Bahan Khotbah Pentakosta ke-2, Senin, 25 Mei 2026
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo
20 Dan Engkau memberikan kepada mereka Roh-Mu yang baik untuk mengajar mereka. Juga manna-Mu tidak Kautahan dari mulut mereka dan Engkau memberikan air kepada mereka untuk melepaskan dahaga.
21 Empat puluh tahun lamanya Engkau memberikan mereka makan di padang gurun. Mereka tidak berkekurangan, pakaian mereka tidak rusak, dan kaki mereka tidak bengkak.
22 Engkau menyerahkan kepada mereka kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa dan membagikan itu kepada mereka sebagai daerah perbatasan, sebab mereka duduki tanah dari Sihon, raja negeri Hesbon dan tanah dari Og, raja negeri Basan.
23 Engkau membuat anak-anak mereka menjadi banyak seperti bintang-bintang di langit dan membawa mereka ke tanah yang Kausuruh kepada nenek moyang mereka untuk dimasuki dan diduduki.
24 Lalu anak-anak itu memasuki dan menduduki tanah itu dan Engkau menundukkan di hadapan mereka penduduk tanah itu, yakni orang-orang Kanaan, dan menyerahkan orang-orang itu, baik raja-raja mereka, maupun bangsa-bangsa tanah itu, ke tangan mereka, supaya orang-orang itu diperlakukan sekehendak hati mereka.
25 Mereka merebut kota-kota yang berkubu dan tanah yang subur. Mereka merampas rumah-rumah yang penuh berisi berbagai-bagai barang baik, tempat-tempat air pahatan, kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun dan pohon-pohon buah-buahan dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka makan dan menjadi kenyang dan gemuk. Mereka hidup mewah karena kebaikan-Mu yang besar.
26 Tetapi mereka mendurhaka dan memberontak terhadap-Mu. Mereka membelakangi hukum-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu yang memperingatkan mereka dengan maksud membuat mereka berbalik kepada-Mu. Mereka berbuat nista yang besar.
27 Lalu Engkau menyerahkan mereka ke tangan lawan-lawan mereka, yang menyesakkan mereka. Dan pada waktu kesusahan mereka berteriak kepada-Mu, lalu Engkau mendengar dari langit dan karena kasih sayang-Mu yang besar Kauberikan kepada mereka orang-orang yang menyelamatkan mereka dari tangan lawan mereka.
28 Tetapi begitu mereka mendapat keamanan, kembali mereka berbuat jahat di hadapan-Mu. Dan Engkau menyerahkan mereka ke tangan musuh-musuh mereka yang menguasai mereka. Kembali mereka berteriak kepada-Mu, dan Engkau mendengar dari langit, lalu menolong mereka berulang kali, karena kasih sayang-Mu.
29 Engkau memperingatkan mereka dengan maksud membuat mereka berbalik kepada hukum-Mu. Tetapi mereka bertindak angkuh, mereka tidak patuh kepada perintah-perintah-Mu dan mereka berdosa terhadap peraturan-peraturan-Mu, yang justru memberi hidup kepada orang yang melakukannya. Mereka melintangkan bahu untuk melawan, mereka bersitegang leher dan tidak mau dengar.
30 Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabar-Mu terhadap mereka. Dengan Roh-Mu Engkau memperingatkan mereka, yakni dengan perantaraan para nabi-Mu, tetapi mereka tidak menghiraukannya, sehingga Engkau menyerahkan mereka ke tangan bangsa-bangsa segala negeri.
31 Tetapi karena kasih sayang-Mu yang besar Engkau tidak membinasakan mereka sama sekali dan tidak meninggalkan mereka, karena Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang.
Pada hari ini kita merayakan Pentakosta hari kedua. Perayaan Pentakosta mengingatkan kita bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya berjalan sendiri. Allah memberikan Roh-Nya. Ia hadir, menuntun, mengajar, menegur, menguatkan, dan memelihara umat-Nya. Roh Kudus bukan sekadar tanda kuasa Allah, tetapi juga tanda kesetiaan Allah kepada umat yang sering lemah, sering gagal, bahkan sering memberontak.
