Bahan Khotbah Minggu, 22 Maret 2026
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo
1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang.
2 Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.
3 Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”
4 Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!
5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.
6 Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”
7 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.
8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.
9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.”
10 Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.
11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.
12 Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.
13 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.
14 Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.”
Pendahuluan
Ada masa-masa dalam hidup ketika manusia tidak lagi berkata, “Saya lelah,” tetapi berkata dalam hati, “Saya sudah habis.”Ada saat ketika seseorang tidak lagi hanya sedih, tetapi merasa kosong.
Ada keluarga yang dari luar masih berdiri, tetapi di dalamnya sudah dingin.
Ada pelayanan yang tetap berjalan, tetapi sukacitanya hilang.
Ada gereja yang masih ramai, tetapi doanya tidak lagi hangat.
Ada orang-orang yang masih tersenyum, tetapi di dalam jiwanya sepi.
Ada umat yang masih datang beribadah, tetapi hatinya berkata: “Tuhan, saya kering.”
Dan justru kepada orang-orang seperti itulah firman hari ini datang.
Yehezkiel 37 bukanlah firman yang lahir dari suasana tenang. Ini bukan teks yang lahir dari masa kejayaan. Ini adalah firman yang lahir dari masa krisis yang sangat dalam. Umat Allah sedang berada di pembuangan. Yerusalem telah jatuh. Bait Allah telah dihancurkan. Tanah air telah hilang. Raja tidak berdaya. Simbol-simbol iman mereka runtuh. Dan mereka bertanya:
“Apakah Tuhan masih ada?”
“Apakah Tuhan masih setia?”
“Apakah masih ada masa depan bagi kami?”
Kita harus memahami bahwa bagi umat Yehuda waktu itu, pembuangan bukan sekadar pindah tempat. Pembuangan adalah kehancuran identitas. Sebelum Babel, kerajaan utara, yaitu Israel, sudah lebih dahulu jatuh ke tangan Asyur pada tahun 722 SM. Banyak dari mereka hilang dalam sejarah. Maka ketika Yehuda masuk pembuangan Babel pada tahun 597 SM dan kemudian Yerusalem dihancurkan pada tahun 587/586 SM, mereka tahu: ini bisa berarti tamat. Ini bisa berarti tidak ada hari esok.
Yehezkiel sendiri adalah seorang imam yang dibuang pada gelombang pertama. Ia hidup di tanah asing. Ia tidak bernubuat dari tempat nyaman. Ia bernubuat dari tengah trauma. Dan pasal 37 muncul setelah sebelumnya kitab ini banyak berbicara tentang penghukuman. Tetapi setelah berita jatuhnya Yerusalem diterima, arah kitab berubah. Dari penghukuman menuju pemulihan. Dari murka menuju harapan. Dari kematian menuju kehidupan.
Maka kalau hari ini kita datang ke hadapan Tuhan dengan hati yang lelah, dengan keluarga yang retak, dengan pelayanan yang kering, dengan harapan yang memudar, firman ini berkata kepada kita: Tuhan belum selesai. Kata terakhir bukan milik kehancuran. Kata terakhir tetap milik Tuhan.
Melalui Yehezkiel 37 kita akan melihat empat hal besar:
Pertama, Tuhan membawa umat melihat kenyataan kematian dengan jujur.
Kedua, Tuhan memulai pemulihan melalui firman-Nya.
Ketiga, Tuhan memberi napas kehidupan melalui Roh-Nya.
Keempat, Tuhan memulihkan umat supaya mereka mengenal Dia.
Tuhan Membawa Umat Melihat Kenyataan Kematian dengan Jujur (ay. 1-3)
Firman Tuhan berkata bahwa tangan Tuhan meliputi Yehezkiel, dan Roh Tuhan membawa dia ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang. Bukan satu dua tulang. Bukan beberapa kerangka. Tetapi amat banyak. Dan bukan tulang yang baru, melainkan amat kering.Ini bukan sekadar penglihatan yang menyeramkan. Ini adalah gambaran yang sangat jujur tentang keadaan umat. Tulang-tulang kering berarti kehidupan yang sudah lama berlalu. Harapan yang sudah lapuk. Kehancuran yang sudah begitu parah sehingga secara manusia tidak ada kemungkinan pulih.
Dan yang menarik: Tuhan tidak langsung menyembunyikan pemandangan itu dari Yehezkiel. Tuhan tidak menutupi realitas. Tuhan justru membawa nabi itu berjalan berkeliling, melihat semuanya dengan saksama. Seolah-olah Tuhan berkata:
“Lihatlah baik-baik.”
“Jangan tutupi lukanya.”
“Jangan kecilkan kehancurannya.”
“Jangan pura-pura semuanya baik-baik saja.”
Ini penting. Mengapa? Karena sering kali kita ingin dipulihkan tanpa terlebih dahulu jujur. Kita ingin sembuh, tetapi tidak mau mengakui luka. Kita ingin hidup baru, tetapi tidak mau mengakui bahwa ada yang mati dalam hidup kita. Kita ingin Tuhan bertindak, tetapi kita masih sibuk menutupi kenyataan. Tetapi Tuhan dalam Yehezkiel 37 tidak bekerja di atas kepura-puraan. Dia bekerja di atas kejujuran.
Mungkin hari ini ada yang harus jujur di hadapan Tuhan:
“Tuhan, doa saya kering.”
“Tuhan, hati saya dingin.”
“Tuhan, rumah tangga saya sedang retak.”
“Tuhan, pelayanan saya tinggal bentuk.”
“Tuhan, saya masih datang beribadah, tetapi di dalam saya lelah.”
“Tuhan, saya masih bernyanyi, tetapi jiwa saya letih.”
“Tuhan, saya masih terlihat kuat, tetapi sebenarnya saya hampir menyerah.”
Tuhan tidak takut dengan pengakuan seperti itu. Justru salah satu kasih karunia terbesar adalah ketika Tuhan membawa kita untuk berani melihat keadaan kita yang sebenarnya.
Yehezkiel sebagai imam seharusnya menjauhi mayat karena urusan kenajisan. Tetapi kali ini Tuhan justru membawa dia ke tengah-tengah kematian itu. Artinya apa? Artinya krisis umat ini bukan krisis kecil. Ini krisis total. Ini kematian kolektif. Ini kehancuran yang tidak bisa diselesaikan dengan nasihat ringan.
Lalu Tuhan bertanya: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Kalau kita yang ditanya, mungkin kita akan segera menjawab, “Tidak mungkin.” Tetapi Yehezkiel menjawab dengan sangat bijaksana: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!”
Jawaban ini sangat indah. Yehezkiel tidak mengingkari kenyataan. Tetapi ia juga tidak menyerah kepada kenyataan. Ia menyerahkan perkara itu kepada Tuhan. Ini iman yang sejati. Iman bukan berkata, “Tidak ada masalah.” Iman juga bukan berkata, “Semua pasti mudah.” Iman berkata, “Masalah ini nyata. Kematian ini nyata. Kekeringan ini nyata. Tetapi Tuhan masih lebih nyata.”
Ada banyak hal yang bagi manusia tampak mustahil: hubungan yang terlalu rusak; hati yang terlalu pahit; pelayanan yang terlalu kering; gereja yang terlalu letih; masa lalu yang terlalu gelap. Tetapi firman Tuhan hari ini berkata: yang mustahil bagi manusia belum tentu mustahil bagi Tuhan.
Maka pelajaran pertama dari perikop ini adalah: jangan takut jujur di hadapan Tuhan. Kalau hidup kita memang seperti lembah tulang kering, katakan itu kepada Tuhan. Jangan menyangkal. Jangan menutupi. Jangan berpura-pura. Karena pemulihan tidak dimulai dari kepandaian kita menyusun kata-kata rohani. Pemulihan dimulai dari perjumpaan yang jujur antara kehancuran manusia dan belas kasihan Allah.
Tuhan Memulai Pemulihan Melalui Firman-Nya (ay. 4-8)
Setelah Yehezkiel melihat lembah itu dan menjawab pertanyaan Tuhan, Tuhan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Tuhan tidak menyuruh Yehezkiel memungut tulang-tulang itu satu per satu. Tuhan tidak menyuruh dia membuat strategi. Tuhan tidak menyuruh dia mengatur pasukan. Tuhan berkata: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini… hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!” Secara manusia ini terdengar aneh. Tulang tidak punya telinga. Tulang tidak bisa mendengar. Tulang tidak bisa merespons. Tetapi justru di situlah inti berita ini: firman Tuhan tidak bergantung pada kemampuan pendengarnya. Firman Tuhan sendirilah yang menciptakan kemungkinan baru.Karena itu, ketika hidup terasa mati, yang paling kita butuhkan bukan pertama-tama nasihat manusia, tetapi firman Tuhan. Bukan sekadar hiburan. Bukan sekadar motivasi. Bukan sekadar semangat sesaat. Yang kita butuhkan adalah firman Tuhan yang hidup. Ada keluarga yang tidak kekurangan uang, tetapi kekurangan firman. Ada gereja yang tidak kekurangan program, tetapi kekurangan firman. Ada orang percaya yang tidak kekurangan kesibukan rohani, tetapi kekurangan firman. Dan ketika firman hilang, yang tersisa hanyalah aktivitas tanpa kehidupan.
Perhatikan juga bahwa Tuhan menjanjikan proses: urat, daging, kulit, lalu napas. Pemulihan terjadi bertahap. Ini penting. Kadang kita ingin Tuhan bekerja seketika. Kadang kita berdoa hari ini, besok mau semuanya selesai. Tetapi dalam teks ini, Tuhan menunjukkan bahwa pemulihan bisa berjalan dalam proses. Mungkin hari ini Tuhan belum mengubah semuanya sekaligus. Tetapi jangan salah mengira bahwa Tuhan tidak bekerja. Kalau tulang mulai bertemu tulang, itu sudah pekerjaan Tuhan. Kalau yang tercerai-berai mulai tersusun, itu sudah pekerjaan Tuhan. Kalau hati yang keras mulai dilunakkan, itu sudah pekerjaan Tuhan. Kalau orang yang lama jauh dari Tuhan mulai rindu berdoa lagi, itu sudah pekerjaan Tuhan. Jangan remehkan proses ilahi.
Tetapi kemudian ayat 8 memberi satu kalimat yang sangat tajam: “tetapi mereka belum bernafas.” Nah, di sini kita harus berhenti sebentar. Tubuh sudah terbentuk. Kerangka sudah tersusun. Urat sudah ada. Daging sudah tumbuh. Kulit sudah menutup. Tetapi mereka belum hidup. Apa artinya? Artinya, bentuk belum tentu sama dengan hidup. Struktur belum tentu sama dengan kehidupan. Kerapian belum tentu sama dengan kepenuhan Roh.
Ini teguran yang sangat keras bagi banyak gereja dan banyak orang percaya. Kita bisa punya bentuk agama. Kita bisa punya liturgi. Kita bisa punya pelayanan. Kita bisa punya jabatan. Kita bisa punya kegiatan. Kita bisa punya kalender gerejawi yang padat. Tetapi belum tentu hidup.
Kita bisa punya “tubuh” gereja, tetapi belum punya “napas” gereja. Kita bisa punya “bentuk” iman, tetapi belum punya “kehidupan” iman. Kita bisa punya “penampilan” rohani, tetapi belum punya “daya” rohani. Maka pertanyaan firman Tuhan untuk kita saat ini adalah: Apakah hidup kita hanya punya bentuk, atau sungguh punya kehidupan dari Tuhan? Apakah ibadah kita hanya berjalan, atau benar-benar hidup? Apakah doa kita hanya diucapkan, atau sungguh bernafas? Apakah pelayanan kita hanya terorganisasi, atau sungguh bernyawa? Sering kali yang paling berbahaya bukan mati total. Yang paling berbahaya adalah kelihatan hidup, padahal sebenarnya belum hidup. Karena itu, pelajaran kedua adalah: firman Tuhan memulai pemulihan, tetapi kita tidak boleh berhenti pada bentuk luar. Tuhan tidak hanya mau membuat kita tampak baik. Tuhan mau membuat kita sungguh hidup.
Tuhan Memberi Napas Kehidupan melalui Roh-Nya (ay. 9-10)
Setelah tubuh-tubuh itu terbentuk, Tuhan berkata lagi kepada Yehezkiel: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu… datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.” Di sini muncul kata yang sangat penting dalam perikop ini, yaitu kata Ibrani ruach. Kata ini bisa berarti roh, angin, atau napas. Di ayat 1 lebih dekat kepada Roh. Di ayat 5-6 dan 8 lebih dekat kepada napas. Di ayat 9 ada gema angin dari empat penjuru. Dan di ayat 14 kembali lagi kepada Roh Tuhan. Permainan makna ini menegaskan satu hal: sumber kehidupan hanyalah Tuhan.Yang membuat tubuh itu hidup bukan tubuh itu sendiri. Yang membuat tulang itu hidup bukan tulang itu sendiri. Yang membuat umat itu hidup bukan umat itu sendiri. Hidup datang dari luar dirinya, yaitu dari Tuhan. Inilah inti dari seluruh perikop ini: tanpa napas Allah, semuanya hanya tulang. tanpa Roh Allah, semuanya hanya kerangka. Dan ini sangat relevan bagi kita. Kita sering mengira hidup rohani akan datang dari kecerdasan kita. Dari strategi kita. Dari organisasi kita. Dari pengaruh kita. Dari pengalaman kita. Dari pendidikan kita. Tetapi Yehezkiel 37 berkata: Tidak. Hidup sejati berasal dari Tuhan. Bahkan tubuh yang sudah lengkap pun tidak bisa hidup tanpa napas. Apalagi hidup rohani.
Ada banyak gereja yang kuat secara organisasi, tetapi lemah secara doa. Ada banyak orang yang kaya pengalaman gereja, tetapi miskin kehadiran Tuhan. Ada banyak pelayan yang pandai berbicara, tetapi jiwanya kering. Ada banyak jemaat yang tahu banyak hal tentang agama, tetapi sedikit mengalami kuasa Tuhan. Karena itu kita perlu berseru: “Tuhan, hembuskanlah Roh-Mu.” “Tuhan, jangan biarkan aku hanya punya pengetahuan tanpa kehidupan.” “Tuhan, jangan biarkan kami hanya punya gereja tanpa napas.” “Tuhan, jangan biarkan pelayanan ini hanya bergerak, tetapi tidak hidup.” Ayat 10 berkata, ketika napas itu masuk, mereka hidup dan berdiri menjadi suatu tentara yang sangat besar.
Ini indah sekali. Yang tadinya tercerai-berai, sekarang berdiri bersama. Yang tadinya kalah, sekarang tegak. Yang tadinya hancur, sekarang menjadi suatu komunitas yang hidup. Jadi pemulihan Tuhan bukan hanya pemulihan individu. Tuhan juga memulihkan umat. Tuhan mengumpulkan yang tercerai-berai. Tuhan membangun kembali persekutuan. Tuhan memberi identitas bersama. Mungkin ada keluarga yang retak. Mungkin ada jemaat yang renggang. Mungkin ada relasi yang dingin. Mungkin ada persekutuan yang kehilangan daya. Firman hari ini berkata: Tuhan sanggup tidak hanya menghidupkan satu pribadi, tetapi membangunkan kembali satu umat.
Dan perhatikan: mereka disebut “orang-orang yang terbunuh.” Artinya ini bukan adegan abstrak. Ini gambaran umat yang kalah, dipermalukan, dibuang, dan dibiarkan tanpa kehormatan. Tetapi justru dari titik penghinaan paling rendah itu Tuhan memulai pemulihan. Bukankah ini menguatkan kita? Tuhan tidak menunggu kita pulih dulu baru mendatangi kita. Tuhan mendatangi kita justru ketika kita paling hancur. Tuhan tidak menunggu kita kuat dulu baru memberi Roh-Nya. Tuhan memberi Roh-Nya kepada yang lemah, kepada yang kering, kepada yang merasa habis. Maka pelajaran ketiga adalah: Roh Tuhan adalah sumber kehidupan dan pembaruan. Tanpa Roh-Nya, kita hanya bentuk. Dengan Roh-Nya, kita hidup.
Tuhan Memulihkan Umat Supaya Mereka Mengenal Dia (ay. 11-14)
Lalu Tuhan sendiri menjelaskan arti penglihatan itu: “Tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel.” Ini penting sekali. Artinya penglihatan ini pertama-tama berbicara tentang pemulihan umat Allah yang merasa dirinya sudah tamat. Bukan pertama-tama tentang kebangkitan individu pada akhir zaman, tetapi tentang bangsa yang sudah merasa mati, lalu dibangkitkan kembali oleh Tuhan. Ada penekanan bahwa yang dibangkitkan itu “seluruh kaum Israel.” Itu artinya cakupannya luas: utara dan selatan, Israel dan Yehuda. Jadi ini adalah visi pemulihan umat Allah secara menyeluruh.Lalu Tuhan mengutip ratapan mereka: “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.” Inilah suara hati umat. Ini bukan sekadar kalimat. Ini ratapan. Ini pengakuan kehancuran. Ini bahasa orang yang merasa tidak ada masa depan. Tetapi lihatlah betapa lembutnya Tuhan. Tuhan mendengar keluhan itu. Tuhan tidak memotongnya. Tuhan tidak berkata, “Jangan pesimis!” Tuhan tidak berkata, “Sudahlah, jangan lebay!” Tuhan justru menjawabnya dengan janji. “Aku membuka kubur-kuburmu… Aku membangkitkan kamu… Aku membawa kamu ke tanah Israel… Aku memberikan Roh-Ku ke dalammu… kamu akan hidup kembali.”
Perhatikan baik-baik: subjeknya selalu Tuhan. Aku membuka. Aku membangkitkan. Aku membawa. Aku memberikan Roh-Ku. Artinya pemulihan bukan proyek manusia. Pemulihan adalah karya Tuhan. Kalau hari ini ada yang sedang merasa hidupnya seperti kubur tertutup, dengarlah firman ini: Tuhan sanggup membuka kubur itu. Kalau ada yang merasa hidupnya buntu, Tuhan sanggup membuka jalan itu. Kalau ada yang merasa dirinya sudah habis, Tuhan sanggup mengangkat lagi.
Janji Tuhan ini telah nyata dan akan terus nyata. Ketika Babel jatuh ke tangan Persia pada 539 SM, Koresh mengizinkan orang Yahudi kembali dan membangun kembali kehidupan mereka. Jadi ini bukan janji kosong. Ini janji yang digenapi Tuhan dalam sejarah. Tetapi puncaknya bukan hanya bahwa mereka kembali. Puncaknya bukan hanya bahwa keadaan membaik. Puncaknya ada dalam kalimat yang diulang: “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”
Nah, ini tujuan akhir pemulihan. Tuhan tidak memulihkan kita hanya supaya hidup kita lebih nyaman. Tuhan tidak memulihkan kita hanya supaya masalah selesai. Tuhan tidak memulihkan kita hanya supaya kita lega. Tuhan memulihkan kita supaya kita mengenal Dia. Kadang kita hanya menginginkan pertolongan Tuhan, tetapi tidak sungguh menginginkan Tuhan. Kita ingin masalah selesai, tetapi tidak ingin hidup dekat dengan Dia. Kita ingin dipulihkan, tetapi tidak ingin diubahkan. Padahal Yehezkiel 37 berkata: pemulihan yang sejati harus membawa kita kembali ke relasi dengan Tuhan.
Kalau Tuhan memulihkan keluarga kita, tujuannya supaya keluarga itu mengenal Tuhan. Kalau Tuhan memulihkan pelayanan kita, tujuannya supaya pelayanan itu memuliakan Tuhan. Kalau Tuhan memulihkan gereja kita, tujuannya supaya gereja itu hidup bagi Tuhan. Kalau Tuhan memulihkan hati kita, tujuannya supaya hati itu makin melekat kepada Tuhan. Jadi pelajaran keempat adalah: pemulihan Allah bertujuan supaya umat mengenal Dia.
Jangan takut mengakui kekeringanmu
Kalau hari ini ada area hidup yang kering, jangan menyangkal. Bawalah kepada Tuhan. Tuhan tidak jijik dengan lembah tulang kering. Tuhan justru bekerja di sana.Kembalilah kepada firman Tuhan
Saat hidup terasa mati, jangan hanya mencari hiburan. Carilah firman. Saat hati terasa kosong, jangan hanya mencari pelarian. Carilah firman. Saat keluarga mulai renggang, bukalah firman. Saat gereja terasa lelah, kembalilah kepada firman. Karena hidup mulai bergerak ketika firman Tuhan diucapkan.Jangan puas dengan bentuk lahiriah
Ini teguran yang sangat penting. Jangan puas kalau ibadah hanya ramai.Jangan puas kalau program hanya banyak. Jangan puas kalau struktur kelihatan baik-baik. Tanyakan: apakah ada napas kehidupan dari Tuhan?
Berserulah meminta Roh Tuhan bekerja
Tidak ada pembaruan sejati tanpa Roh Allah. Kebangunan rohani tidak lahir dari kecerdikan manusia. Kehidupan yang sejati datang dari Tuhan.Maka berdoalah: “Tuhan, hembuskanlah Roh-Mu.” “Tuhan, hidupkan aku kembali.” “Tuhan, hidupkan keluarga kami.” “Tuhan, hidupkan gereja-Mu.”
Ingat bahwa tujuan pemulihan adalah pengenalan akan Tuhan
Jangan berhenti pada kelegaan. Masuklah pada penyembahan. Jangan berhenti pada berkat. Masuklah pada ketaatan. Jangan berhenti pada pulihnya keadaan. Masuklah pada pulihnya relasi dengan Tuhan.Penutup
Yehezkiel 37:1-14 adalah kabar baik bagi umat yang merasa hidupnya telah menjadi lembah tulang-tulang kering. Dalam konteks aslinya, perikop ini berbicara kepada Israel yang dibuang, hancur, dan putus asa. Tetapi pesannya tetap kuat bagi kita hari ini.Tuhan adalah Allah yang membawa kita melihat kenyataan dengan jujur. Tuhan adalah Allah yang memulai pemulihan melalui firman-Nya. Tuhan adalah Allah yang memberi napas kehidupan melalui Roh-Nya. Tuhan adalah Allah yang memulihkan kita supaya kita mengenal Dia. Karena itu berita gembira hari ini adalah: selama Tuhan masih berfirman dan Roh-Nya masih bekerja, tidak ada kehidupan yang terlalu kering untuk dipulihkan. TUHAN tetap Pemberi Napas Kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar