Jumat, 14 November 2025

Tuhan Mengasihi segala Bangsa (Maleakhi 1:1-6)

Bahan khotbah Minggu, 16 November 2025
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

1 Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi.
2 "Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub,
3 tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun."
4 Apabila Edom berkata: "Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu," maka beginilah firman TUHAN semesta alam: "Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya."
5 Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: "TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel."
6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"

Bayangkan sebuah bangsa yang baru pulang dari perjalanan panjang yang melelahkan. Mereka dahulu ditawan, dihancurkan, diusir dari rumah mereka. Kini mereka kembali ke tanah nenek moyang, tetapi yang mereka temukan bukan kemuliaan, melainkan reruntuhan. Bait Suci berdiri kembali, tetapi jauh dari megah; ekonomi sulit; tanah kering; pemimpin tidak stabil.

Pertanyaan besar pun muncul dalam hati mereka:
“Apakah Tuhan masih mengasihi kami?”

Inilah suasana hati bangsa Israel ketika Nabi Maleakhi berbicara. Dan mungkin, jika kita jujur, pertanyaan itu juga pernah muncul dalam hati kita:
“Kalau Tuhan mengasihi saya, mengapa hidup saya seperti ini?”
“Mengapa doa seakan tak dijawab?”
“Mengapa keadaan sulit tidak kunjung berubah?”

Dan kepada bangsa yang letih dan kecewa itu, Tuhan memulai kitab Maleakhi dengan kata yang mengejutkan: “Aku mengasihi kamu.”

Kasih Tuhan yang tak Berubah Walau Kita Tidak Mengerti
Bangsa itu menjawab, “Dengan cara bagaimana Engkau mengasihi kami?”
Pertanyaan yang jujur. Pertanyaan orang terluka.

Untuk menjawabnya, Tuhan mengingatkan kembali kisah Yakub dan Esau. Bukan karena Tuhan pilih kasih seperti manusia, tetapi untuk menjelaskan bahwa kasih dan pemilihan Tuhan adalah anugerah, bukan hasil usaha Israel. Bahkan ketika mereka gagal, Tuhan tetap setia. Di sinilah kita melihat sisi luar biasa dari kasih Allah: manusia tidak setia, tetapi Allah tetap mengasihi.

Sama seperti orang tua yang tetap menjemput anaknya yang bandel dari sekolah; atau pasangan yang tetap menunggu walau pasangannya mengecewakan; begitu pula Tuhan tetap mengasihi, bahkan ketika umat-Nya mempertanyakan kasih-Nya.

Kasih Tuhan bukan hanya untuk Israel, Ia Mengasihi Segala Bangsa
Dalam Maleakhi 1:5, Tuhan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel.” Dengan kata lain:
Kasih dan kemuliaan Tuhan tidak dibatasi oleh tembok Israel.
Tidak dibatasi oleh suku, bangsa, atau warna kulit.
Tidak dibatasi oleh masa lalu seseorang.

Ayat ini sungguh mendobrak cara berpikir Israel. Mereka terbiasa berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya umat pilihan. Tetapi Tuhan berkata: kasih-Ku, kemuliaan-Ku, dan karya-Ku melewati batas yang kalian buat. Tuhan yang sama sedang berbicara kepada kita hari ini: Kasih Tuhan jauh lebih luas daripada kelompokmu, denominasimu, dan suku-bangsamu. Kasih-Nya menjangkau semua orang: yang sukses maupun gagal, yang rajin ke gereja maupun yang baru mencoba kembali, yang hidupnya rapi maupun yang hidupnya berantakan.

Tantangan bagi Umat Tuhan: Hormatilah Tuhan seperti Bapa dan Tuan
Setelah meneguhkan kasih-Nya, Tuhan menegur Israel: “Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?” (ay. 6)

Teguran ini bukan marah tanpa sebab. Di masyarakat pasca-pembuangan, ibadah menjadi asal-asalan. Orang membawa persembahan yang cacat, buta, pincang, sakit. Para imam pun ikut lalai. Tuhan bertanya: “Kalian menghormati pemimpin dunia, kalian menjaga ‘image’ di depan manusia,
tetapi mengapa kalian meremehkan Aku?”

Saudara-saudari, ketika hidup sulit, kita sering mengira Tuhan menjauh dari kita. Tetapi sering kali kita sendiri yang menjauh, perlahan, tanpa sadar. Kita berdoa setengah hati. Kita melayani asal jadi. Kita memberi tanpa pengorbanan. Kita datang beribadah tetapi hati kita jauh. Kasih Tuhan adalah anugerah, tetapi penghormatan kita kepada Tuhan adalah tanggapan.

Kasih Tuhan yang Melintasi Bangsa Memanggil Kita Menjadi Umat yang Baru
Di balik kritik Maleakhi, ada kerinduan Allah: mengembalikan umat yang hidup dalam kasih, keadilan, dan ibadah yang tulus. Bangsa Israel membangun tembok, kadang juga membangun tembok di hati, tembok ketakutan, tembok kecurigaan, tembok identitas sempit. Tetapi Tuhan merobohkan tembok itu. Dan hari ini Tuhan berkata kepada kita: “Aku tidak hanya mengasihi kelompokmu, Aku mengasihi segala bangsa.”

Jika demikian, maka gereja pun dipanggil:
· mengasihi mereka yang berbeda,
· membuka pintu bagi yang tersisih,
· membawa damai kepada mereka yang bermusuhan,
· menjadi terang bukan hanya di dalam gedung gereja, tetapi keluar ke dunia.

Kasih Tuhan bukan hanya untuk diimani, tetapi untuk dibagikan.

Kasih yang Sama, Panggilan yang Sama
Maleakhi 1:1–6 adalah undangan untuk melihat kembali:
1. Allah mengasihi kita, meski keadaan hidup kita membingungkan.
2. Kasih Allah melampaui batas bangsa dan kelompok mana pun.
3. Karena Ia mengasihi, maka Ia layak dihormati dengan ibadah dan hidup yang tulus.

Tuhan yang mengasihi Israel, Tuhan yang juga mengasihi Edom sekalipun dihukum, Tuhan yang mengasihi segala bangsa, adalah Tuhan yang sama yang hari ini berkata kepada kita: “Aku mengasihi kamu.”

Pertanyaannya:
Apakah kita mau mempercayai kasih itu?
Dan apakah kita mau menjadi alat kasih Tuhan bagi dunia?





1 komentar:

Dunia dan Segala Isinya Milik TUHAN (Mazmur 50:7-15)

Bahan khotbah Minggu, 07 Juni 2026 Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo 7 “Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hen...