Tema kita hari ini adalah: Allah Memberikan Roh-Nya. Tema ini diambil dari kesaksian Nehemia 9:20, “Engkau memberikan kepada mereka Roh-Mu yang baik untuk mengajar mereka.” Ayat ini merupakan bagian dari doa pengakuan dosa umat Israel setelah mereka kembali dari pembuangan. Mereka berkumpul, berpuasa, mendengar firman Tuhan, lalu mengingat kembali perjalanan sejarah mereka. Dalam doa itu mereka mengakui bahwa sepanjang sejarah, Allah selalu baik, tetapi umat sering tidak setia.
Nehemia 9 bukan hanya catatan sejarah. Ini adalah pengakuan iman. Umat Israel melihat kembali masa lalu dan berkata: “Tuhan, Engkau setia, tetapi kami sering memberontak. Engkau memberi, tetapi kami sering melupakan. Engkau menuntun, tetapi kami sering mengeraskan hati.” Dengan jujur mereka mengakui kegagalan mereka, tetapi pada saat yang sama mereka juga memuliakan belas kasihan Allah.
Dalam Nehemia 9:20 dikatakan bahwa Allah memberikan Roh-Nya yang baik untuk mengajar umat-Nya. Ketika Israel berjalan di padang gurun, mereka tidak hanya membutuhkan makanan dan minuman. Mereka memang membutuhkan manna dari langit. Mereka memang membutuhkan air dari batu. Mereka memang membutuhkan perlindungan dari panas, bahaya, dan musuh. Tetapi lebih dari itu, mereka membutuhkan tuntunan Allah.
Manusia tidak cukup hanya hidup dari makanan jasmani. Manusia juga membutuhkan arah hidup. Bangsa Israel bisa saja kenyang oleh manna, tetapi tetap tersesat jika tidak mendengarkan Allah. Mereka bisa saja minum air dari batu, tetapi tetap kering secara rohani jika hati mereka jauh dari Tuhan. Karena itu Allah memberikan Roh-Nya untuk mengajar mereka.
Inilah berita Pentakosta bagi kita: Allah tidak hanya memberi berkat jasmani. Allah juga memberi Roh-Nya untuk membentuk hidup kita. Roh Kudus mengajar kita mengenal kehendak Allah. Roh Kudus menolong kita memahami firman. Roh Kudus menuntun hati nurani kita. Roh Kudus mengingatkan kita ketika jalan kita mulai menyimpang.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita mau diajar oleh Roh Allah? Banyak orang ingin diberkati Tuhan, tetapi tidak mau dibentuk oleh Tuhan. Banyak orang ingin menerima pertolongan Tuhan, tetapi tidak mau mendengar teguran Tuhan. Banyak orang ingin Roh Kudus memberi kekuatan, tetapi tidak mau Roh Kudus mengubah karakter mereka. Padahal Roh Kudus diberikan bukan hanya supaya kita merasa terhibur, tetapi supaya kita hidup dalam kebenaran.
Nehemia 9 menunjukkan bahwa Allah memelihara umat-Nya dengan sangat setia. Selama empat puluh tahun di padang gurun, umat tidak dibiarkan kekurangan. Pakaian mereka tidak rusak. Kaki mereka tidak bengkak. Allah memberi manna, air, dan perlindungan. Ini adalah gambaran pemeliharaan Allah yang luar biasa.
Akan tetapi, pemeliharaan Allah tidak berhenti di padang gurun. Allah membawa mereka masuk ke tanah perjanjian. Ia memberikan kota-kota, tanah subur, rumah-rumah, sumur-sumur, kebun anggur, kebun zaitun, dan pohon buah-buahan. Mereka makan, kenyang, menjadi makmur, dan menikmati kebaikan Allah.
Tetapi justru di sinilah bahaya rohani sering muncul. Ketika hidup sulit, manusia sering berseru kepada Tuhan. Tetapi ketika hidup menjadi nyaman, manusia mudah lupa kepada Tuhan. Ketika tidak punya apa-apa, manusia mudah bergantung kepada Tuhan. Tetapi ketika sudah diberkati, manusia mudah merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Itulah yang terjadi dalam sejarah Israel. Mereka menerima kelimpahan, tetapi kemudian memberontak. Mereka menikmati berkat Allah, tetapi membuang Taurat-Nya ke belakang. Mereka mendengar nabi-nabi, tetapi menolak teguran. Bahkan mereka membunuh para nabi yang diutus Tuhan untuk memperingatkan mereka.
Di sini kita belajar satu hal penting: berkat tidak otomatis membuat manusia setia. Kelimpahan tidak otomatis membuat manusia bersyukur. Kenyamanan tidak otomatis membuat manusia semakin dekat kepada Tuhan. Tanpa hati yang dituntun oleh Roh Allah, berkat dapat berubah menjadi kesombongan. Kelimpahan dapat berubah menjadi kelalaian. Keamanan dapat berubah menjadi pemberontakan.
Karena itu, kita sangat membutuhkan Roh Kudus. Kita membutuhkan Roh Kudus bukan hanya ketika kita berada dalam masalah, tetapi juga ketika hidup kita sedang baik-baik saja. Kita membutuhkan Roh Kudus bukan hanya dalam kelemahan, tetapi juga dalam keberhasilan. Kita membutuhkan Roh Kudus bukan hanya ketika kita menangis, tetapi juga ketika kita tertawa. Sebab justru ketika hidup terasa aman, hati manusia mudah menjadi keras.
Pada perayaan Pentakosta ini, kita diingatkan bahwa Roh Kudus adalah pemberian Allah yang baik. Roh Kudus menolong kita melihat berkat sebagai alasan untuk bersyukur, bukan untuk meninggikan diri. Roh Kudus menolong kita melihat keberhasilan sebagai kesempatan melayani, bukan membanggakan diri. Roh Kudus menolong kita tetap rendah hati di tengah kelimpahan.
Nehemia 9 juga memperlihatkan pola yang berulang dalam sejarah umat: mereka berdosa, Allah menyerahkan mereka kepada musuh, mereka berseru, lalu Allah mendengar dan menolong. Setelah diberi kelegaan, mereka kembali berbuat jahat. Siklus itu terjadi berkali-kali. Namun yang mengherankan adalah: Allah tetap sabar.
Ayat 28 berkata bahwa Allah mendengar dari surga dan melepaskan mereka berkali-kali karena kasih sayang-Nya. Ayat 30 berkata bahwa selama bertahun-tahun Allah sabar terhadap mereka dan memperingatkan mereka dengan Roh-Nya melalui para nabi. Ini menunjukkan bahwa Roh Allah bukan hanya mengajar, tetapi juga menegur.
Kadang-kadang kita hanya ingin mendengar Roh Kudus sebagai Penghibur. Memang benar, Roh Kudus adalah Penghibur. Tetapi Roh Kudus juga adalah Penegur. Ia menghibur hati yang remuk, tetapi Ia juga menegur hati yang keras. Ia menguatkan orang yang lemah, tetapi Ia juga mengguncang orang yang merasa diri benar. Ia memberi damai, tetapi Ia juga membangunkan kita dari tidur rohani.
Teguran Roh Kudus adalah tanda kasih Allah. Ketika Allah menegur, itu berarti Ia belum menyerah atas kita. Ketika firman Tuhan menusuk hati kita, itu berarti Tuhan sedang memanggil kita kembali. Ketika hati nurani kita digerakkan untuk bertobat, itu adalah anugerah. Jangan matikan suara Roh. Jangan abaikan teguran Tuhan. Jangan keraskan hati.
Nehemia 9:31 berkata, “Tetapi karena kasih sayang-Mu yang besar, Engkau tidak membinasakan mereka sama sekali dan tidak meninggalkan mereka, sebab Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang.” Walaupun umat berulang kali gagal, Allah tidak meninggalkan mereka. Walaupun umat keras kepala, Allah tetap menunjukkan belas kasihan. Walaupun mereka jatuh ke tangan bangsa-bangsa asing, Allah tidak membinasakan mereka sama sekali.
Ini adalah kabar baik bagi kita. Hidup kita juga tidak selalu penuh kesetiaan. Kita sering seperti Israel: menerima berkat, lalu lupa; mendengar firman, lalu mengabaikan; ditolong Tuhan, lalu kembali kepada kebiasaan lama. Tetapi Allah tidak segera membuang kita. Ia memanggil kita kembali. Ia memberikan Roh-Nya untuk mengajar, menegur, dan memperbarui kita.
Pentakosta adalah bukti bahwa Allah tidak jauh dari umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, Nehemia mengingat bahwa Allah memberikan Roh-Nya yang baik untuk mengajar umat di padang gurun dan memperingatkan mereka melalui nabi-nabi. Dalam Perjanjian Baru, pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan atas murid-murid Kristus, menjadikan mereka saksi-saksi Injil. Allah yang sama tetap bekerja: Ia memberi Roh-Nya agar umat-Nya hidup, bertobat, dan bersaksi.
Maka, merayakan Pentakosta bukan hanya mengingat peristiwa masa lalu. Merayakan Pentakosta berarti membuka diri hari ini kepada karya Roh Kudus. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup kita masih mau diajar oleh Roh Allah? Apakah keluarga kita masih mau dipimpin oleh Roh Allah? Apakah gereja kita masih peka terhadap suara Roh Allah? Apakah kita masih bersedia ditegur, dibentuk, dan diutus?
Roh Kudus diberikan bukan supaya gereja hanya sibuk dengan kegiatan, tetapi supaya gereja hidup dalam ketaatan. Roh Kudus diberikan bukan supaya kita hanya merasa rohani, tetapi supaya kita menjadi umat yang rendah hati. Roh Kudus diberikan bukan supaya kita hanya menikmati berkat, tetapi supaya kita menjadi saluran berkat.
Karena itu, marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Kita mengakui bahwa kita sering gagal. Kita sering lebih suka berkat daripada ketaatan. Kita sering lebih suka kenyamanan daripada pembaruan. Kita sering mendengar firman, tetapi tidak melakukannya. Namun hari ini, kita juga percaya bahwa Allah masih memberikan Roh-Nya. Ia masih mengajar. Ia masih menegur. Ia masih memulihkan. Ia masih menyertai umat-Nya.
Biarlah Pentakosta hari kedua ini menjadi saat pembaruan bagi kita. Jangan hanya meminta berkat Tuhan; mintalah hati yang mau diajar. Jangan hanya meminta pertolongan Tuhan; mintalah keberanian untuk bertobat. Jangan hanya meminta Roh Kudus memberi kuasa; mintalah Roh Kudus membentuk karakter kita.
Kiranya Roh Allah yang baik memenuhi hidup kita. Kiranya Ia mengajar kita berjalan dalam kebenaran. Kiranya Ia menegur kita ketika menyimpang. Kiranya Ia menghibur kita ketika lemah. Kiranya Ia memampukan kita menjadi umat yang setia, rendah hati, dan siap bersaksi.
Allah memberikan Roh-Nya. Itu berarti kita tidak berjalan sendiri. Allah memberikan Roh-Nya. Itu berarti masih ada pengharapan bagi umat yang gagal. Allah memberikan Roh-Nya. Itu berarti gereja dipanggil untuk hidup dalam ketaatan, pertobatan, dan kesaksian. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar