleksi atas kegagalan umat. Ia memulai dengan sebuah seruan iman yang tegas dan penuh keyakinan: “Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya.”

Ini bukan sekadar kalimat pembuka ibadah. Ini adalah sikap iman. Pemazmur sedang berkata bahwa di tengah perjalanan sejarah yang panjang, penuh dinamika, umat Allah hanya dapat bertahan jika mereka belajar melihat hidup dari sudut pandang Allah yang bertindak.

Bersyukur kepada TUHAN di sini bukan berarti hidup selalu mudah. Bersyukur berarti mengakui bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana kita. Ungkapan syukur adalah bentuk perlawanan iman terhadap keputusasaan.

Dalam konteks kita di Indonesia hari ini, seruan ini menjadi sangat relevan. Tahun yang kita lewati tidak selalu ringan. Banyak keluarga bergumul dengan tekanan ekonomi. Banyak orang kecil merasa tidak didengar. Bencana alam, ketidakpastian sosial, dan ketegangan politik membuat banyak orang hidup dalam kecemasan. Dalam situasi seperti ini, mudah sekali bagi gereja untuk ikut tenggelam dalam keluhan dan kelelahan rohani. Namun Mazmur 105 menantang kita: Apakah gereja masih berani bersyukur, bukan karena keadaan baik, tetapi karena Allah setia?

Pemazmur melanjutkan, “Perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa.” Di sini iman tidak berhenti pada ucapan syukur pribadi. Iman bergerak keluar, menjadi kesaksian publik. Apa yang Allah kerjakan tidak boleh disimpan sebagai pengalaman privat, tetapi harus diceritakan, dibagikan, dan disaksikan.

Artinya, iman yang sejati tidak pernah bisu. Gereja yang sehat bukan hanya gereja yang rajin beribadah, tetapi gereja yang berani mengisahkan karya Allah di tengah dunia. Dunia perlu mendengar bahwa Allah masih bekerja, bukan hanya di masa lalu, tetapi juga hari ini.

Di Indonesia, kita hidup di tengah derasnya arus informasi, hoaks, ujaran kebencian, dan narasi yang sering kali mengabaikan nilai kebenaran dan keadilan. Dalam situasi seperti ini, gereja sering kali tergoda untuk diam, merasa kecil, atau hanya sibuk mengurus urusan internal. Mazmur 105 mengingatkan kita bahwa gereja kehilangan jati dirinya ketika ia berhenti memperkenalkan perbuatan TUHAN.

Memperkenalkan perbuatan TUHAN bukan hanya soal berkata-kata, tetapi soal cara hidup. Ketika gereja memilih kejujuran di tengah budaya korup, ketika gereja berdiri bersama yang lemah, ketika gereja merawat luka-luka sosial dengan kasih, di situlah perbuatan TUHAN diperkenalkan secara nyata.

Pemazmur lalu berkata, “Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus.” Ini adalah koreksi besar bagi kecenderungan manusia. Kita mudah bermegah atas pencapaian, jumlah, jabatan, atau kekuatan sendiri. Namun iman Israel, dan iman Kristen, dibangun di atas pengakuan bahwa kemegahan sejati hanya ada dalam nama TUHAN.

Identitas umat Allah tidak bersumber dari prestasi, melainkan dari relasi. Kita kuat bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah setia. Karena itu pemazmur melanjutkan, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya.” Ini bukan ajakan pasif, tetapi panggilan untuk hidup dalam ketergantungan yang sadar dan terus-menerus.

Banyak gereja hari ini tergoda mengukur keberhasilan dengan ukuran dunia: gedung yang megah, menara dan pagar gereja yang mewah, jumlah jemaat yang besar, atau pengaruh sosial yang kuat. Mazmur 105 dengan halus namun tegas mengingatkan: jika gereja berhenti mencari TUHAN dan mulai mencari kekuatan sendiri, ia sedang berjalan menjauh dari sumber hidupnya.

Pemazmur kemudian menutup bagian ini dengan seruan yang sangat penting: “Ingatlah perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib.” Iman selalu membutuhkan ingatan. Tanpa ingatan, iman menjadi rapuh. Tanpa ingatan, umat Allah mudah lupa siapa mereka dan siapa Allah yang mereka sembah.

Pemazmur menyebut Abraham dan keturunannya bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai penegasan bahwa Allah setia lintas generasi. Apa yang Allah kerjakan dahulu menjadi dasar pengharapan hari ini. Iman tidak hidup dari pengalaman satu generasi saja, tetapi dari cerita yang diwariskan, diingat, dan diceritakan ulang.

Dalam konteks kita hari ini, ini menjadi tantangan besar. Generasi muda hidup dalam dunia yang serba cepat, digital, dan instan. Mereka mudah kehilangan akar iman, karena gereja sering kali gagal menceritakan kembali karya Allah dengan cara yang hidup dan bermakna. Jika gereja berhenti mewariskan cerita tentang perbuatan TUHAN, iman akan berubah menjadi rutinitas kosong, bukan relasi yang hidup.

Mazmur 105:1-6 mengajarkan kita satu hal yang sangat penting: iman yang sehat adalah iman yang mengingat, bersyukur, dan bersaksi. Hidup beriman tidak dibangun hanya dari pengalaman pribadi, keberhasilan, atau kegagalan kita, tetapi dari kesaksian bahwa TUHAN tetap bekerja di tengah perjalanan hidup umat-Nya.

Situasi hidup boleh berubah dan zaman terus berjalan, namun Allah yang bekerja dalam sejarah umat-Nya tidak pernah berhenti berkarya. Karena itu, kita dipanggil untuk terus hidup dengan ingatan iman, bukan dikuasai oleh ketakutan, tetapi dikuatkan oleh kesaksian tentang perbuatan TUHAN yang nyata dalam hidup kita dan dalam kehidupan bersama sebagai umat Allah.

“Perkenalkanlah perbuatan TUHAN.” Itulah panggilan gereja: kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ragam Karunia dalam Satu Roh (1 Korintus 12:3-11)

Bahan Khotbah Minggu Pentakosta I, 24 Mei 2026 Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo 3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada se...