Kamis, 26 Maret 2026

Yesus Kristus adalah Tuhan (Filipi 2:5-11)

Bahan Khotbah Minggu, 29 Maret 2026
Disiapkan oleh: Pdt. Alokasih Gulo

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Hari ini kita merayakan Minggu Palmarum. Kita mengingat Yesus masuk ke Yerusalem. Ia disambut dengan sorak-sorai. Orang banyak melambaikan daun palem. Mereka berseru, “Hosana!” Tetapi kita tahu, tidak lama kemudian suasana berubah. Dari pujian menuju penolakan. Dari sambutan meriah menuju salib.

Karena itu, Minggu Palmarum mengajarkan satu hal penting: Yesus memang Raja, tetapi Ia adalah Raja yang berjalan menuju penderitaan. Ia adalah Tuhan, tetapi ketuhanan-Nya dinyatakan melalui kerendahan hati, ketaatan, dan salib.

Tema kita hari ini adalah: Yesus Kristus adalah Tuhan.

Pertanyaannya: apa arti pengakuan itu bagi hidup kita? Melalui Filipi 2:5-11, saya ingin mengajak kita melihat tiga hal.
1. Yesus adalah Tuhan yang merendahkan diri
Paulus berkata: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Artinya, Paulus tidak hanya berbicara tentang siapa Yesus, tetapi juga bagaimana jemaat harus hidup. Jemaat dipanggil untuk memiliki sikap hidup seperti Kristus.

Lalu Paulus berkata bahwa Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Artinya, Yesus tidak memakai kedudukan-Nya untuk keuntungan diri-Nya sendiri. Ia tidak memaksakan hak-Nya. Ia tidak menggenggam kemuliaan-Nya demi diri-Nya sendiri.

Di sinilah Yesus berbeda dari dunia. Dunia berkata: pertahankan hakmu, jaga posisimu, cari kehormatanmu. Tetapi Yesus justru merendahkan diri. Dan itulah ironi Palmarum. Orang banyak menyambut Dia seperti raja, tetapi Yesus masuk ke Yerusalem bukan untuk merebut kuasa. Ia masuk ke Yerusalem untuk menuju salib.

Sering kali kita juga seperti orang banyak itu. Kita mau Yesus, tetapi Yesus yang sesuai keinginan kita. Kita mau Tuhan, tetapi Tuhan yang mendukung rencana kita. Padahal Palmarum mengajarkan: Yesus bukan alat bagi ambisi kita. Yesus adalah Tuhan yang harus kita taati.

Maka pertanyaannya: Apakah kita sungguh membiarkan Yesus menjadi Tuhan? Atau kita masih ingin Dia mengikuti kehendak kita?

2. Yesus adalah Tuhan yang taat sampai mati
Ayat 7-8 berkata: “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba ... Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Yesus mengambil rupa seorang hamba. Ia merendahkan diri. Ia taat sampai mati. Perhatikan, inti jalan Yesus adalah ketaatan. Yesus pergi ke salib bukan karena Ia kalah. Yesus pergi ke salib karena Ia taat kepada kehendak Bapa.

Di Getsemani Ia berdoa: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Inilah arti pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan: kita belajar taat. Tidak cukup hanya menyebut nama-Nya. Tidak cukup hanya memuji Dia. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka kehendak-Nya harus lebih penting daripada kehendak kita.

Dan Paulus menambahkan: “bahkan sampai mati di kayu salib.” Salib adalah lambang kehinaan. Jadi Yesus tidak hanya turun sedikit. Ia turun sedalam-dalamnya. Dari kemuliaan menuju kehambaan. Dari penghormatan menuju penghinaan. Itulah Tuhan kita. Karena itu, kalau kita mengaku Yesus adalah Tuhan, kita juga dipanggil untuk mengikuti Dia dalam ketaatan.

Dalam hidup sehari-hari, ketaatan itu nyata:
tetap jujur walau rugi,
mengampuni walau terluka,
melayani walau tidak dihargai,
tetap setia walau berat.

Taat berarti berani berkata: “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah.”

3. Yesus adalah Tuhan yang ditinggikan
Ayat 9-11 berkata: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia ... dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan.”

Sesudah jalan salib, ada kemuliaan. Sesudah kerendahan, ada peninggian. Tetapi perhatikan: Yesus tidak meninggikan diri-Nya sendiri. Allah yang meninggikan Dia. Dunia mengajarkan kita untuk mengangkat diri sendiri. Tetapi Yesus menunjukkan jalan yang berbeda: rendah hati, taat, lalu Allah yang bertindak.

Lalu Paulus berkata: “Yesus Kristus adalah Tuhan.” Ini pengakuan yang besar.Artinya:
bukan uang yang jadi tuan,
bukan ego yang jadi tuan,
bukan kuasa dunia yang jadi tuan,
tetapi Yesus Kristus adalah Tuhan.

Kalau Yesus adalah Tuhan, maka hidup kita milik-Nya. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka keputusan kita harus tunduk kepada-Nya. Kalau Yesus adalah Tuhan, maka kita tidak bisa hidup sesuka hati.

Pada Minggu Palmarum ini kita melihat bahwa Yesus yang masuk ke Yerusalem adalah:
· Tuhan yang merendahkan diri,
· Tuhan yang taat sampai mati,
· Tuhan yang ditinggikan Allah.

Karena itu, saat kita berkata: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” jangan biarkan itu hanya menjadi ucapan bibir. Biarlah itu menjadi pengakuan hidup:
“Tuhan, pimpin aku.”
“Tuhan, ajar aku rendah hati.”
“Tuhan, ajar aku taat.”
“Tuhan, jadilah Tuhan atas seluruh hidupku.”

Jangan hanya menyambut Yesus dengan daun palem. Sambutlah Dia dengan hati yang tunduk. Sebab pada akhirnya, setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan.

Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yesus Bangkit pada Hari Ketiga – Maoso Yesu ba Ngaluo Sitölu (1 Korintus 15:1-11)

Bahan Khotbah Minggu Paskah I, 05 April 2026 Disiapkan oleh: pdt. Alokasih Gulo 1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan k...