Bahan Khotbah Minggu, 31 Mei 2026
Disusun oleh: Pdt. Alokasih Gulo
16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Firman Tuhan dalam Matius 28:16-20 membawa kita ke sebuah peristiwa yang sangat penting. Yesus sudah bangkit dari antara orang mati. Para murid pergi ke Galilea, ke sebuah bukit yang telah ditunjukkan Yesus. Di sana mereka bertemu dengan Tuhan yang bangkit. Mereka menyembah Dia, tetapi Alkitab juga berkata: “beberapa orang ragu-ragu.”
Murid-murid itu bukan orang-orang yang selalu kuat. Mereka pernah takut. Mereka pernah lari meninggalkan Yesus. Mereka pernah bingung. Bahkan ketika melihat Yesus yang bangkit, masih ada yang ragu. Tetapi Yesus tidak menolak mereka. Yesus tidak berkata, “Karena kamu masih ragu, kamu tidak layak melayani.” Tidak. Justru Yesus mendekati mereka.
Inilah kabar baik bagi kita semua. Mungkin ada di antara kita yang datang ke gereja hari ini dengan hati yang lelah. Ada yang memikirkan sawahnya: apakah panen tahun ini berhasil? Ada yang memikirkan harga beras, harga pupuk, biaya sekolah anak, utang keluarga, kesehatan orang tua, dan kebutuhan hidup sehari-hari. Ada yang imannya sedang kuat, tetapi ada juga yang imannya sedang goyah. Ada yang menyembah Tuhan, tetapi di dalam hati masih bertanya: “Tuhan, mengapa hidup saya seberat ini?”
Firman Tuhan berkata: Yesus mendekati murid-murid yang menyembah, tetapi juga masih ragu. Artinya, Tuhan tidak jauh dari orang yang sedang bergumul. Tuhan tidak meninggalkan petani kecil yang cemas akan hujan dan hasil panen. Tuhan tidak melupakan ibu yang berjuang mengatur uang belanja. Tuhan tidak meninggalkan pemuda yang belum mendapat pekerjaan. Tuhan tidak menjauh dari keluarga yang sedang sakit, berduka, atau tertekan.
Lalu Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Ini adalah dasar iman kita. Kuasa tertinggi bukan pada uang. Kuasa tertinggi bukan pada pejabat. Kuasa tertinggi bukan pada tanah, jabatan, atau kekuatan manusia. Kuasa tertinggi ada pada Yesus Kristus yang bangkit.
Kuasa Yesus bukan kuasa untuk menindas. Kuasa Yesus adalah kuasa untuk menyelamatkan. Ia menyembuhkan orang sakit. Ia memberi makan orang lapar. Ia mengampuni orang berdosa. Ia memulihkan orang yang hancur. Ia mati di kayu salib bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kita. Maka kalau kita menjadi saksi Kristus, kita tidak boleh menjadi orang yang sombong, kasar, memaksa, atau merendahkan orang lain. Saksi Kristus harus membawa kasih, pengampunan, kejujuran, dan pengharapan.
Sesudah menyatakan kuasa-Nya, Yesus memberi perintah: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Banyak orang mengira bahwa perintah ini hanya untuk pendeta, SNK, guru jemaat, atau penginjil. Padahal perintah ini diberikan kepada seluruh murid. Artinya, setiap orang percaya dipanggil menjadi saksi.
Tetapi bagaimana menjadi saksi di desa kita? Apakah semua orang harus pergi jauh ke kota atau ke luar negeri? Tidak selalu. Ada orang yang memang dipanggil pergi jauh. Tetapi banyak dari kita dipanggil menjadi saksi di tempat kita hidup: di rumah, di sawah, di kebun, di pasar, di sekolah, di lingkungan desa, dalam pesta adat, dalam pertemuan keluarga, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang petani menjadi saksi Allah Tritunggal ketika ia bekerja dengan jujur, tidak menipu timbangan, tidak merampas batas tanah orang lain, tidak menyimpan dendam kepada tetangga, dan tetap bersyukur walaupun hasil panen tidak selalu banyak.
Seorang ibu menjadi saksi Allah Tritunggal ketika ia mendidik anak-anaknya dalam doa, mengajarkan mereka takut akan Tuhan, menjaga rumah tangga dengan kasih, dan tetap kuat walaupun beban hidup berat.
Seorang pemuda menjadi saksi Allah Tritunggal ketika ia menjauhi mabuk-mabukan, perjudian, kekerasan, dan pergaulan yang merusak, lalu memakai tenaganya untuk belajar, bekerja, melayani, dan menghormati orang tua.
Seorang anak menjadi saksi Allah Tritunggal ketika ia taat kepada orang tua, rajin belajar, tidak malas ke gereja, dan tidak malu mengaku sebagai anak Tuhan.
Jadi, menjadi saksi bukan hanya berdiri di mimbar. Menjadi saksi adalah hidup yang memperlihatkan siapa Tuhan kita.
Yesus juga berkata: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Di sinilah kita melihat dasar tema kita: Allah Tritunggal. Kita dibaptis bukan hanya dalam nama sebuah organisasi gereja. Kita dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Allah Bapa adalah Pencipta dan Pemelihara hidup kita. Dialah yang memberi tanah, hujan, matahari, benih, kesehatan, dan napas kehidupan. Seorang petani tahu bahwa manusia bisa mencangkul, menanam, dan merawat, tetapi pertumbuhan datang dari Tuhan. Kita bisa bekerja keras, tetapi hidup tetap anugerah Allah. Maka menjadi saksi Allah Bapa berarti hidup dengan rasa syukur, tidak serakah, dan memelihara ciptaan Tuhan.
Allah Anak, yaitu Yesus Kristus, adalah Juruselamat kita. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang. Menjadi saksi Yesus berarti kita hidup dalam kasih yang rela berkorban. Kalau ada tetangga sakit, kita peduli. Kalau ada keluarga berduka, kita hadir. Kalau ada orang jatuh dalam dosa, kita menegur dengan kasih, bukan menghancurkan. Kalau ada yang miskin, kita tidak menghina, tetapi menolong sesuai kemampuan.
Allah Roh Kudus adalah Penolong dan Penghibur. Roh Kudus menguatkan kita ketika lemah, menghibur ketika sedih, menegur ketika salah, dan menuntun ketika bingung. Banyak orang kecil mungkin tidak punya banyak uang, tetapi orang yang dipenuhi Roh Kudus punya kekuatan batin yang besar. Ia tidak mudah menyerah. Ia tidak cepat putus asa. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tetap berharap kepada Tuhan.
Karena itu, menjadi saksi Allah Tritunggal berarti hidup dalam karya Bapa yang memelihara, karya Anak yang menyelamatkan, dan karya Roh Kudus yang menguatkan.
Namun Yesus tidak hanya berkata, “Baptislah.” Ia juga berkata: “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Perhatikan kata “melakukan.” Iman Kristen bukan hanya untuk didengar, bukan hanya untuk dihafal, bukan hanya untuk dinyanyikan, tetapi untuk dilakukan.
Apa yang harus dilakukan? Mengasihi musuh. Mengampuni. Tidak membalas dendam. Menjadi garam dan terang. Tidak munafik. Tidak kuatir berlebihan. Mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Memperhatikan orang kecil. Menjaga kesucian hidup. Berkata benar. Setia dalam keluarga. Melayani dengan rendah hati.
Gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat ibadah hari Minggu. Gereja harus menjadi komunitas murid. Artinya, setelah ibadah selesai, kesaksian kita baru dimulai. Kesaksian itu terlihat ketika kita pulang ke rumah. Terlihat ketika suami berbicara kepada istri. Terlihat ketika orang tua mendidik anak. Terlihat ketika kita bekerja di sawah. Terlihat ketika kita menghadapi konflik keluarga. Terlihat ketika kita memakai uang. Terlihat ketika kita memperlakukan orang miskin, janda, yatim, lansia, dan mereka yang dianggap lemah.
Kadang-kadang kesaksian terbesar bukanlah kata-kata yang panjang, tetapi hidup yang setia. Orang mungkin tidak membaca Alkitab setiap hari, tetapi mereka membaca hidup kita. Mereka melihat apakah orang Kristen jujur atau tidak. Mereka melihat apakah orang gereja suka berdamai atau suka bertengkar. Mereka melihat apakah pelayan Tuhan rendah hati atau suka dihormati. Mereka melihat apakah keluarga Kristen mempraktikkan kasih atau hanya berbicara tentang kasih.
Di akhir perikop ini, Yesus memberikan janji yang sangat kuat: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Inilah penghiburan terbesar kita. Yesus tidak hanya memberi perintah, tetapi juga memberi penyertaan. Ia tidak berkata, “Pergilah sendiri.” Ia berkata, “Aku menyertai kamu.” Ketika hasil panen kurang, Aku menyertai kamu. Ketika keluarga sakit, Aku menyertai kamu. Ketika ekonomi sulit, Aku menyertai kamu. Ketika anak-anakmu jauh dari rumah, Aku menyertai kamu. Ketika pelayanan terasa berat, Aku menyertai kamu. Ketika engkau merasa kecil dan tidak berarti, Aku menyertai kamu.
Orang yang disertai Kristus tidak berarti bebas dari masalah. Tetapi orang yang disertai Kristus tidak pernah berjalan sendirian. Sawah bisa kering, harga bisa turun, tubuh bisa lemah, manusia bisa mengecewakan, tetapi janji Tuhan tetap: “Aku menyertai kamu senantiasa.”
Maka hari ini, marilah kita memperbarui panggilan kita. Jangan berkata, “Saya hanya petani kecil.” Jangan berkata, “Saya orang miskin, saya tidak bisa menjadi saksi.” Jangan berkata, “Saya tidak pandai berbicara.” Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari murid yang mau taat.
Mulailah dari rumah. Mulailah dari pekerjaan. Mulailah dari perkataan. Mulailah dari kejujuran. Mulailah dari doa keluarga. Mulailah dari mengampuni. Mulailah dari hadir bagi sesama. Di situlah kita menjadi saksi Allah Tritunggal.
Dunia ini membutuhkan kesaksian gereja. Desa kita, kota kita, daerah kita, jemaat kita, membutuhkan keluarga-keluarga Kristen yang menjadi terang. Anak-anak kita membutuhkan teladan. Orang miskin membutuhkan perhatian. Orang yang putus asa membutuhkan pengharapan. Orang yang terluka membutuhkan kasih. Dan Tuhan memanggil kita semua untuk menjadi saksi-Nya.
Karena itu, pergilah sebagai umat yang disertai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bekerjalah dengan jujur. Layanilah dengan kasih. Ampunilah dengan tulus. Ajarlah anak-anak takut akan Tuhan. Bangunlah gereja yang peduli. Jadilah murid yang memuridkan.
Dan ingatlah: kita tidak berjalan sendiri. Kristus yang bangkit berjalan bersama kita, hari ini, besok, di sawah, di rumah, di gereja, di jalan hidup yang berat, sampai akhir zaman.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar